
Defan menidurkan tubuh Dira yang tadinya masih terduduk. Perempuan itu hanya pasrah dengan permintaan suaminya. Ia langsung mengikuti semua instruksi pria itu.
Matanya tak bisa terpejam, ia merasa berat hati bila membiarkan mertuanya sibuk berkat dirinya.
"Bang, aku nggak enak sama inang! Repot di dapur sementara aku malah tidur-tiduran," desah Dira, sembari membuang nafas kasar.
"Kau lagi sakit, yang! Mama juga mengerti itu. Biarkanlah mama sibuk asal menantunya sehat dan pulih lagi. Mama juga ada yang bantu kok!" jawab Defan, merengkuh tubuh wanita itu, mengelus pucuk kepala Dira seraya menatapnya dalam.
*****
Di dapur, Melva langsung meracik jamu untuk Dira. Perempuan paruh bayah itu sangat cekatan. Sifatnya diwariskan pada Defan, sehingga putra satu-satunya sangat terampil dan cekatan melakukan apapun.
Melva mendidihkan air, memasukkan kunyit dan jahe yang digiling halus serta asam jawa, lalu mencampurkan bongkahan gula merah. Selama proses memasak, ia mengaduk-aduk agar semua rempah tercampur rata.
Wangi khas jahe, kunyit, dan asam jawa yang menyampur memenuhi ruangan, khas sekali seperti wangi semerbak jamu. Entah untuk berapa kali minum, terlalu banyak Melva masak ramuan tersebut.
FYI : Ramuan itu beneran ya guys, buat kamu yang baru keguguran bisa pakai resep itu. Karena othor pernah ngalamin dan dapat ramuan itu dari mertua hehe!! Alhasil, rahim langsung bersih dan singset!
Melva langsung menuangkan satu gelas kecil, hasil racikan jamu turun-temurun, membawanya ke kamar Dira. Tanpa mengetuk pintu, Melva melihat kemesraan antara Dira dan Defan yang saling berpelukan.
Ia merasa lega setelah melihat anaknya berhasil meluluhkan istri hasil perjodohan kedua orang tua.
Sementara itu, Defan dan Dira dengan kikuk melepaskan pelukan keduanya. Defan langsung beranjak, duduk di tepian ranjang saat mamanya menghampiri.
"Kenapa, ma?" cecar Defan, merasa terganggu karena sang mama masuk tanpa permisi.
"Ini diminum dulu, Dir! Inang sudah buatkan ramuan jamu untukmu! Habiskan!" tandas Melva tegas.
Dira mengangguk, meraih satu gelas kecil jamu yang berwarna kuning pekat sedikit kecoklatan karena campuran asam jawa dan gula merah.
Ia mencicipi ramuan tersebut, terasa enak di lidah. Ada kesegaran dari asam jawa dan rasa manis dari gula merah, sedikit rasa pekat yang sepat dan pedas dari kunyit dan jahe.
__ADS_1
"Makasih, Inang!" ucap Dira, membuat lengkungan lebar di sudut bibir setelah menghabiskan jamu dalam sekali teguk tetapi ia enggan memberikan gelas bekas minumannya.
Namun, Meva langsung mengambil gelas itu. "Sudah tidur lagi! Jangan ngapa-ngapain dulu. Tenang saja, inang dibantu sama Nena kok dan ada Anggi juga!" ungkap Melva, agar menantunya tak merasa canggung dengan apa yang dilakukannya.
Dira tersenyum penuh haru, sebab mertuanya itu sangat perhatian dan peduli padanya. Melebihi ibu kandungnya sendiri, disaat ia merasakan kesedihan mendalam, keluarga suaminya selalu berada disisinya.
"Mam, aku lapar!" keluh Defan, tak terasa sudah begitu malam.
"Bentar lagi mama beresin masakan! Istirahat saja dulu, temani istrimu!" tampik Melva, berlalu begitu saja meninggalkan sepasang pasutri.
Melva langsung memasak bak koki di dapur Dira. Semua bahan baku telah dibersihkan dan disiapkan oleh Nena dan Anggi sehingga Melva langsung sigap memasak.
Hanya membutuhkan waktu setengah jam, beberapa makanan sudah tersaji di meja makan. Tercium bau masakan yang begitu lezat hingga harumnya sayup-sayup meracuni kamar Dira dan Defan.
