Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
gagal jalan-jalan


__ADS_3

Defan yang baru saja tiba di kantor, langsung teringat pada Dira. Ia khawatir kalau istrinya itu kenapa-napa di rumah sendiri.


Defan memgambil ponsel di dalam saku, menelepon sang istri lantaran merasa khawatir.


"Halo, kenapa bang? Ada yang ketinggalan?" cecar Dira dalam sambungan telepon.


"Hmm ... enggak, sayang! Gimana keadaanmu? Masih mual? Udah baikan atau belum?" tanya Defan masih mengkhawatirkan istrinya.


"Nggak kok, bang! Udah nggak ada mual lagi," jawab Dira seraya tidur-tiduran di atas ranjang.


"Syukurlah! Abang takut kau kenapa-napa. Abang udah di kantor, ya, yang! Kalau sakit lagi, telepon abang aja," papar Defan.


"Iya, suamiku! Sekarang udah fit lagi kok! Malah nggak ada mual-mual. Yaudah abang kerja dulu sana. Byeee!!" Dira mematikan sambungan telepon itu.


Defan baru duduk di kursi kebesarannya, tiba-tiba Juni datang. Defan memang berangkat lebih pagi hari ini.


"Pagi, pak," sapa Juni, membuat lengkungan lebar di sudut bibir.


"Iya-iya, pagi," balas Defan, mulai mengambil satu berkas untuk dipelajari.


"Pak, Senin bapak sudah siap sidang? Besok kita kan sudah libur. Ketemu lagi hari senin, di ruang sidang, ya, pak?" tutur Juni.


"Siap, semua bukti langsung kau bawa aja, Jun! Nanti di ruang sidang, saya yang memberikan ke hakim."


Defan mulai fokus membahas satu berkas yang menyita perhatiannya pagi itu. Khusus untuk kasus judi online, ia sudah menguasainya.


Jadi, tinggal menunggu saat sidang pertama digelar saja. Defan bahkan optimis bisa memenangkan kasus tersebut.


"Baik, pak!" Juni juga mulai membuka berkas yang ada di meja kerjanya. Keduanya sibuk dengan pekerjaan masing-masing.


*****


Ting Tong ...


Suara bel rumah Dira berbunyi, Dira bahkan sempat tertidur lagi setelah telepon dengan suaminya berakhir. Mendengar bunyi bel itu, Dira mulai membulatkan bola mata, menatap ke langit-langit.


Menunggu suara bel kedua muncul, memastikan bahwa memang benar ada tamu yang datang ke rumah.

__ADS_1


Ting Tong ...


Bel itu berbunyi lagi, Dira langsung beranjak dari kasur. Sebelum keluar kamar, ia melihat jam di dinding.


"Duh, siapa sih pagi-pagi gini bertamu! Ganggu orang aja!" gerutu Dira.


Setelah berada di depan daun pintu, Dira menariknya.


"Taraaaaa!" teriak Carol saat berada di batas ambang pintu.


"Carol! Kok udah datang pagi-pagi," ucap Dira, menoleh ke kanan-ke kiri.


"Loh, kan kau yang suruh! Gimana sih! Giliran aku datang, kau malah terkejut pula," sindir Carol, lalu menyingkirkan tubuh Dira yang menutupi pintu masuk.


Carol menyelonong masuk ke dalam seraya mendorong koper kecil yang berisi baju ganti.


"Kau mau pindahan, Rol?" tanya Dira, membalikkan tubuhnya, menatap Carol penuh selidik.


"Hehe, ini semua baju gantiku selama tiga hari. Terhitung mulai hari ini, ya! Soalnya ada yang maksa datang pagi-pagi ke sini," timpal Carol, meletakkan koper di sudut ruangan, lalu duduk dengan santai di ruang tamu.


Dira menutup daun pintu, berjalan gontai ke arah Carol. Di ruang tamu, mereka berbincang-bincang dulu soal keberangkatan esok pagi.


Dira menggeleng. tiba-tiba rasa mualnya kembali muncul. Ia langsung berlari ke arah wastafel, mencoba memuntahkan isi yang ada di dalam perut.


Namun, usahanya sia-sia, justru tidak ada yang keluar dari mulut itu. Carol langsung berlari, menepuk-nepuk punggung Dira yang terlihat tidak baik-baik saja.


