
Defan terdiam, saat mendengarkan jawaban Angga. Sementara, Dira hanya mengatupkan mulut, bahkan menutup dengan kedua tangannya.
"Astaga!" lirih Defan.
"Kenapa, bang?" Angga menatap sengit lawan bicaranya.
"Engga apa-apa! Bagus-baguslah kau kuliah," pesan Defan, lalu segera keluar dari lift bersama Dira.
Angga pun juga ikut keluar di lantai basement. Dari belakang, Angga memantau pergerakan Dira bersama Defan.
"Kok nggak kau sapa kawanmu itu?" celetuk Defan, saat berjalan beriringan dengan Dira.
"Abang udah bilang kita suami istri?" bisik Dira, setelah mendekatkan tubuhnya dengan tubuh Defan agar tak terdengar oleh Angga.
Posisi mobil mereka pun tak jauh. Angga menaiki mobil miliknya, sedangkan Dira disupiri sang suami, meninggalkan perparkiran.
Saat berada di jalanan, netra Angga terus menatap mobil Defan yang berjalan satu arah dengannya. Ia semakin yakin, kalau Dira kuliah di kampus yang sama.
Tak berselang lama, betul saja dugaan Angga, Dira turun tepat di depan gerbang kampus. Buru-buru berlari agar tidak orang yang melihat dirinya keluar dari mobil audi mewah milik sang suami.
Sementara Angga, langsung menancapkan gas, mobil miliknya memasuki parkiran kampus. Gaya ala anak elit, berparas tampan, sepertinya ia akan menjadi idola mahasiswi kampus setelah muncul di hari kedua ospek.
"Jen! Tunggu," teriak Dira, melambaikan tangan, di halaman kampus.
Jenny sedang berjalan gontai, ia juga baru saja tiba di kampus. Seperti biasa, Jenny menaiki angkutan kota (angkot) untuk menembus jalanan Kota Medan.
"Oi! Buruan!" balas Jenny, melambaikan tangan sembari tersenyum lebar.
Dira berlari kencang, segera menghampiri Jenny yang masih terkaku di tempat. Lalu, setelah tiba, Dira langsung menggandeng tangan Jenny, mereka jalan berdua menuju fakultas kedokteran.
"Kau tahu kalau si Angga satu kampus sama kita?" celetuk Dira, mendapat sorotan tajam dari Jenny, tak lama ia pun menggeleng.
"Memangnya dia lulus masuk kampus ini?" tanya Jenny, sedikit tertegun dengan kabar itu.
"Iya, loh! Tadi pagi aku satu lift sama dia, entah kenapa perasaanku nggak enak. Semua bajunya sama, jangan-jangan dia satu jurusan sama kita?" imbuh Dira, mengatur nafas yang masih terenggal-enggal.
"Loh, terus kau tahu dari mana dia kuliah di sini?" cecar Jenny, mengeratkan genggaman tangan keduanya.
__ADS_1
"Itu, tadi ditanya sama bang defan, aku diam aja sih. Dia juga nggak nanya-nanya aku. Tapi tatapannya kayak curiga gitu samaku!" sahut Dira.
"Loh, jadi dia udah tahu kau sudah menikah sama bang defan? Dan tinggal satu gedung dengan dia?" balas Jenny, sedikit terkejut.
Dira menggeleng tetapi ia belum yakin dengan jawaban sendiri. "Nggak tahulah tapi bang defan nggak pernah bilang sama dia kok. Dia juga nggak pernah nanya samaku!" ucap Dira.
Keduanya memasuki ruangan kelas yang sama. Di pojokan, ada mata elang yang menangkap Jenny dan Dira, menatap sangat tajam. Pria itu, duduk seraya berpangku tangan, menatap dua gadis yang sedang berjalan gontai sembari bercerita.
Dira menoel pundak Jenny. "Itu dia! Tuhkan benar apa kataku!" bisik Dira.
Jenny dan Dira sama-sama gugup, tidak menyangka bisa berjumpa teman sekelas satu SMA dengan mereka. Kali ini, situasinya sangat berbeda. Angga yang menggunakan seragam putih hitam terlihat tampan dan keren. Seperti laki-laki dewasa pada umumnya.
Dira dan Jenny duduk bersebelahan. Tiba-tiba Angga menghampiri, meminta kejelasan pada Dira. "Eh, kelen kok nggak nyapa aku! Kita satu jurusan loh!" kata Angga, berdiri tepat di samping Dira.
