Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
Tersindir


__ADS_3

Perjalanan selama 5 jam sudah dilalui, sebelum jam 12 malam, semua keluarga diantar masing-masing ke rumahnya. Hingga terakhir, keluarga Defan yang diantarkan sampai di depan kediaman Desman Sinaga.


"Def, kalian nginap kan? Sudah malam, kasian kalau mengantuk dijalan," tutur Melva, menatap anak dan menantunya.


"Iya, mam! Nginap kok!" balas Defan, mengekori kedua orangtuanya dan Niar untuk masuk ke dalam rumah.


Dira dengan mata yang memerah dan mata yang sayu, sudah merasakan kantuk bukan kepalang. Ia bahkan tak sanggup lagi menahan agar bola matanya membelalak lebar.


Saat sampai di tempat tidur, Dira menghempaskan tubuhnya. Selama masa perjalanan, Dira tak sekalipun memejamkan mata karena setia menemani suaminya menatap jalanan.


"Ayang, ganti baju dulu!" titah Defan, yang melihat istrinya tepar di ranjang tanpa menyahuti.


Defan bergegas mencuci muka serta mengganti baju yang dipakainya. Lalu, karena istrinya tak bergerak bahkan tak mau membuka mata, akhirnya Defan yang menggantikan baju tersebut.


Tak berselang lama, ia ikut masuk ke dunia mimpi. Menjelajahi alam bawah sadar.


****


Pagi menyapa, Dira bangun lebih awal karena ia sadar sedang tidak berada di rumah sendiri. Menginap di rumah mertuanya membuat ia harus sadar diri.


Mengikuti aturan yang dibuat oleh sang mertua harus sudah berada di meja makan tepat pukul 6 pagi. Hari ini, Dira sudah memiliki kegiatan kampus di pagi hari.


Flashback!


Satu minggu kemarin, Dira sudah mengikuti kegiatan belajar mengajar di kampus. Hari minggu pertama berjalan kondusif layaknya mahasiswa baru.


Kegiatan kampus pun tidak merepotkan. Masih sekedar pembelajaran umum, belum dilakukan penelitian atau praktikum karena terlalu dini untuk maba seperti Dira.


Selama satu minggu, Dira bersama ketiga sahabatnya tetap meluangkan waktu untuk berkumpul bersama. Meski jam kuliah berbeda, mereka tetap janjian dan saling menunggu satu sama lain.


Tak hanya itu, saat berada di kantin kampus, Dira juga menyampaikan kepada ketiga sahabatnya, kalau ia bersama keluarga besar akan berlibur ke Danau Toba.


"Serius, Dir? Kau ke sana lagi?" ucap Carol, tak menyangka Dira seberani itu untuk menginjakkan kaki lagi di tempat yang menyisakan trauma.


"Iya, sudah sesuai rencana keluarga besar," jawab Dira.

__ADS_1


"Terus kau ke tempat kita liburan waktu itu?" timpal Jenny.


"Enggak tahu tuh, abang def yang siapin semuanya. Aku sebenarnya nggak mau ke sana lagi. Tapi abang menyakinkan kalau semua akan baik-baik saja!" terang Dira.


"Iyah, nggak apa-apa sih sebenarnya. Tapi kau harus hati-hati, Dir!" pesan Shinta, tak mau kejadian sebelumnya terulang, lalu dijawab dengan anggukan mantap oleh Dira.


Flashback off!


"Pagi, Inang!" sapa Dira, setelah turun dari lantai dua. Sebelumnya ia sudah membangunkan suaminya agar segera bergabung dengan semua orang di meja makan.


"Pagi!" jawab Melva, mengulum senyum lebar di wajah.


"Pagi-pagi sudah rapih, ada kelas?" celetuk Niar, menyorot penampilan Dira dari atas hingga bawah.


"Iya, Edak! Kebetulan pagi ini ada kelas, jadi harus berangkat lebih awal!" beber Dira, menarik sebuah kursi untuk tempatnya duduk.


Tak berselang lama, Desman dan Defan baru saja tiba di meja makan. Keduanya sudah rapih mengenakan setelan jas serta membawa tas kerja.


"Pagi!" sapa Defan pada seluruh anggota keluarga.


"Kau ada sidang, Def?" tanya Desman, dijawab dengan gelengan kepala oleh Defan.


Flashback!


