Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
merubah tabiat


__ADS_3

"Bapak sehat, ma! Nantilah kita ngobrol lagi. Bapak masih rapat sama rekan bisnis. Malam akan bapak hubungi kembali," tandas Desman, mematikan sambungan telepon secara sepihak.


****


Defan baru keluar dari kamar mandi, ia melihat Dira tertidur sangat nyenyak. Sudah menunjukkan jam 6, Defan bersiap-siap mengenakan pakaian formal untuk makan malam.


Menggunakan kemeja lengan panjang berwarna hitam serta celana panjang berwarna hitam juga. Setelah memakai pakaian yang lengkap, ia membangunkan istri kecilnya.


"Yang, sayang? Bangun!" titah Defan, seraya mengecup bibir tipis milik sang istri.


Tubuh Dira bergelayut, telinganya masih samar-samar menangkap suara sang suami. Namun, Defan tiba-tiba melumatt bibir tipis itu agar Dira benar-benar terbangun.


Merasa mulutnya terganjal sesuatu, benda kenyal yang menyumpal mulutnya, akhirnya Dira pelan-pelan membuka mata. Ia menangkap wajah Defan yang sedang terpejam menikmati lumattannya.


Defan merasa ada yang sedang memerhatikan, ia membuka mata, saling menatap dengan manik sang istri.


Ia pun bergegas melepaskan pagutan bibir kenyal tersebut. "Abis nggak bangun-bangun! Malah yang lain yang bangun!" desah Defan, mencebikkan bibirnya, lalu menghempaskan tubuh ke atas ranjang.


"Kebiasaan suamiku!" Dira menangkup wajah suaminya, melayangkan satu kecupan hangat di bibir.


"Makasih!" ucap Defan bernada genit.


"Udah jam berapa, bang?" kata Dira, tapi tatapanya tak mau lepas dari wajah sang suami yang terlihat tampan dan rupawan.


"Mandi buruan! Sudah jam 6 loh, yang!" titah Defan, merengkuh tubuh ramping itu agar melekat pada dekapannya.


"Ehm ... bikin makin mager!" imbuh Dira, bergelayut manja pada dada kekar sang suami.


Defan berkali-kali menciumi pipi, bibir, mata, hingga kening Dira. Membuat perempuan itu sangat nyaman berada dipelukan suaminya. Keduanya masih bermanja-manja dalam pelukan.


Dira yang masih merasakan kantuk, malah memejamkan kembali matanya. Namun, ditegur oleh suaminya lantaran hari sudah malam, mereka harus bergegas ke restoran yang sudah direservasi.


"Ayang, bangun! Buruan mandi sana!" protes Defan, saat melihat mata Dira kembali terpejam.


Sontak saja, Dira langsung membulatkan matanya. Saat merasakan kehangatan tubuh suaminya, ia malah ingin melanjutkan tidur lagi.

__ADS_1


"Makanya jangan peluk-peluk dong, bang! Jadi makin nyaman kan!" timpal Dira, menggerutu seraya membangkitkan tubuhnya yang masih terasa lemas akibat tidur sore.


"Hehe ... tapi suka kan?" celetuk Defan, menunjukkan cengiran sehingga memperlihatkan gigi yang rapih berderet di depan wajah Dira.


"Suka lah! Masa enggak!" sambung Dira, berjalan gontai menuju kamar mandi.


"Jangan lama-lama mandinya, yang!" teriak Defan, sebelum Dira menutup pintu kamar mandi.


"Hemmm." Dira hanya berdehem, berlalu mandi agar bisa segera menikmati dinner yang telah disiapkan oleh suaminya.


****


Rosma tengah menatap buku rekening yang semakin tipis. Uang pemberian sinamot Dira mulai habis. Suaminya masih belum memberikan gaji lantaran masih terikat hutang.


Untuk biaya sehari-hari, Rosma mengandalkan uang sisa sinamot tersebut. Dari sisa sinamot, mereka sudah membeli rumah. Selama beberapa bulan terakhir, biaya makan yang cukup tinggi menguras isi rekening.


Melihat keuangan semakin tipis, membuat Rosma terserang rasa pusing. Sembari menatap buku rekening, ia juga memijit pelipis yang terasa nyeri karena pusing yang melanda.


Tak berselang lama, Sahat baru saja pulang kerja. Melihat kedatangan suaminya, Rosma langsung menyembunyikan buku rekening itu dibalik bantal sofa agar suaminya tak melihat.


