
Di dalam mobil, keempat sahabat itu saling berbincang-bincang persoalan yang mereka obrolkan yakni adalah tentang Jefri, pembicaraan itu masih sangat hangat. Sebab, Dira pun masih penasaran mengapa akhir-akhir ini, Carol tidak terlihat lagi bersama pacarnya setelah ia menyinggung keberadaan Carol yang selalu dihantui oleh pacarnya tersebut.
"Mana pacarmu, Rol? Kok udah nggak pernah nampak lagi?" kata Dira seraya menyengir kuda agar Carol merasa tak tersinggung.
"Entahlah, udah dua hari ini dia nggak ada kabar, entah apa maunya," tandas Carol dengan kesal.
"Kalian mau putus?" celetuk Shinta, padahal hubungan percintaan itu masih seumur jagung.
"Ya, nggaklah! Mana mungkin aku memutuskan Bang Jefri," sahut Carol.
"Jadi, kenapa kalian nggak berkomunikasi sama sekali?" tambah Jenny.
"Entahlah mungkin si Jefri lagi bosan sama aku karena dia udah mendapatkanku," papar Carol.
Tak berselang lama keempat sahabat itu sudah tiba di rumah Dira. Dalam waktu 30 menit perjalanan, akhirnya mereka sampai. Dalam waktu itu juga, Rosma sudah selesai memasak sehingga kedatangan mereka disambut dengan proses jamuan untuk makan siang.
"Mak, aku datang!" teriak Dira dari ambang batas pintu.
Sahat langsung menghampiri ke depan pintu untuk melihat kedatangan boru panggoarannya. Dia langsung mengulurkan tangan langsung dicium oleh keempat wanita itu.
"Ayo, makan!" ajak Sahat, saat melihat anaknya, mereka masuk ke dalam beriringan. Sontak, Dira dan sahabat-sahabatnya melihat barang-barang yang berantakan di ruang tamu.
"Kok banyak kali belanjaan Bapak ini?" tutur Dira.
"Beginilah kalau mau jualan, namanya juga baru awal-awal proses buka usaha. Doakanlah biar lancar," ujar Sahat.
"Jadi apa yang perlu kami bantu?" kata Dira, lantaran tak sabaran ingin membenahi ruangan itu karena terlihat sangat berantakan.
__ADS_1
"Nanti ajalah itu kerjakan, makan dulu aja kita. Kalian udah makan belum?" sambung Sahat.
"Belum, Pak kami tadi di kantin cuma nongkrong aja karena Bapak minta harus datang ke sini makanya aku ajak kawan-kawanku biar bisa mereka bantu-bantu juga. Oh, ya ... terus aku juga nggak bisa sampai lama-lama di sini karena Bang Defan nanti pulang sore. Kami mau lanjut lagi mau makan malam berdua," terang Dira panjang lebar.
Dira sengaja mengabarkan kedua orang tuanya agar keduanya tidak terkejut meski anaknya meminta pulamg lebih awal.
"Ada apa rupanya? Kok mau buru-buru kali kau pulang," ucap Rosma, yang tiba-tiba muncul dari balik dapur.
"Hari ini, amang simatua udah bilang ke Bang Defan, kalau besok dia bakal diangkat menjadi CEO di perusahaannya, karena itulah Abang Defan ngajak aku untuk melakukan perayaan dengan makan malam bersama," sahut Dira.
"Wah, hebat kali suamimu udah udah mau jadi bos saja," sambung Sahat.
"Iya, kok kau nggak cerita sama kami kalau Bang Defan udah mau jadi pemimpin perusahaan itu?" celetuk Carol.
"Ya, nggak bilang apa-apa tadi pas di kantin," keluh Jenny menimpali.
"Udahlah, ayo makan dulu, nanti keburu dingin masakannya. Baru masak mama, enak kali lah pokoknya," seloroh Rosma, mengajak seluruh orang dari ruang tamu untuk makan di meja makan.