Rencana Desman untuk menyerahkan sebuah kasus pada Defan senin itu sudah terlaksana. Ia memberikan sebuah berkas tentang kasus penculikan anak yang tengah marak baru-baru ini.


Sebenarnya, Desman ingin menanganinya tetapi ia juga merasa lelah dengan usianya yang semakin tua. Banyak kasus membuatnya sering lupa bahkan beberapa kasus sempat terabaikan.


"Pak, mana kasus yang bapak bilang?" ujar Defan, masuk ke dalam ruangan paling terbesar di kantor itu.


"Nih!" Desman mengulurkan tangan, memberikan sebuah berkas untuk ditangani oleh Defan.


Defan membuka lembaran demi lembaran, membaca secara sekilas. Lawan kali ini adalah si penculik anak.


Seorang anak laki-laki diculik oleh seorang pria yang merupakan teman dari sang ayah. Selama berminggu-minggu, anak tersebut di bekap di rumah si penculik.

__ADS_1


Berkat bantuan kepolisian setempat, keluarga korban melaporkan kejadian berbekal bukti melalui CCTV yang berhasil menyorot si pelaku saat mengajak sang korban dari daerah sekitar.


"Oh, bentar lagi ini sidangnya, pak?" tanya Defan, memastikan kalau penglihatannya tidak salah.


"Iyah, kurasa. Kau tengoklah berkasnya, ada jadwal sidang. Tersangka akan diadili dalam waktu dekat!" tandas Desman, fokus menatap berkas lain.


"Baiklah, akan aku tangani. Aku pamit dulu, pak!" ujar Defan, berlalu pergi dari ruangan CEO S.N.G Lawfirm.


Flashback Off!


"Nggak ada, pak! Untuk minggu ini, sidang dari kasus yang bapak kasih. Tapi dua hari lagi kok!" jelas Defan, duduk di kursi disamping sang istri.


"Oh ... jebloskan pelakunya itu ke penjara dengan hukuman berat. Kabarnya dia seorang pedopil juga, bahkan baru keluar dari penjara beberapa bulan lalu. Kini sudah berulah lagi!" sesal Desman.


"Iya, hasil visum korban juga membuktikan seperti itu, pak! Katanya dia dicabuli oleh lelaki itu. Harusnya pria itu bisa mendapatkan hukuman kebiri apalagi kasusnya sudah berulang-ulang!" ungkap Defan.


"Harus! Kau harusnya bisa tuntut ke hakim untuk dilakukan kebiri pada tersangka," tegas Desman.


Karena membicarakan mengenai kasus pekerjaan, alhasil Melva menengahi. Meminta bapak dan anak itu segera menyudahi percakapan dan menyantap sarapannya.


"Sudah, sarapan dulu! Nanti terlambat loh!" titah Melva, menuangkan beberapa sendok nasi goreng dan lauk ke piring suaminya.


Dira juga melakukan hal yang sama dengan mertuanya. Namun, Defan sedang tak ingin menyantap nasi goreng, ia meminta diambilkan roti dengan selai coklat.


"Yang, roti aja!" bisik Defan, saat melihat istrinya ingin menyendoki nasi goreng, Dira pun mengangguk cepat.


Ia mengambil dua helai roti, mengoleskan selai coklat, lalu memberikan pada suaminya. Tak lupa, jus jeruk buatan para maid di rumah itu juga disajikan. Mereka sudah mengetahui kesukaan Defan sebagai tuan muda di rumah ini. Jus jeruk tak boleh terlewatkan pada penyajian sarapan.


"Ini baru jus jeruk asli!" ucap Defan, setelah meneguk jus jeruk yang terasa nikmat.


Selama di rumah, Dira tak pernah membuatkan jus jeruk asli. Ia hanya memberikan jus jeruk kemasan pada suaminya, lagi pula Defan tak pernah protes.


Namun, melihat suaminya pagi ini merasakan kenikmatan saat meneguk minumannya, Dira merasa tersindir. Ia harusnya lebih memperhatikan suaminya, apa saja yang menjadi kesukaan pria itu.


Setelah menyelesaikan sarapan pagi, semuanya beranjak pergi. Melva pun mengantarkan suami dan anak-anaknya ke depan rumah.

__ADS_1


"Niar, kau kok nggak pernah sapa abang di kantor?" cecar Defan, menatap sengit adik perempuan keduanya, saat berjalan gontai menuju depan rumah.


__ADS_2