
"Ah, udah tahu mamak kalau kau mau datang. Ngapain pakai acara sambut-menyambut, memangnya siapa yang datang? Orang lain?" tampik Rosma, seraya mengaduk wajan dengan sutil di tangan.
"Hehe! Ini ada kawanku ikut, mak!" Dira menunjukkan ketiga sahabatnya yang berbaris di samping.
"Mana suamimu? Katanya mau datang berdua? Kok malah sama kawanmu?" cecar Rosma, mengedarkan pandangan mencari sosok helanya.
"Masih kerja, mak! Nanti katanya nyusul ke sini."
"Oh, duduklah sana kalian di ruang tamu, kasih kawanmu minum!" tandas Rosma, masih melanjutkan proses memasak.
Dira membawa ketiga sahabatnya kembali ke ruang tamu. Berbincang-bincang dan bergurau sembari menunggu makanan jadi.
"Shin, udah kau jadikan pacar cowok yang kau taksir itu?" celetuk Jenny, penasaran, sebab tadi tidak ada yang menanggapi perkataan Shinta mengenai pendekatan tersebut.
Shinta menggeleng, rasanya masih sulit untuk menjadikan Panja seorang pacar. Meski Shinta terlalu sering mencari perhatian.
"Sulit we, tembok juga terlalu tinggi, sulit untuk kugapai," ucap Shinta, seraya menyanyikan dengan nada lagu.
"Loh, kenapa?" ucap Dira, menatap serius.
"Agama kita berbeda tapi dia ganteng kali, sulit untuk berpaling darinya," ucap Shinta mulai lebay.
"Mulai aja dulu," celetuk Carol asal.
"Ah, kalau terlalu dalam nanti susah lepasnya," tandas Shinta, menunduk, hatinya mulai rapuh.
Flashback On
Saat ospek, usai beristirahat siang, Shinta tak sengaja melihat data-data senior. Di dalam data tersebut, lengkap semua berisi data diri Panja. Pria yang disukainya mulai hari pertama.
Beberapa data menunjukkan perbedaan yang signifikan antara Shinta dan Panja. Mereka yang terpaut 3 tahun tapi untuk yang paling signifikan adalah status agama.
Sulit rasanya untuk menerima takdir yang sudah ditentukan. Dengan berat hati, Shinta merelakan Panja, sehingga hari ini ia tak jadi mengungkapkan perasaan untuk kedua kalinya.
Flashback Off!
Rosma telah menyajikan makan malam di atas meja, makanan besar berbagai menu sudah menghiasi. Perempuan paruh baya itu berjalan gontai memanggil boru panggoaran beserta teman-temannya.
"Dir, ayo makan dulu! Yang lain juga ikut!" ucap Rosma, seketika masuk lagi ke dalam dapur.
__ADS_1
Saat Dira berkunjung, sang bapak—Sahat memang belum tiba di rumah. Entah mengapa, bapaknya terlambat pulang hari ini.
Sementara, kelima adik Dira berada di dalam kamar masing-masing. Asik bermain ponsel, hanya adik siapudannya saja yang masih bermain di dapur.
"Mak, bapak mana? Giliran aku datang, jam segini belum pulang!" keluh Dira, menarik kursi makan, diekori oleh ketiga sahabatnya.
"Udah, makan dulu! Mungkin diprediksi bapakmu kalau kau datang sama kawan-kawanmu! Makanya dia kasih ruang dan waktu untuk kalian," cerocos Rosma.
"Ayo makan kelen! Tadi katanya mau makan gretongan!" terang Dira, mulai menyendoki nasi ke dalam piring.
"Makan kami ya, namboru!" ucap ketiga gadis itu kompak, meminta izin sebelum menyantap makanan masakan mamak Dira.
"Makanlah, makan!" tutur Rosma, mempersilahkan.
*****
Setelah hampir dua jam menunggu, akhirnya Sesta keluar membawakan benda incaran Defan. Dua jam lamanya mencari bolpoin, membuahkan hasil yang manis.
Sesta berjalan dengan langkah lebar agar segera menghampiri Defan dan Juni di ruang tamu. Kedua pengacara itu sudah suntuk sejak menunggu dari tadi.
"Maaf, pak! Sulit sekali mencarinya, ternyata di kolong kasur. Mungkin dimain-mainkan sama anak saya," imbuh Sesta, penuh penyesalan.