"Ayo, sayang! Mama udah beres kayaknya!" Defan yang khawatir memapah Dira tapi Dira menolak. Ia masih bisa berjalan sendiri tanpa bantuan.
Tidak ada yang terjadi pada tubuhnya. Ia sangat baik-baik saja secara fisik, meski psikis dan rasa trauma belum menghilang.
"Lihat aja tuh, banyak mama masak! Ada ayam goreng, ikan goreng, sayur bayam bening, sama sambal udah cukuplah!" beber Melva, menarik satu kursi yang ada di sana.
"Na, ayo ikut makan!" tuturnya lagi.
Meski canggung, Nena menurut saja. Ia ikut bergabung dengan keluarga Defan, ikut menyantap malam itu.
Setelah menghabiskan makanan yang ada di meja makan dalam waktu singkat, mereka akhirnya bersantai di ruang keluarga.
"Pak, bapak pulang sama anggi, ya. Mama sama Nena tetap di sini! Mungkin selama beberapa hari, mama mau merawat Dira!" imbuh Melva, menatap Desman begitu dalam.
Pria paruh baya itu hanya mengangguk seraya tersenyum tipis. Ia sudah tahu kalau Melva akan menginap selama beberapa hari demi mengurus menantu satu-satunya milik mereka.
"Kalau gitu, bapak sama anggi pulang sekarang ajalah! Nanti malam kali," sahut Desman.
__ADS_1
"Yaudah, hati-hati bapak nyetir! Jangan ngantuk! Nggi, perhatikan bapakmu! Kalau jam segini udah sayu matanya," tegas Melva, memperingati anak bungsunya.
Tepat jam 10 malam, Anggi dan Desman pulang dari rumah Defan. Meski dibalut rasa khawatir, Melva meyakini kalau Anggi bisa memperingati Desman selama menyetir sendiri.
Ia tahu, anak siapudannya sangat cerewet sehingga tak akan mengalihkan konsentrasi Desman saat menyetir.
"Hati-hati, ya, pak!" ucap Melva, mencium pipi kanan dan kiri suaminya.
Mereka akhirnya berpisah, setelah acara pamit-pamitan satu keluarga. Dira dan Defan mencium punggung tangan Desman. Lalu, mengecup pipi kiri dan kanan iparnya.
Dari ambang batas pintu, Melva, Dira dan Defan melambaikan tangan sampai Desman dan Anggi masuk ke dalam lift.
Semuanya masuk kembali ke dalam rumah. Rasa lelah pada tubuh Melva menyerang, ia meminta agar Nena menyiapkan satu kamar untuknya. Serta satu kamar tamu untuk ditiduri oleh Nena.
Sebelum beralih ke tempat tidur, Melva yang merasa tubuhnya sudah renta minta dipijitin oleh Nena.
Masih di ruang keluarga, Nena memijit kaki dan lengan Melva. Tak lupa, pundak dan kepala yang menjadi tempat area favorit Melva.
"Mam, aku sama Dira tidur duluan, ya!" pamit Defan, melihat kesibukan melva di ruang keluarga.
Setelah kepergian sang bapak, Dira dan Defan masih menemani Melva berbincang sebentar di ruang keluarga.
"Iya, iya! Tidurlah sana biar cepat sembuh si Dira!" kata Melva seraya menganggukkan tangan, mengusir Dira dan Defan dari ruang keluarga.
Kedua pasutri itu masuk ke dalam kamar. Membaringkan tubuh mereka di atas ranjang. Defan langsung memeluk tubuh istrinya, Dira menyandarkan kepala di lengan Defan, menatap dada Defan yang begitu hangat.
"Yang, sehat-sehat, ya! Jangan sakit lagi! Abang takut!" ucapnya dengan lirih, mengecup pucuk kepala sang istri.
Dira hanya menangguk tanpa mendongakkan kepala. Ia malah mengalungkan kedua tangan di punggung Defan. Mengeratkan pelukan itu, kemudian memejamkan matanya sangat rapat.
"Yaudah tidur, ya! Semoga hari esok lebih baik dari hari ini." Defan mendaratkan satu kecupan lagi di pucuk kepala Dira.
__ADS_1
Tanpa disadari, Dira sudah tertidur lelap dalam pelukan hangat suaminya. Oleh karena itu, Defan juga ikut menyipitkan mata, ikut menerjal dunia mimpi yang sudah didatangi oleh Dira lebih dulu.