
"Lama kalilah kau datang Dir! Kau nggak apa-apa kan?" seloroh Carol panik, ia bahkan meneliti tubuh Dira jika ada bekas luka ataupun memar ditubuhnya.
"Kau ngapain sih lihatin seluruh badanku?" sesal Dira memicingkan matanya. Ia melihat Carol dengan tatapan yang tak biasa.
"Kali aja kau di marahi bang Defan semalam. Dipukul atau apa—"
"Atau apa?" beo Dira memotong pembicaraan Carol.
"Emangnya suamiku suka KDRT!" sesal Dira, ia pun bergegas duduk dibangkunya. Melepaskan tas gendongnya, menggantungkan dibelakang kursi belajarnya.
"Hehe ... sorry! Kirain kan!" kekeh Carol.
Kring\~kring
Bel sekolah pun berbunyi. Suasana kelas seketika hening saat guru mereka tiba di dalam kelas. Pelajaran dimulai dengan tertibnya. Tak ada obrolan antar siswa.
Guru yang mengajar hari itu sebenarnya guru biasa. Bahkan terkesan sangat baik dan ramah pada murid-muridnya.
******
Defan berjalan gontai memasuki ruangannya. Hanya Dania yang tak masuk kerja. Untuk hari ini, Defan tetap fokus menyelesaikan pekerjaannya yang terlantar kemarin.
Mungkin, besok saat pemakaman mamaknya Dania, dia baru datang lagi ke rumah duka. Sepertinya, Defan harus mencari asisten untuknya. Karena ia sangat kewalahan dalam pekerjaannya yang tidak dapat dihandel seorang diri.
Defan pun membuka laptopnya. Menyiarkan di website perusahaan kalau ia membutuhkan seorang asisten legal atau paralegal khususnya untuk menangani dokumennya serta membantu-bantu pekerjaannya menyelidiki fakta dan lainnya.
Ia akan menunggu sampai ada orang yang melamar sebagai asistennya. Untuk sekarang ini, Defan pun mulai membuka-buka berkas yang menumpuk di meja kerjanya.
Drt drrrt
Ponsel Defan bergetar, ia memang sudah mengganti dengan mode silent hanya getaran saja. Nada ponsel yang sebelumnya terlalu berisik jika ada panggilan masuk.
"Halo pak ... selamat pagi," sapa seorang perempuan melalui sambungan teleponnya.
"Pagi, dengan siapa saya bicara?" ujar Defan.
"Saya Juni ... lima menit yang lalu melihat lowongan asisten pengacara pak. Saya ingin mendaftar pak," jawab perempuan itu.
"Kalau begitu, hari ini kamu langsung bawa lamaranmu ke kantor saya."
"Baik pak ... saya akan segera kesana." Juni mematikan sambungan teleponnya segera bersiap-siap mendatangi kantor S.N.G Lawfirm.
__ADS_1
Ia memang diminta mencari tempat untuk magang setelah selesai masa pendidikannnya sebagai pengacara. Itu salah satu syarat agar ia bisa memulai profesi itu.
*****
"Ssstt! Lapar kali perutku!" lirih Dira memegangi perutnya yang keroncongan. Ia baru ingat kalau tidak sempat sarapan tadi pagi. Alhasil, saat jam mata pelajaran, perutnya berbunyi-bunyi dan rasa laparnya tak tertahankan.
"Sabar ... tunggu beres pelajaran ini, kita ke kantin," ucap Carol memperingatkan.
Namun, Dira sudah tak sanggup menahan rasa laparnya. Saat itu masih jam setengah sembilan pagi. Dira mengangkat tangannya untuk menarik perhatian sang guru.
"Kenapa, Dir?" tutur guru itu menatapnya dengan tajam.
"Maaf bu ... saya mau izin ke kamar mandi. Mau buang air, apa boleh?"
"Boleh ... jangan lama-lama," pesan guru itu.
Dira pun mengerling pada Carol. Otak piciknya sudah mulai berjalan.
"Kemana?" bisik Carol yang tak percaya kalau Dira akan mendaratkan kakinya di kantin sekolah.
"Kantin!" Mulut Dira komat-kamit menjawab pertanyaan sahabatnya. Carol pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Dira yang begitu berani.
Dira melangkah lebar agar segera sampai ke kantin sekolah. Buru-buru ia membeli gorengan, menyantapnya dalam 10 menit. Lalu kembali lagi ke kelasnya.
