
Dira menatap lekat Jenny sembari merasakan kegusaran saat Jenny mengernyitkan alis. Ia khawatir ternyata dulu pernah mengalami seperti apa yang dialami oleh Carol saat ini. Saat Dira merasakan ketidak nyamanan karena Jefri berada ditengah-tengah mereka.
"Iya, sih dulu kita juga sempat kesal kemana-mana kau selalu diikuti suamimu," lirih Jenny dengan nada yang lembut agar tidak menyinggung perasaan Dira.
"Berarti apa yang terjadi pada Carol sekarang, dulunya juga terjadi padaku juga, ya? Padahal aku sendiri merasa kesal pada pacar Carol. Ternyata itu juga berlaku padaku," kekeh Dira, sembari merutukki kebodohannya.
"Ya, sih ... siapa yang nggak jengkel kalau selalu dibuntuti kemanapun apalagi saat berkumpul bersama teman-temannya, kita kan jadi merasa tidak nyaman tahu," sesal Jenny, menunjukkan senyum lebar pada sahabatnya.
"Tapi mau bagaimana lagi karena saat itu kan aku baru saja menikah, kalau sekarang sudah lain cerita. Bang Defan udah tidak terlalu sering menimbrung dengan kita," sahut Dira.
"Ya, makanya sekarang kau harus lebih sabar jika melihat pacarnya Carol ada di tengah-tengah kumpulan kita karena dulu juga sempat terjadi seperti itu denganmu. Jadi kau harus memakluminya," pesan Jenny dengan sabar.
Mereka berdua berjalan keluar kampus, hari ini Dira sepertinya tidak akan dijemput oleh suaminya karena sebelumnya Defan sudah menghubungi Dira bahwa ia mau menemui seorang preman bersama mertuanya.
Oleh karena itu, Dira terpaksa pergi berdua dengan Jenny menaiki angkutan umum ataupun ojek online, mereka juga masih bingung ingin pulang dengan kendaraan apa karena melihat kemacetan lalu lintas.
Saat berada di depan pintu gerbang, tiba-tiba mobil Angga melintas, berhenti tepat di samping Dira. Angga pun menawarkan untuk memberikan tebengan pada Dira dan Jenny tetapi ditolak dengan tegas oleh Dira.
"Woi, kelen mau pulang, kan?" tanya Angga, dengan sedikit berteriak sehingga Dira dan Jenny serentak menoleh.
"Iya, kami mau pulang, kenapa?" sosor Jenny, sebab Dira masih terpaku diam menatap Angga karena pria itu entah mengapa tiba-tiba menyapa mereka berdua hingga menawarkan pulang bersama.
"Udah, ayo bareng sama aku aja," pinta Angga.
"Bagaimana, Dir?" bisik Jenny.
__ADS_1
Jenny tak ingin memberikan pendapat secara sepihak, sebab ada Dira di samping. Tentu saja Dira pasti memiliki pendapat tersendiri sehingga Jenny tidak bisa langsung mengiyakan atau menolak permintaan Angga teman satu jurusan dengan mereka.
"Janganlah, nggak enak nanti kalau ketahuan sama Bang Defan," tolak Dira, secara halus dengan berbisik pada Jenny agar Jenny bisa menyampaikan langsung pada pria itu.
"Yaudah kalau gitu aku yang kasih alasan deh buat dia," timpal Jenny.
Jenny pun kembali menoleh pada Angga dan ia meneriakkan sesuatu pada pria itu. "Gausah, Ngga ternyata si Dira sudah memesan ojek online untuk kita berdua jadi nggak mungkin di cancel," ungkap Jenny seraya melambaikan tangan agar pria itu segera berlalu pergi.
"Yah ... sayang kali, kalau gitu aku lanjut ya, bye!" pamit Angga, lalu segera menginjak pedal gas dengan kencang.
Namun ternyata tiba-tiba tak jauh dari gerbang itu, seorang perempuan menghadang mobilnya, hampir saja tertabrak oleh Angga.
Ciiitt ...
Suara gesekan pedal rem yang tiba-tiba terinjak dengan kencang, akhirnya menyadarkan Angga dari lamunannya. Ia bahkan sempat membenturkan kepala ke setir mobil karena terkejut karena ada seseorang perempuan yang tiba-tiba menghadang mobil, hingga suara klakson berbunyi dengan keras.
