Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
istri nakal


__ADS_3

Disclaimer!


Ada adegan ranjang, khusus 18+ yaaa!!


Yang ga suka skip aja ya!!


Dira langsung mendekati ketiga sahabatnya. Mengambil satu piring nasi goreng, lalu bergegas pergi lagi.


"Eh, ke mana kau? Nggak makan di sini?" tanya Shinta saat melihat punggung Dira yang mulai menjauh.


"Bentar, aku mau ngantar ini dulu ke bang defan. Dia mau makan di kamar." Dira langsung melangkah lebar, membawakan satu piring nasi goreng dan teh hangat untuk suami tercinta.


"Abang, bangun! Sarapan dulu, aku taro di nakas," ujar Dira, kemudian hendak pergi.


Namun, tangannya dicekal oleh Defan. "Ke mana, yang?" Defan masih menyipitkan mata tapi berusaha membukanya dengan lebar.


"Mau sarapan di meja makan," jawab Dira.


"Kenapa nggak di sini sama abang?"


"Nggak enaklah sama yang lain, apa abang mau makan di meja makan? Sudah ada kawan-kawanku juga di sana."


"Ehmm, enggak ah, malas masih muka bantal. Yaudah kau aja sana sarapan, abang di sini aja," jawab Defan dengan sedikit rasa kecewa lantaran Dira tak mau menemani.


Saat Dira mau pergi, tiba-tiba ia berbalik. Menyambar Defan, lalu mengecup bibir suaminya dengan sedikit ******* kecil yang membangunkan gairah pria itu.


Belum juga Defan berbicara, Dira sudah berlari, menutup daun pintu kamar dengan kencang.


"Astaga! Istri nakal," desah Defan, lalu mengambil piring di nakas, memakan nasi goreng di atas tempat tidur.


****


Di meja makan, Dira menyantap satu porsi nasi goreng dengan lahap. Jenny, Carol dan Shinta masih terpaku di kursi makan. Mereka menunggu hingga Dira menyelesaikan sarapan paginya.


"Dir, kau ngapain semalam? Kok lama kali bangun," tanya Shinta, memicingkan mata dengan sedikit kecurigaan.


"Nggak ngapa-ngapain, memangnya ada acara lagi semalam?" ujar Dira yang ikut-ikutan polos.


"Nggak ada!" sambung Carol singkat.


"Terus? Ngapain kau nanya-nanya, Shin? Ku kira ada lanjutan lagi," papar Dira, menatap penuh selidik.


"Si Shinta itu kepo samamu, Dir! Hayo, semalam kau abis berapa ronde?" canda Jenny, berunjung dengan suasana yang kikuk dan kaku.

__ADS_1


"Ronde apanya?" Dira pura-pura bodoh mendengar ucapan Jenny.


"Ronde permainannya dong!" kata Jenny sedikit mencebikkan bibir.


"Hush! Apa sih, anak kecil nggak perlu tahu!" Dira langsung memalingkan wajah dari tatapan Jenny yang seolah-olah ingin menerkam.


"Selesai sarapan kita lanjut liburan ke mana?" ucap Carol mengalihkan pembicaran mereka.


"Ke mana, ya? Tugas kelen lah yang cari tahu!" tantang Dira memberikan arahan.


"Duh, kok aku masih lapar, ya?" Dira mengoleskan selai coklat pada roti yang masih menganggur.


Ketiga sahabatnya justru tak ada yang mau sarapan dengan roti. Mereka sudah kenyang menghabiskan satu porsi nasi goreng tadi.


"Dir, coba kau periksa dulu perutmu, kali aja ada cacing alaska di dalam. Makanya makanmu banyak kali," lontar Shinta dengan candaan garing.


"Hmmm." Dira fokus menyantap roti.


"Iya, kurasa ada yang aneh lah di dalam perutmu. Coba kau periksa dulu ke dokter nanti! Entahnya memang ada kelainan," sambung Carol dengan serius.


"Ah, kelen nakut-nakutin aja!" tandas Dira, ia masih asik menghabiskan roti.


"Betul loh, Dir! Soalnya perubahan makanmu derastis kali." Jenny ikut-ikutan memperingati.


"Udah ah! Udah kenyang aku dengar omongan kelen, puas kelen!" Dira langsung melongos pergi, meninggalkan ketiga sahabatnya.


"Abaaaang ... abang!" ucap Dira, dengan nada menggoda saat mulai masuk ke dalam kamar.


"Apa, sayang?" Defan masih berleha-leha di atas ranjang, sangat malas rasanya untuk beranjak dari sana.