"Buka halaman 56, jangan lupa kerjakan soal-soal itu. Sampai jumpa minggu depan," pamit sang guru lalu ia pergi dari dalam kelas tepat saat bel berbunyi.
"Kau benar-benar ke kantin tadi Dir?" celetuk Carol setelah kelas mereka menunggu pergantian guru yang mengajar.
Dira mengangguk seraya menunjukkan cengiran kudanya. "Gila! Kau berani kali," imbuh Jenny yang mendengarkan pembicaraan dua wanita di depannya.
"Sepi nggak kantin tadi?" lontar Shinta.
"Kok jadi nimbrung lah kelen dua," protes Carol.
"Sepi tadi ... nggak ada orang karena semua sibuk belajar. Cuma aku aja disana, cepat-cepat kuhabiskan gorenganku," beber Dira menatap ketiga sahabatnya bergantian sekaligus menyengir kuda.
"Kok nggak kau belikkan sama kami?" sahut Shinta yang juga tak sempat sarapan pagi ini. Ia lupa untuk memakan sarapan di rumahnya.
"Mana kutehe! Emangnya aku tahu kau belum sarapan!"
"Sstttt ... guru udah datang," bisik Carol seraya menepuk-nepuk rok Dira.
__ADS_1
Pandangan mereka berempat pun kembali fokus pada guru di depan. Semuanya sibuk memulai pelajaran hari ini.
******
Tok ... Tok ...
"Masuk!" titah Defan setelah mendengar ketukan pintu ruangannya.
Seorang perempuan memakai kemeja putih dan rok span berwarna hitam muncul dari balik daun pintu. Ia tersenyum ramah sekaligus membawa amplop coklat yang berada dalam pelukannya.
"Pagi pak ... saya Juni, yang tadi menelepon bapak!" Perempuan belia itu menunduk hormat pada Defan. Usianya masih muda, berusia 24 tahun.
"Silahkan duduk!" tutur Defan merapihkan berkasnya, menghampiri gadis itu ke sofa dimana tamunya berada.
"Sebelumnya saya lihat kalau S.N.G Lawfirm menerima anak magang. Dan kebetulan sekali pak Defan lagi membutuhkan asisten. Saya mau mengajukan diri pak. Sekaligus sebagai jadwal magang saya disini." Wanita itupun memberikan map amplop coklatnya pada Defan berisi CVnya.
"Oh gitu ... baru lulus berapa lama Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA)," tanya Defan dengan serius.
"Baru bulan kemarin pak. Saya sudah mengajukan magang dibeberapa tempat tapi selalu ditolak. Tempat ini juga menerima magang advokat, jadi saya sering memantau website perusahaan. Beruntung bapak juga lagi mencari asisten. Dan kebetulan, saya fans bapak juga hehe," akunya panjang lebar.
"Oh ya? Bagus kalau begitu. Kau bisa bekerja hari ini?" Defan pun menatap gadis lugu berpenampilan sederhana itu. Wajah cantiknya bahkan sangat menyegarkan pemandangan di ruangannya.
"Bisa pak!" ucap wanita itu kegirangan.
"Baiklah ... mulai hari ini kau magang disini selama dua tahun ke depan. Sampai kantor saya mengeluarkan surat kelulusan magang baru kau boleh bekerja di firma hukum yang kau inginkan!"
Defan langsung berdiri menuju meja kerjanya, mengambil beberapa tumpukan berkas membawanya ke hadapan Juni.
"Ini tolong dibaca semua, bikin legal momerandumnya. Bantu selidiki kasusnya juga," titah Defan memberikan tumpukan berkas itu. Juni pun sampai terkejut, hari pertama bekerja sudah diberikan tugas yang menumpuk.
"Baik pak!" jawab Juni tegas.
"Saya akan bekerja disini?" tambahnya lagi.
"Iya ... di dalam ruangan ini. Nanti saya suruh orang kantor untuk menyiapkan meja kerja di sana." Defan menunjuk sisi hadapan meja kerjanya.
"Baik pak," tuturnya singkat.
"Untuk saat ini, bekerja seperti ini dulu," lirihnya.
******
__ADS_1
Dania masih merasakan duka mendalam. Orang-orang daritadi lalu lalang mempersiapkan pemakaman mamaknya untuk esok. Tenda-tenda mulai dipasangkan di halaman rumahnya.