"Hehe ... nggak enak kami, mukamu aja galak gitu!" jawab Jenny seraya terkekeh.
"Ah ... alasan aja kau, Jen!" timpal Angga, berdecak karena kesal.
"Dir, jadi kau kuliah di sini? Abang-abang tadi siapamu sih?" cecar Angga, melanjutkan pertanyaannya.
Dira masih berpikir, apalagi alasan yang akan dia sampaikan pada Angga agar teman satu kampusnya itu mempercayai.
"Hah?" Sontak Jenny terkejut, entah apa maksud Dira menyembunyikan status pernikahannya.
Terlebih, dari pria yang bisa dikatakan tinggal satu atap dengan dirinya sendiri.
"Ah, masa sih?" Angga tak percaya begitu saja, sebab gelagat Dira tidak mengatakan demikian saat berjumpa dengannya di dalam lift.
"Iya." Dira menjawab singkat, sembari memalingkan wajah, tak ingin menatap mata Angga yang begitu menukik tajam memandangnya.
"Oh ... jadi kau tinggal sama abangmu di tempat itu? Di lantai dua maksudku." Angga masih berdiri di samping Dira, terus menatap tajam, sedangkan Jenny hanya mendengarkan obrolan dua orang tersebut.
"Emang kau punya abang? Bukannya kau anak pertama?" timpal Angga sok polos.
"Hussh ... udahlah! Ngga, sana duduk di tempatmu! Bentar lagi kita mulai ospek," potong Jenny, agar pembicaraan tak semakin mendalam.
Angga yang melihat beberapa senior masuk ke dalam ruangan, langsung berlari ke kursi. Ia duduk dengan santai menatap senior yang akan memberikan pengarahan pagi ini.
__ADS_1
"Aishh, untung aja senior datang," bisik Dira pada Jenny, seraya mengelus dada karena merasa terselamatkan.
"Kau sih, lagian ngapain ngaku bang defan abangmu! Bikin perkara aja," desah Jenny, mencibir sahabatnya.
"Terucap gitu aja loh!" tambah Dira, lalu membungkam mulutnya saat senior mulai memberikan arahan.
"Pagi," sapa salah satu senior.
"Pagi kak!" seru maba dengan kompak.
"Hari ini, kita ospek di dalam ruangan saja.
"Yah!!" keluh maba dengan kompak.
Kemarin, kegiatan ospek dihari pertama tidak seru padahal dilaksanakan di luar ruangan. Kini, para senior meminta agar pelaksanaan dilakukan di dalam ruangan. Alhasil, para maba menggerutu, entah seperti apa konsep ospek anak kedokteran tersebut.
"Kenapa? Loh, loh?" tanya Senior lain.
"Nggak serulah, kak!" jawab Angga bersuara keras.
"Kau siapa? Anak baru? Atau kemarin nggak hadir?" cecar Senior—Gamal.
"Saya kemarin izin sakit, bang! Baru hari ini masuk, ikut ospek," jawabnya santai.
"Oh, apa kau memberi kabar pada pihak kampus? Dosen? Atau senior?" desak Gamal.
"Saya sudah sampaikan ke pihak kampus. Tadi pagi sudah mengantarkan surat sakitnya juga, bang!"
"Baiklah ... kalau begitu, perkenalkan dirimu pada mahasiswa lain. Kemarin, mereka semua hadir dan saling memperkenalkan diri. Hanya kau yang tidak dikenal mereka!" balas Gamal.
Angga maju ke depan, seketika mahasiswa berseru kegirangan. Melihat wajah tampan, yang keren tetapi sekilas tampak dingin.
"Huuuu ..." seru maba wanita di dalam kelas sembari bertepuk tangan menyambut Angga yang sangat cool saat berjalan ke depan kelas.
"Tenang ... tenang!" Senior—Tika, memperingati mahasiswi agar berdiam diri, mendengarkan pengenalan diri Angga.
"Perkenalkan, saya Angga, berusia 18 Tahun, masih single! Lulusan SMAN 6 Kota Medan!" jelas Angga, kedua tangannya disimpan di dalam saku celana, membuat penampilannya semakin keren di mata mahasiswi.
__ADS_1
"Hooo!" teriak Maba perempuan seraya menepuk-nepuk meja sehingga menimbulkan kegaduhan di dalam ruangan.