Dira langsung menghempaskan tubuhnya di atas ranjang, bergelayut manja pada tubuh pria itu.


"Ada apa sih?" Defan Menatap Dira yang bertingkah aneh.


"Sekali lagi, yuk, sebelum mandi!" ajak Dira dengan semangat.


"Tumben? Biasanya abang dulu yang ajak," sindir Defan tak langsung mengiyakan ajakan istrinya.


"Hmm ... cuacanya mendukung kali loh." Dira terus bergelayut manja pada tubuh kekar itu.


Alhasil, gairah Defan ikut melonjak. "Gimana kalau di kamar mandi," bisik Defan dengan lembut di sisi telinga Dira.


"Ih, abang ..." Dira merengek dengan nada yang begitu menggoda.

__ADS_1


"Mau nggak?" bisik pria itu lagi.


Dira mengangguk malu-malu, dengan tatapan berbinar, ia pasrah saja mau diapakan oleh pria itu. "Tapi gendong, ya, pas ke kamar mandi," rengek Dira dengan sangat manja.


"Iya, sayang!" Defan langsung melucuti baju yang dikenakan Dira.


Bahkan, ia juga menelanjangi dirinya sendiri. Menghempaskan baju-baju itu entah kemana. Lalu, tanpa berbusana, Defan langsung menggendong gadis kecilnya dengan posisi saling berhadapan.


Dira seakan-akan menduduki tubuh kekar pria itu. Kakinya menahan sebagai kunci agar tidak terjatuh. Kedua tangan pun dilingkarkan pada leher suaminya.


Sementara, Defan menyanggah dudukan tubuh Dira dengan tangan yang memegang bokong Dira dengan kuat. Lalu berjalan dengan gagah menuju kamar mandi.


Kulit keduanya saling bersentuhan, gairah mereka meningkat secara derastis. Dira yang masih berada di atas tubuh Defan bahkan terus-menerus mencumbu.


Si kembar miliknya sengaja di tekan-tekan pada dada sang suami, kemudian menciumi pipi Defan dengan sangat gemas.


"Bentar dong, sayang!" lirih pria itu dengan jalan tertatih, sebab menahan beban tubuh Dira yang berat.


Setelah di dalam kamar mandi, keduanya saling mencumbu. Masih dengan posisi menggendong, Defan melakukan aksi permainan di dalam ruangan tersebut.


Menyandarkan tubuh Dira pada Dinding, lalu meremass si kembar yang sangat berisi milik sang istri. Menyesap pucuknya itu perlahan hingga menggairahkan Dira.


"Ahhh..." rintih Dira saat meresapi sesapan suaminya.


Entah mengapa permainan cukup berbeda pagi itu. Keduanya sama-sama semangat, memulai hari ini dengan penyatuan yang berbeda dari tadi malam. Dengan heboh, Defan melumatt bibir Dira, bahkan kepalanya sampai bolak-balik berputar berganti arah.


Dengan rakus mereka saling menjelajahi rongga mulut. Dira juga tak diam saja, tangannya juga mulai memainkan sesuatu yg intim milik suaminya. Dengan nakal tangan itu meremass dibawah.


"Istri nakal!" bisik Defan dengan nada menggoda.


"Nakal-nakal tapi suka kan!" balas Dira berbisik disamping telinga suaminya.


"Suka dong!" kekeh Defan tertawa kecil.


Keduanya saling menghentakkan agar sesuatu dibawah sana masuk dengan sempurna, meski posisi Defan masih menggendong. Penyatuan yang unik tapi nikmat. Gaya kali ini sangat memuaskan keduanya hingga puncak kenikmatan dirasakan.


Setelah menyelesaikan penyatuan, Defan langsung memandikan istrinya dengan pancuran air hangat. Bahkan, dengan sabar Defan mengoleskan sabun cair ke tubuh gadis miliknya.


Tak hanya itu, ia juga membantu Dira berkeramas. Dira hanya pasrah saat suaminya mengambil alih untuk memandikan tubuhnya.


Dengan sangat nakal, bahkan Dira memainkan kepemilikan suaminya karena merasa tak ada kerjaan saat mandi.


"Hmm ... nakal terus tangannya," papar Defan dengan lirih.

__ADS_1


"Hehe, enak kenyal-kenyal gimana gitu." Dira menyengir saat tubuhnya selesai dimandikan.


"Udah beres nih, mau keluar sendiri apa mau nunggu abang?" ujar Defan dengan tatapan genit.


__ADS_2