Semua melihat masakan yang disajikan terlalu banyak. "Kok banyak kali Mama masak ini, kayak udah mau ada perayaan besar aja," protes Dira.
"Kau kan sama kawan-kawanmu mau datang. Untung aja kau kabari ke Bapakmu, jadi mama bisa siap-siapkan semua masakan ini. Nggak papa lah sekali-kali. Lagian kan kalian mau bantu-bantu di sini," kekeh Rosma.
Semuanya langsung duduk di kursi masing-masing, mengambil posisi dan menyendoki nasi masing-masing. Begitu pula dengan Dira, sudah lama ia tidak menyantap masakan sang. Oleh karena itu, dia langsung mengambil satu piring nasi penuh dan menyantap kari ayam yang tersaji di meja makan.
Tak hanya itu, ia juga mencicipi mie goreng buatan sang mama lalu beralih ke cemilan-cemilan yang ada di meja makan seperti gorengan bakwan, pisang goreng dan lain-lainnya. Entah kenapa perutnya tak kenyang-kenyang karena menyantap masakan favorit hasil buatan tangan sama mama.
"Kok banyak kali makanmu, Dir!" singgung Shinta karena melihat Dira sangat kalap untuk menyantap berbagai makanan.
__ADS_1
"Entah, apa kau hamil?" Jenny mengingat terakhir kali tingkah Dira seperti sekarang, kalap makan dengan porsi besar.
"Enggak, ah ... karena udah rindu kali aku masakan Mamakku, makanya aku makan banyak kali," jawab Dira, sembari terkekeh.
"Oh ... kami kira kau hamil lagi, jadi bisa lebih dijaga biar nggak kejadian kayak waktu itu!" timpal Carol.
Setelah habis menyantap makanan siang, mereka akhirnya berpindah ke ruang tamu dengan melakukan aksi bantu-bantu. Mereka dengan cepat merapikan barang-barang yang berserakan di lantai, Dira membantu memasukkan belanjaan ke dalam beberapa rak. Sementara, Carol dan Jenny mengangkat barang-barang dari ada di halaman luar ke dalam ruang tamu, sedangkan Shinta juga menata jajanan anak-anak yang digantung di depan jendela.
"Kapan rupanya mau jualan, Namboru?" sosor Shinta.
"Ya,'besok udah harus udah mulai dibuka lah makanya harus beres malam ini juga," jelas Rosma.
"Kok bisa kepikiran,'Nantulang bikin usaha kayak gini?" lanjut Jenny.
"Ya, gimana! Demi kebutuhan keluarga yang mendesak sementara tidak ada pemasukan jadi inilah solusinya, harus bikin usaha, mudah-mudahan aja ini bisa lancar dan menghasilkan."
"Amin! Lagian di sekitar rumah ini belum ada kulihat kok yang jualan sembako," papar Dira.
Usai membenahi semua barang-barang, tak terasa sudah memasuki jam 5 sore. Dira pun menghubungi suaminya bahwa harus menjemput di kediaman orang tuanya. Oleh karena itu, Dira segera mandi dan bersiap-siap diri.
"Hebat juga kita, udah beres semua barang-barang di sini. Nggak perlu lagi mamak sama bapak menyelesaikan sampai malam!" Dira mengedarkan pandangan, melihat semua telah rapi dan tersusun dengan rapih.
"Iya,!hebat juga kita loh, padahal waktunya hanya 3 jam aja tapi udah beres semua," tambah Carol.
"Yaudah,'kalau gitu aku mandi dulu. Sebentar kalian di sini aja dulu, ngobrol sambil makan cemilan yang belum habis tadi." Dira berlalu pergi setelah berpamitan, sedangkan Rosma pun menyiapkan teh serta cemilan hingga membawa ke ruang tamu.
Ruangan itu sudah tampak tertata dengan rapi dan siap untuk dibuka warungnya mulai esok pagi.
__ADS_1