
Dira yang mendengar obrolan dua wanita paruh baya itu hanya bisa mengusap dada. Rasa gatal di kuping lantaran terus dicecar tentang kehadiran cucu.
Seakan-akan, Dira semakin muak karena diteror harus segera hamil. "Bagaimana kalau aku tidak bisa hamil? Apa bang defan tetap mau menerimaku?" batin Dira.
Ia pun semakin khawatir, konflik rumah tangga ternyata cukup berat baginya. Setelah permasalahan takut berhubungan intim dengan suami, kini yang menghantui perasaannya adalah harus cepat memiliki anak.
"Apa seluruh orang tua di dunia ini, mengharapkan cucu secepatnya?" gumam Dira, ia mengacak-acak rambutnya semakin merasa frustasi bila terus memikirkan kehadiran anak pada rumah tangga mereka.
*******
Defan mulai membahas tentang kasus yang sidang perkara digelar pada Senin pekan depan. Ia membaca secara teliti, menelaah, serta mengecek kembali bukti-bukti yang sudah terkumpul.
Kali ini, kasus yang ditangani oleh Defan adalah perkara judi online. Ia menangani di pihak korban, korban mengajukan banding untuk pengembalian uang yang terkena penipuan dengan dalih investasi saham yang nyatanya adalah sebuah permainan judi online.
"Cukup memusingkan." Defan memijit-mijit pelipis karena merasa kasus itu justru akan sia-sia hasilnya, sebab pelaku yang mendapatkan uang hasil judi online itupun telah tertangkap, kekayaan mereka juga disita oleh negara.
Sementara, Defan justru melawan pihak negara untuk meminta pengembalian uang korban. Sedikit agak menyerah saat Defan membaca perkara itu.
"Jun, ada berapa banyak korban yang kemarin datang ke kantor ini?" tanya Defan, masih memegang berkas perkara mengenai kasus judi online tersebut.
"Hanya perwakilan saja, pak. Sekitar 10 orang."
Kasus judi online tengah marak dikalangan masyarakat. Banyak juga yang mempromosikan judi online ini melalui influencer dan selebgram agar masyarakat umum tertarik.
Begitu juga dengan Serikat Korban Judi Online (SKJO), mereka tertarik karena diiming-imingi hasil investasi saham yang menggiurkan. Tak heran, jika para selebgram dan influencer itu meraup keuntungan berkali-kali lipat karena banyaknya masyarakat yang terjun langsung memainkan dan terlibat pada judi online tersebut.
"Ini baru sidang pertama ya? Kira-kira berapa kali sidang, lawan kita juga sangat sulit," papar Defan meminta saran dari sang asisten.
"Saya juga nggak tahu, pak! Kayaknya panjang sidangnya," jelas Juni.
"Waduh! Kenapa kita ambil kasus ini, kemenangan cuma 10% saja," tandas Defan.
"Saya juga lupa pak, waktu itu bapak nggak ada di kantor. Saya juga telepon bapak minta persetujuan, lalu bapak bilang ambil saja," jawab Juni kembali mengingat-ingat momen itu.
"Yasudahlah, kita coba dulu! Buktinya apa saja yang diberikan para korban?" sahut Defan.
"Akun para korban, bukti transfer, serta screenshoot ajakan dari influencer maupun selebgram agar mereka ikut bergabung dalam investasi itu pak." Juni lalu memberikan kepada Defan seluruh bukti yang telah ia simpan.
__ADS_1
"Baiklah, terima kasih." Defan pun langsung membaca barang bukti tersebut.
"Untuk saksi siapa yang bersedia?" lanjut Defan lagi.
"Banyak pak, ketuanya juga mau memberikan kesaksian."
"Hubungi mereka, salah satu perwakilan harus bersedia Senin nanti menjadi seorang saksi."
******
"Mak, Nang, lagi ngapain," sapa Dira, seolah-olah tak mendengar percakapan dua wanita paruh baya itu.
"Lagi ngobrol kami, sini duduk kau," ujar Melva, menepuk tikar di samping agar Dira duduk di sebelah.
Dira langsung menuruti keinginan mertuanya. Ia duduk sembari mendengar lanjutan cerita kedua wanita itu.