Lalu, ia menekan tombol yang ada di atas bolpoin, seketika suara pun muncul. Percakapan antara gubernur dan suami Sesta. Perempuan itu terkejut bukan kepalang, selama ini masih meragukan suaminya lantaran tertangkap basah oleh KPK.
"Tenang saja, bu, berkat rekaman ini, hukuman suami ibu akan diringankan!" jelas Defan, lalu mematikan rekaman tersebut. Sesta pun hanya mengangguk penuh harap.
"Kalau begitu kami pamit dulu, bu! Masih banyak yang perlu dikerjakan!" pamit Defan, menjabat tangan Sesta, kemudian pergi meninggalkan rumah Yadi bersama Juni.
Saat di dalam mobil, Defan yang sudah mengantongi bukti kuat untuk persidangan besok sudah optimis dapat memenangkan sidang pertama.
Namun, saat ini ia harus segera menuju rumah Dira. Sebab, istrinya pasti akan menggerutu jika janji diingkari.
"Jun, kau nanti saya turunkan di depan jalan raya, ya? Soalnya saya ada urusan ke rumah mertua saya," ucap Defan memberi penjelasan.
Sebenarnya, setelah malam begini, Defan mau saja mengantarkan Juni hingga ke depan kost-kostannya. Namun, jarak antara kost Juni dengan rumah Dira sangat jauh dan berbeda arah.
"Oke, pak! jawab Juni, singkat tanpa penolakan.
Defan menginjakkan pedal gas, meninggalkan rumah Yadi yang berada di komplek perumahan elit. Tak jauh dari rumah Yadi, jalan raya sudah terlihat.
__ADS_1
Defan memberhentikan mobil audi di pinggiran jalan, menurunkan Juni dan memberi pesan. "Besok pagi langsung ke pengadilan saja, Jun!" tegasnya, kemudian berlalu pergi.
****
Selama 30 menit perjalanan, Defan akhirnya sampai di depan rumah orang tua Dira. Bersamaan dengan Sahat yang juga baru saja pulang ke rumah.
"Hela, baru sampai kau? Mana si Dira?" tanya Sahat, lalu merangkul menantunya masuk ke dalam rumah.
"Dira kayaknya udah di dalam, Amang, dia sudah berangkat sejak pulang dari kampus, aku yang terlambat datang," sahut Defan.
"Oh, yaudah ayoklah kita cek ke dalam." Sahat langsung menarik daun pintu, melihat keramaian di dalam rumah.
"Amang, baru pulang kerja?" tanya Defan, basa-basi.
"Iya!" jawabnya singkat, mengedarkan pandangan mencari sosok istrinya.
Defan yang sempat lupa mencium punggung tangan mertuanya, ia meraih tangan Sahat setelah rangkulan pria paruh baya itu terlepas.
"Maaf, Amang tadi lupa karena langsung dirangkul," kata Defan seraya terkekeh.
"Nggak apa-apalah, hela! Santai aja kau!" tambahnya.
Defan dan Sahat bersama-sama menuju dapur. Di sana, Rosma dan Dira sama-sama berdiri menyambut kedatangan suami masing-masing.
"Kok lama kali bapak pulang?" sindir Rosma, menarik satu kursi kosong untuk suaminya.
Sebenarnya, sejak 20 menit yang lalu, Rosma, Dira dan sahabatnya sudah selesai makan. Hanya saja, mereka melanjutkan obrolan di meja makan.
"Abang, udah beres kerjanya?" papar Dira, seraya mendekat.
Namun, Defan justru berjalan menemui Rosma, mencium punggung tangan mertuanya dengan hormat. Lalu, mendekati Dira yang ingin meraih tangannya dan mencium punggung tangan miliknya.
"Iya, sayang, maaf lama!" lirih Defan, mengecup pucuk kepala Dira tanpa malu meski mertua dan teman-teman Dira menyaksikan.
Jenny dan Shinta saling menoel, mereka berpikiran yang sama. "Romantis kali bang defan, ya!" bisik Shinta di sisi telinga Jenny.
Jenny hanya mengangguk, menatap binar penuh kekaguman pada suami temannya. Bisa dikatakan, Defan adalah kriteria yang pas untuk dijadikan sebagai seorang suami bagi dua perempuan itu.
"Aku juga mau kalau ada satu lagi laki-laki kayak suaminya si Dira," bisik Jenny, membalas perkataan Shinta.
__ADS_1