"Kau kenapa? Nggak enak badan?" seloroh Carol, menatap tajam pada Dira.


"Nggak tahu aku, aneh kali perutku ini. Tiba-tiba mual, tiba-tiba hilang. Kayak gitu terus dari mulai bangun pagi," sesal Dira, membasuh mulutnya agar tak ada air liur menempel di sekitar bibir.


"Astaga! Terus gimana nasib kita besok? Jadi jalan-jalan nggak? Suamimu pasti khawatir, kalau kau sakit, bisa-bisa gagal kita jalan-jalan!" lirih Carol, mengajak Dira untuk duduk ke ruang tamu.


"Entahlah! Akupun bingung, Rol! Harus gimana! Kayaknya aku masuk angin sih," terang Dira, merebahkan diri di sofa ruang tamu.


"Ada minyak kayu putih nggak? Biar ku gosok-gosok ke punggungmu!" tandas Carol, mengedarkan pandangan mencari benda yang ia sebutkan.


"Bentar kuambilkan dulu. Di kamar ada sih." Dira berjalan gontai, mengambil minyak kayu putih yang ada di meja rias.

__ADS_1


Lalu, memberikan botolnya ke Carol. Dengan sigap, Carol mengoleskan minyak kayu putih ke punggung Dira. Ia memijit-mijit punggung itu agar Dira merasa enakan.


"Untunglah ada kau, Rol! Tadi abang suruh aku manggil mertuaku atau mamakku! Bisa gagal jalan-jalan kita kalau orang tua yang datang ke rumah ini," imbuh Dira.


*****


Defan masih khawatir pada istrinya. Terlebih, esok rencana mereka honeymoon kedua akan terlaksana. Meski ia fokus bekerja tetapi rasa khawatir itu terus menghantui.


"Duh, Dira gimana, ya?" gumam Defan seraya mengembalikan fokusnya pada berkas yang ia pegang.


Juni tengah sibuk menyimpan bukti-bukti kasus perjudian online. Ia tak ingin ada yang ketinggalan pada Senin nanti. Semua dikumpulkan menjadi satu di dalam plastik bening yang besar.


Lalu, Juni menyimpan bukti itu di dalam tas. Tas itupun akan ia bawa pulang ke rumah, sebab Senin nanti, Juni akan langsung ke pengadilan tanpa harus berangkat bersama bosnya.


"Jun, awas ada yang tinggal," papar Defan mengingatkan, karena ia sempat menoleh kepada Juni yang tengah merapihkan seluruh barang bukti.


"Iya, pak! Sudah aman!" ucap Juni, merasa yakin semua telah tersimpan aman di dalam tas.


Sementara, untuk berkas masih dipegang oleh Defan. Pria itu sengaja akan membawa ke tempat liburan mereka, tentunya untuk dipelajari meski ia sudah merasa menguasainya.


"Jun, saya dua hari akan berlibur. Minggu malam mungkin tiba lagi di Medan. Berkasnya saya yang bawa, Senin langsung ketemu aja di Pengadilan!" titah Defan mengingatkan.


"Baik, pak!" Juni kembali duduk di kursi kerjanya, lalu melanjutkan pekerjaan yang lain.


*****


Memasuki siang hari, Carol dan Dira masih bermalas-malasan di ruang keluarga. Tv dibiarkan menyala. Tubuh Dira sudah mulai enakan sejak dipijit oleh Carol.


"Makan siang apa kita, Dir?" tanya Carol, ia memperhatikan sedari tadi, tidak ada makanan di kulkas ataupun bahan baku yang bisa dimasak.


"Pesan online ajalah, ngapain ribet-ribet kali." Dira dengan malas, mengambil ponsel yang ada di sofa, lalu mencari makanan yang cukup menggiurkan baginya.


Setelah bolak-balik scroll layar ponsel, akhirnya keputusan tertuju pada satu resto yang menyajikan ikan bakar.


"Rol, kau suka ikan bakar?" tanyanya penuh harap.


"Suka-suka aja, makan ikan bakar kita?" Carol mendekati Dira yang masih rebahan di sofa ruang keluarga.

__ADS_1


"Iya, cocok kayaknya siang-siang gini. Lapar kali aku, nggak bisa aku sarapan dari tadi," imbuh Dira.


"Bolehlah, pesankan aja," titah Carol.


__ADS_2