Sementara, orang yang sedang menghadang mobil Angga, tak lain adalah dosennya yakni Maudy, sengaja berdiri tepat di depan mobil Angga dengan membentangkan kedua tangan.
Sejak tadi, dari kejauhan tadi Maudy sudah mencuri-curi pandang saat Angga memberikan tawaran pada dua gadis yang ada di pintu keluar kampus.
Maudy sedikit berdecak saat melihat pacarnya itu seakan sengaja menggoda perempuan yang satu jurusan dengannya. Apalagi Maudy mengenal kedua perempuan itu karena ia kerap bertemu saat mengajar di kelas Jurusan Kedokteran.
Saat Angga menatap Maudy dengan wajah yang datar, perempuan itu tiba-tiba saja menyergap, lalu masuk ke dalam mobil, dengan menarik handle pintu secepat kilat dan menutupnya dengan kencang. Tanpa mengucap apapun, ia duduk tepat di sebelah Angga.
Sementara Angga merasa kikuk dan kaku saat ia terciduk mengenakan mobil mewah ke kampus. Ia bingung ingin melakukan apalagi saat mobil mewahnya sudah terpergok oleh sang dosen yang sudah menjadi pacarnya. Meski mereka terpaut usia yang sangat jauh, Angga tak menampik bahwa Maudy adalah perempuan yang cantik dan cukup memikatnya.
__ADS_1
"Ibu mau apa lagi?" kata Angga dengan mata memicing, jantungnya berdegup kencang kala perempuan itu sudah berada di samping.
Maudy menggigit bibir bawah saat ia mengingat kejadian pertama waktu menyentuh dan menggagahi Angga yang polos. Sementara Angga merasa sudah ternodai dari perempuan yang umurnya terpaut jauh darinya.
"Kok kau nggak ngajak aku pulang, malah ngajak kawan-kawanmu itu!" seru Maudy, menatap Angga dengan curiga.
Ia curiga bahwa Angga merasa tertarik dari salah satu perempuan yang diajak dan ditawari tumpangan untuk pulang bersama.
"Mereka teman satu kelompokku, Bu. Jadi apa salahnya aku mengajak mereka untuk pulang bersama," kilah Angga dengan berbagai alasan agar perempuan itu tidak cemburu secara sembarangan.
Maudy hanya membulatkan mulut dan menutup dengan kedua tangan. Tak lama, tiba-tiba ia mencondongkan tubuhnya mendekati Angga.
Lalu, ia menyodorkan bibir dengan cepat, menyomot bibir kekasih brondongnya, sehingga membuat pria itu terkejut bukan kepalang. Sontak saja, Angga menghempaskan tubuh Maudy dengan keras sehingga tubuhnya membentur jok mobil.
Bruggh ...
"Kau ini apa-apaan sih, kenapa malah mendorongku!" protes Maudy.
Sementara, Angga pun langsung membalas ucapan sang dosen. Apalagi kini, mereka masih berada di sekitaran kampus dan masih banyak yang memperhatikan mereka.
"Ibu, nggak lihat apa kalau kita ini masih ada di depan kampus, gimana kalau ada yang melihat saat ibu nyosor dan mencium saya!" kecam Angga mendelik dengan wajah yang kesal.
"Yah, intinya kan kita sudah di luar kampus, apapun yang kita lakukan itu terserah kita pribadi, ngapain kau malah takut!" terang Maudy
Angga hanya bisa mengelus dada, sebab ia tak akan bisa menang jika berdebat dengan pacarnya. Akhirnya ia segera menginjakkan pedal gas, mobil itu berlalu dari halaman kampus sehingga Maudy berdecit kaget. Bahkan ia pun langsung menyandarkan tubuh di jok mobil dan meraih seat belt yang ada di belakang.
__ADS_1
"Pelan-pelan lah jalannya. Bagaimana sih, aku belum pakai seat belt loh," keluh Maudy dengan raut wajah yang kesal.
Sementara, Angga tak peduli. Ia bahkan tak mau menatap pacarnya, malah sibuk saja fokus menyetir agar matanya tidak menyeleweng kemana-mana. Apalagi Maudy saat itu memakai kemeja yang sengaja satu kancing atas dilepaskan agar belahan dadanya terlihat dengan jelas.