
"Taro disini saja mbak," jawab Dira menyisihkan tas sekolah mereka yang tergeletak diatas meja.
Pelayan itu mengangguk, ia langsung memindahkan makanan-makanan itu ke atas meja.
"Gila kau, Dir ... kok banyak kali makanannya. Apa habis kita ini?" tutur Carol terkejut melihat piring-piring yang tersusun rapih diatas meja.
"Tenang ... sekali-kalilah. Lagian kelen emang ga lapar kali? Udah jam 3 sore loh," balas Dira menunjukkan jam di pergelangan tangannya.
Setelah pelayan itu menutup daun pintu lalu pergi, Dira dan ketiga sahabatnya langsung menyantap makanan itu.
*hening
Mereka berempat tampak sibuk menyantap makanannya. Rasanya pun sangat mengugah selera dari tampilan makanan yang tersaji.
Dalam waktu 15 menit, mereka sudah menghabiskan makanannya.
*****
"Def, duet ya lagu ini? Kaya biasa," cetus Dania memilih satu lagi untuk dinyanyikan bersama. Lagu berjudul kepompong itu memang tak luput dari list karokean mereka. Defan mengangguk sekaligus mengambil mic yang tergeletak di atas meja.
Musik pun dimulai. Lagu itu diawali oleh Dania. Saat memasuki reff, mereka menyanyikannya bersama.
Persahabatan bagai kepompong
Mengubah ulat menjadi kupu-kupu
Persahabatan bagai kepompong
Hal yang tak mudah berubah jadi indah
Persahabatan bagai kepompong
Maklumi teman hadapi perbedaan
Persahabatan bagai kepompong
Na na na na na
Keduanya asik bersenandung mengikuti alunan musik. Dania tengah menari-nari, sedangkan Defan hanya duduk menyanyikan lagu tersebut.
__ADS_1
Sesekali ia melihat layar ponselnya, berharap waktu dua jam sudah berlalu. Namun, mereka masih satu jam berada didalam sana.
******
"We ... aku ke toilet dulu bentar, kebelet kali," ucap Dira terburu-buru keluar dari ruangan karaokenya.
Ketiga temannya masih bersantai karena kekeyangan. Meski makanan yang dipesan Dira sangat banyak tapi mereka semua berhasil menghabiskannya.
Dira berlari menuju kamar mandi yang ada disudut ruangan. Ia melintasi ruangan 21 dan 20. Karena terburu-buru agar cepat sampai, setelah membuang air kecilnya ia pun merasa lega.
Di depan cermin, Dira merapihkan baju seragamnya yang mulai kusut. Begitu pula dengan rambutnya, ia juga menyisir dengan jari-jemarinya agar lebih rapih. Tidak tampak acak-acakan.
Setelah keluar dari kamar mandi, Dira berjalan gontai menuju ruangan 22. Ia penasaran dengan ruangan-ruangan yang dilewatinya dengan lampu remang-remang, artinya ada orang di dalam sana.
Tepat di depan ruangan 21, tak sengaja Dira menoleh ke arah ruangan itu. Tampak Dania yang sedang menari di depan layar tv. Dira semakin penasaran, dengan siapa gerangan Dania berkaraoke?
Pikirannya mulai berkecamuk. Satu-satunya orang yang ada dipikirannya adalah suaminya. Karena suaminya adalah sahabat Dania. Dira mengintip dari kaca bening yang ada di pucuk pintu. Ia meneliti ruangan itu.
Dania sedang asik berjoget, di sofa tersebut tampak seorang pria. Remuk hati Dira ketika melihat wajah tampan suaminya ada di sana. Dira ragu-ragu ingin membuka pintu itu dan melabrak suaminya yang sedang asik berduaan berkaraoke di dalam sana.
Namun, tangan Dira bergetar menolak pikirannya yang menyuruh membuka pintu itu lebar-lebar. Ia masih berdiri di depan pintu. Pikirannya mulai melayang-layang mengingat di dalam ruangan itu hanya ada mereka berdua.
Wajah pias Dira membuat ketiga temannya itu saling bertanya-tanya. Dira yang diam melamun, entah apa yang dia pikirkan. Akhirnya, Jenny penasaran dan ia langsung bertanya pada sahabatnya yang diam termenung.
"Kenapa Dir?"