"Baru pulang, pak? Dari mana saja? Kelewat satu jam loh!" tegas Rosma, memicingkan mata.


"Utang bapak masih banyak? Sudah nggak main judi lagi kan?" celetuk Rosma, dengan tatapan tajam.


"Bapak sudah berhenti! Tinggal sisa bayar hutang yang menumpuk saja," akunya seraya mengeluarkan nafas berat.


Sahat pun duduk di sebelah sang istri. Menatap tajam seraya merasa curiga. "Emang kenapa sih, mak?" tanya Sahat lagi.


"Uang kita semakin tipis, untuk kebutuhan sehari-hari tinggal sekitar dua bulan lagi. Kalau gaji bapak nggak ada juga, kita makan pakai apa?" sungut Rosma, beradu tatapan dengan sang suami.


"Oalah! Ya, kau jualan lagi aja! Masih banyak hutangku," keluh Sahat, mengerutkan dahinya.


"Astaga! Itulah karena ulah bapak, anak-anak kita merasakan kepedihan, menderita dan hidup melarat!" ucap Rosma berdecak kesal.


"Udahlah! Nggak usah kau urusi itu!" gerutu Sahat, kemudian berlalu pergi lantaran merasa kesal saat pulang kerja malah diamuk oleh sang istri.

__ADS_1


Bukannya disajikan minuman atau makanan, malah mendapat amukan yang membuat dirinya jengkel. Sahat pun segera memasuki kamar, mengambil handuk yang tergantung di dalam kamar.


Tak berselang lama, ia berjalan gontai menuju kamar mandi. Lalu, membersihkan diri sembari memikirkan nasib keuangannya yang tak kunjung membaik.


Sesekali, saat pulang kerja, sebenarnya Sahat masih suka berjudi. Namun, hal itu ia sembunyikan dari sang istri, lalu mengaku sudah meninggalkan tabiat buruk itu.


Seperti hari ini, ia bukan hanya bertemu teman lama saja. Tetapi sekaligus bermain judi dengan teman lamanya.


Susah sekali merubah tabiat ini. Apalagi sudah kebiasaan. Permainan judi sudah membuatku kecanduan!


Sahat larut dalam pikirannya seraya membantin seorang diri. Ia merutukki kesalahan yang sangat hobi berjudi bahkan tak bisa lepas dari kegiatan itu.


****


"Bang, bantu aku!" ucap Dira, tergesa-gesa agar tidak terlambat ke restoran.


"Bantu apa, sayang?" tanya Defan, mengedarkan pandangan.


Istrinya sedang sibuk memakai maju, kemudian bersolek dengan make-up agar wajahnya semakin flawless. "Tolong keringkan rambutku, bang!"


Defan pun kebingungan, sebelumnya ia tak pernah melakukan hal itu pada istrinya. "Pakai apa?"


Dira menatap dari kaca rias, ia menatap suaminya yang masih terdiam dan kebingungan. "Ada hairdryer di laci nakas, ambil dan colokkan biar nyala!" sahut Dira memerintah.


Defan pun menurut, ia mencari benda yang dimaksud oleh istrinya. Saat menarik laci nakas, hardryer berwarna hitam itu ditatap dengan dalam.


Tak lama, ia mencolokkan kabel pada stop kontak yang tidak jauh dari meja rias. "Cara nyalainnya gimana, yang?" tandas Defan, seraya mengulik hairdryer yang membuatnya kebingungan.


"Pencet aja tombol ini, langsung nyala. Terus arahkan ke rambutku secara merata agar semua rambut mengering!" jelas Dira, kemudian diangguki oleh Defan karena ia sudah mengerti.


Defan menghempaskan rambut Dira, seraya mengarahkan mulut hairdryer ke rambutnya. Ia semakin lihai setelah mencoba hairdryer tersebut.


Selama lima menit, rambut Dira sudah mengering. Perempuan itu mengacungkan jempol pada sang suami.


"Pintar," puji Dira seraya tersenyum lebar.

__ADS_1


"Gampang ternyata pakainya, yang," balas Defan, tersenyum tipis, ia kembali menyimpan hairdryer ke dalam nakas.


Dira memakai dress berwarna hitam yang sangat cantik. Dress yang terbuat dari kain satin dan brukat itu sangat cocok di tubuhnya.


__ADS_2