
"Nggak tahulah aku, bou! Semua terjadi begitu saja!" kilah Dira, sebenarnya ia tak ingin pembicaran itu berlanjut.
Tetapi karena pihak keluarga sangat penasaran, mau tidak mau, ia harus menceritakan kejadian itu.
"Coba kau ceritakan dulu yang jelas!" sergah Bou Dira yang lain—Tina.
Dira menarik nafasnya dengan erat, lalu ingin menceritakan tragedi awal hingga akhir. Namun, dicegah oleh Defan, pria itu menggeleng sebagai tanda agar Dira lebih baik diam.
"Jadi gini, tante, waktu itu kita sedang liburan tapi Dira hampir terjatuh ke jurang. Perutnya terkena benturan tebing yang mengakibatkan keguguran tersebut!" imbuh Defan, mengambil alih pembicaraan agar Dira tak menangis ketika mengingat kehadian itu.
"Oalaah! Liburan di mana kalian?" tambah Sohit, semakin penasaran.
"Di Toba, Tulang!" jawab Defan dengan cepat.
"Ck!" decak Opung Matua, menyesali kejadian itu.
"Udahlah-udah, jangan kalian ingat lagi itu. Sekarang fokus menatap masa depan, persiapkan diri kalian berdua agar bisa menunggu kehadiran anak lagi," ucap Tina, memberikan nasihat bijak.
Defan hanya mengangguk, menyetujui perkataan tantenya dengan secercah nasihat. Setelah pembicaraan serius itu selesai, keluarga mulai menikmati makan malam yang sudah dihidangkan.
Berbagai makanan khas orang batak sudah memenuhi ruang tamu. Opung Matua dan Opung Tiur sudah disajikan lebih dulu oleh para maid. Hanya tinggal mengambil lauk sendiri yang terpajang rapi di prasmanan.
"Padahal aku rindu masakan anakku tapi dia masih di Jakarta, ya?" cecar Opung Matua, diangguki oleh Desman.
"Coba kau telepon dulu, Def!" titah Opung Tiur, ingin mendengar suara anak perempuannya yang paling besar.
"Sebentar, pung!" Defan mengambil ponsel dari dalam saku, melakukan satu panggilan pada sang mama.
****
Drrrt ... drttt ...
Di apartemen Anggi, Melva dan Anggi tengah menyantap makan malam seperti biasanya hanya berdua. Melva buru-buru mengambil ponsel yang berdering dan bergetar di atas meja ruang tamu.
Ia menatap ponsel, larut dalam pikirannya sejenak. Tidak seperti biasanya, ia sangat heran menatap nama anak lelakinya pada layar ponsel.
Ada apa ini si Defan malam-malam telepon? Kok tumben!
Melva larut dalam pikirannya sendiri, lalu berjalan gontai menuju meja makan. Ia pun menerima panggilan video call dari anak lelaki semata wayangnya.
Saat layar muncul, terlihat di sana keluarga besar Tampubolon tengah berkumpul. Melva pun tersenyum dengan sumringah, melihat latar belakang tubuh Defan, dikerumuni oleh keluarga besar.
__ADS_1
"Halo!" sapa Melva, saat melanjutkan santapan makan malam.
"Halo, mam! Lagi makan juga?" balas Defan, membalas senyuman lebar sang mama.
"Hu'um ... lagi kumpul kalian?" tambah Melva.
Defan memutar layar ponselnya, menyorot pihak keluarga secara bergantian. Mengetahui bahwa video call sudah diangkat oleh istrinya, Desman pun menghampiri.
"Halo, ma! Lagi ngapain?" ucap Desman, merebut ponsel Defan.
"Lagi makan, mama, pak! Ada acara apa? Kok tumben semua keluarga kumpul?" sahut Melva, tak mengingat momen arisan yang diselenggarakan karena pikirannya hanya berada di sana.
"Oalaah! Lupa, mama? Acara arisan keluarga loh!" jawab Desman, lalu bergantian memberikan ponselbDefan pada kedua mertuanya.
"Halo, boru! Kok lama kali kau di sana!" ucap Opung Matua, seraya menyantap makan malamnya.
"Minggu ini aku pulang, pak!" jawab Melva, tersenyum melihat wajah pria yang dirindukannya, sudah lama ia tak berjumpa dengan bapaknya.
"Oh, hati-hati lah, boru!" Opung Matua menyerahkan ponsel pada opung Tiur.