"Edak maunya cucu perempuan atau laki-laki?" tantang Melva, membuat kuping Dira menjadi risih.
"Kalau aku, ya, dikasih apa aja kuterima, dak," balas Rosma seraya tertawa.
"Aku ke kamar dulu, Mak, Nang," pamit Dira lantaran semakin pusing mendengar celoteh kedua perempuan itu.
"Kok cepat kali?" timpal Melva, menoleh ke arah Dira dengan cepat, karena ia baru saja beranjak ingin meninggalkan kedua wanita itu.
"Iya, mau rebahan sebentar, Inang."
"Yaudah, istirahatlah kau sana." Melva pun kembali fokus pada besannya.
****
"Baguslah aku di kamar, nyesal kali aku gabung sama mamak dan inang," batin Dira, segera berlalu dari tempat itu.
Dira langsung merebahkan diri di atas ranjang. Tampak Anggi juga belum terbangun dari tidur nyenyaknya.
"Dari mana, Edak?"
Dira langsung menoleh ke sumber suara, ia kira iparnya itu belum terbangun. Ternyata dugaannya salah, Anggi hanya menutup mata karena belum tersadar penuh dari tidur panjang.
__ADS_1
"Dari depan, Dak! Kukira edak belum bangun loh," balas Dira, menatap ke arah wanita sebayanya.
"Hehe ... aku masih tutup mata aja, malas kali mau gerak," tampik Anggi.
"Edak kapan masuk kuliah?" ucap Dira basa-basi.
"Pertengahan Agustus ini, kami udah masuk. Ospek sudah mulai awal bulan Agustus," terang Anggi.
Anggi memilih kuliah di ibu kota Jakarta. Ia berhasil masuk Universitas Indonesia (UI), kampus negeri bergengsi nomor satu. Tentunya, mengikuti alur dan jejak keluarga, Anggi memilih untuk masuk Fakultas Hukum.
"Jadi kapan, Edak berangkat ke Jakarta?" sergah Dira. Dirinya akan merasa kesepian, kala ipar yang paling akrab dengannya pergi merantau.
"Akhir bulan ini, harus sudah ke Jakarta, Dak. Aku harus cari kost-kostan juga," papar Anggi.
"Enaklah, Edak, ya? Jadi anak perantauan, bebas mau ngapain hehe."
"Tapi pergaulan di sana yang susah, dak! Circlenya beda sama kita di sini. Apalagi yang masuk di sana orang-orang yang pasti berduit semua," terang Anggi.
Dira hanya bergeleng lalu menyahuti wanita itu. "Iya, edak juga harus hati-hati sama pergaulan di sana. Jangan ikuti arus yang buruk. Pilih-pilih teman yang baik."
"Itu sudah pasti, apalagi anak hukum harusnya lebih taat hukum, iya nggak sih? hahah," kekeh Anggi.
"Terus edak cari jodoh orang sana aja," canda Dira, Anggi pun langsung membelalakkan matanya.
"Boro-boro mikirin jodoh, dak! Mikirin kuliah aja udah pusing kayaknya. Jodoh masih lama pun bisa, dak!" kata Anggi.
"Iyalah, yang penting kita bisa lulus dulu, ya kan? Biar orang tua ini nggak bising dan bawel," racau Dira.
"Oh ... itu yang harus kita dulu kan! Bisa digantung aku kalau nggak lulus dari sana." Anggi tertawa terpingkal-pingkal.
Ketika mereka sedang asik berbincang, Rosma masuk ke dalam kamar. Mengajak kedua gadis itu untuk lanjut membantu penataan barang yang belum selesai.
"Ayo, kalian dua bantu lagi," titah Rosma, kemudian ia langsung berjalan gontai ke ruang tamu.
Di dalam ruang tamu, Melva sudah mulai menata-nata barang yang ada di sana. Bahkan, kedua wanita paruh baya itupun mengangkat meja makan menuju dapur, membuat Anggi dan Dira terkejut.
"Udah, mak, biar aku aja sama edak, berat itu. Lagian kenapa nggak suruh ito-ito aja sih! Bangunkan lah orang itu," sesal Dira, ia bersama Anggi mengambil alih, mendorong meja makan ke dapur.
__ADS_1