"A–aku bingung," jawab Dira dengan tatapan kosongnya. Tak ada lagi niatan untuk melanjutkan karaokenya.
"Bingung kenapa?" sambar Shinta penasaran, sedangkan Carol dan Shinta tadi masih asik nyanyi berduet ria.
"A–ada bang Defan di sebelah kita. Sama Dania," jawab Dira ke inti permasalahannya.
"Hah? Apa? Yang benar kau?" cecar Carol menghentikan musik lagunya sementara waktu. Ia memencet tombol pause untuk menghentikan lagu mereka.
Dira mengangguk pelan. Tatapannya pun masih kosong. Ia bahkan tak menoleh kepada ketiga sahabatnya.
Jenny meletakkan tangannya di pundak Dira, menggoyangkan tubuh itu agar merespon dengan benar. Mengalihkan pandangannya.
"Sadar dulu! Ceritain yang benar," sungut Jenny semakin berang ketika mengetahui kalau suami sahabatnya bersama perempuan lain.
__ADS_1
"Eh ... tapikan mereka sahabatan. Nggak mungkin ada apa-apa kan?" racau Shinta membuat suasana semakin panas.
"Hush! Mikir dulu kalau mau bicara," timpal Carol mengingatkan.
Dira pun akhirnya menyadarkan dirinya setelah mendengarkan racauan para sahabatnya. Entah kenapa rasanya sakit sekali ketika melihat suaminya sedekat itu dengan perempuan lain, meskipun berkedok hanya seorang sahabat.
"Sebenarnya aku nggak masalah sih we bang Defan sama si Dania itu. Cuma kenapa disini rasanya sakit." Dira menunjuk-nujuk dadanya dengan keras.
"Hah? Apa maksudmu?" seloroh Jenny tak mengerti. Jenny memang agak-agak sedikit lemot kalau memikirkan hal yang menurutnya aneh.
"Berarti kau udah suka sama bang Defan, Dir!" decit Carol menatap lekat sahabatnya.
"Masa sih? Kayanya biasa ajalah. Aku belum suka sama cowok dingin kayak gitu. Sikapnya arogan kali, siapa juga cewek yang suka sama dia." Dira masih tak percaya dengan ucapan sahabatnya.
"Nah ... nah ... itu buktinya kau benci-benci cinta. Mulutmu bicara kasar tentang dia tapi tidak dengan hatimu," timpal Shinta seolah-olah makin bijak.
"Tumben kali kawan kita ini bijak," sindir Carol tertawa kecil. Seketika ia mengembalikan raut wajahnya dengan mode datar dan amarah karena Dira masih diam.
"Oh ... jadi kayak gitu namanya cinta ya we? Baru tahu juga aku," kekeh Jenny menimpali.
Carol pun menyenggol lengan Jenny agar wanita itu diam. Bukan malah mengompori keadaan.
"Eh, jadi gimana nih? Mau lanjut atau labrak mereka ke ruangan sebelah?" usul Carol. Dira pun tampak berpikir sejenak, langkah apa yang pantas ia ambil.
"Menurut kelen gimana? Lagian nggak enak lah we, labrak-labrak orang itu dua padahal nggak ngapa-ngapain," ungkap Dira dengan pemikirannya.
"Gimana kalau kita nimbrung aja yuk? Pengen lihat ekspresi suamimu, Dir?" ucap Jenny memberikan ide anehnya.
"Eh ... ia betul juga tuh. Lagian kan mereka cuma sahabatan. Kalau ada kita tentu biasa aja kan?" papar Carol menambahkan.
"Boleh juga! Kita isengin aja yuk mereka berdua? Gimana-gimana?" seloroh Shinta bersemangat.
Dira pun akhirnya setuju dengan pendapat ketiga temannya. Mereka bertiga keluar dari ruangan. Berhenti tepat di depan ruangan Defan dan Dania.
Terlihat Dania masih asik berjoget sembari bernyanyi di depan. Defan hanya diam memerhatikannya.
1 ... 2 .... 3...
Carol memberi aba-aba, lalu Dira menarik handel pintu. Anehnya, pintu itu memang sengaja tidak dikunci. Defan terkejut dengan kehadiran empat perempuan yang masih berseragam sekolah sedang memelototinya dengan tatapan sinis.
__ADS_1