"Cemana kabarmu, Mak Defan? Lama nggak kau telepon kami, acara arisan pun kau nggak ikut!" racau Opung Tiur, dengan cerewet mengeluhkan anaknya.
"Ah, mamak inipun! Cuma dua minggunya aku di sini! Memang lupa aku nelepon mamak sama bapak. Tapi sekarang udah bicara kan kita!" kekeh Melva, meluluhkan hati sang mama.
"Mana mungkin kukirim masakan dari Jakarta, mak!" sahut Melva, terkekeh seorang diri.
Anggi pun penasaran, setelah menyelesaikan makan malam, ia langsung berada di samping sang mama, ingin ikut-ikutan melihat wajah opungnya yang sudah lama tidak terlihat.
"Halo, pung!" sapa Anggi, melambaikan tangan.
"Halo, pung!" balas Opung Tiur, ia memang suka memanggil cucunya dengan panggilan pung, sudah menjadi kebiasaan di keluarga mereka.
"Kayak mana kuliahmu, pung?" sambar Opung Matua, memunculkan wajahnya di samping sang istri lantaran mendengar suara cucu bungsunya.
"Baru ospek kami, pung. Belum belajar, minggu depanlah dimulai," jawab Anggi, lugas.
"Oh iyalah-iya, bagus-bagus di sana, ya, pung!" pesan Opung Matua, lanjut lagi menyantap makanannya yang belum habis.
"Kau mau bicara sama bapakmu?" tandas Opung Tiur, mulai lelah memegang benda pipih di tangannya sembari menyantap makan malamnya.
"Bolehlah, pung!" jawab Anggi.
__ADS_1
Melva masih menyantap makanan, sesekali ia melirik percakapan antara Anggi dan lawan bicara yang muncul pada layar ponsel. Tak berselang lama, wajah Desman pun kembali terlihat di layar.
"Apa, boru?" tanya Desman, saat mertuanya memberikan ponsel.
"Kayak mana kabar bapak? Sehat?" imbuh Anggi basa-basi.
"Ah, baru kemarin pun kau telepon bapak! Apa lupa kau?" tampik Desman, berdecak pada anak bungsunya.
"Hehe!" Anggi hanya terkekeh, lalu memberikan ponsel itu pada sang mama.
"Jadi siapa yang menang arisan, pak?" ujar Melva, penasaran dengan pemilik uang arisan yang jatuh kali ini.
"Keluarga menantumu, ma!" jawab Desman.
"Menantunya, ya, menantu abang juga!" timpal Devi, tertawa terbahak-bahak, yang lain pun mengikuti.
"Oh ... jadi bapak si Dira yang menang? Mau dipakai untuk apa uang itu?" tanya Melva, menatap fokus suaminya setelah menyelesaikan makan malam.
"Lae, jawablah ini!" tampik Desman, membalikkan layar ponsel menghadap wajah Sahat.
"Heh ... Ito, apa kabarmu?" sapa Sahat, tersenyum lebar menyambut kakak tertuanya.
"Sehat, Ito! Kau apa kabar?" balas Melva.
"Sehatnya kami semua di sini! Apa yang kau tanya?" terang Sahat.
"Jadi untuk acara apa kau pakai uang arisan itu?" cecar Melva, to the point.
"Liburan kita sekeluarga, tenanglah kau di situ, Ito!" jawab Sahat.
"Kapan? Nggak minggu ini kan? Tunggulah aku pulang dulu!" pinta Melva, bernegosiasi pada adik lelakinya.
"Tenanglah kau, minggu depan kita liburan! Memang mau kami tunggu kau pulang dulu," sambung Sahat.
"Okelah, lanjutlah acara kalian, ya! Sehat semuanya! Horas!" tutup Melva, mematikan sambungan telepon.
Keluarga Tampubolon pun masih berbincang meski sudah menyelesaikan santapan malam. Mereka mulai membicarakan tentang rencana liburan yang akan diselenggarakan pekan depan.
Persiapan dan perencanaan harus dipersiapkan dengan matang. Mengingat Defan dan Dira pernah berlibur ke sana, Opung Matua memberi mandat untuk mempersiapkan liburan kali ini.
"Def, sini dulu!" titah Opung Matua, menganggukkan tangan agar Defan mendekat.
__ADS_1
"Ada apa, pung?" tanya Defan, menatap manik indah milik opungnya.
"Hemm ... bisa kau siapkan acara liburan kita?" tanya Opung Matua, membuat Defan diam seribu bahasa.