
Siang itu, Anggi benar-benar makan siang berdua sang dosen. Meski merasa kikuk dan aneh, tetapi ia mulai merasa nyaman berada di sekitar Jaki Ananda.
Apalagi, Jaki seperti tahu keinginannya, banyak makanan yang tersaji bahkan membuat Anggi langsung menyantap beraneka makanan dengan porsi yang kecil. Alhasil, mereka saling berbagi makanan sembari bersendau gurau.
"Pak, kenapa ngajak saya makan siang?" ucap Anggi, seraya menyantap makanannya bak orang yang kelaparan.
"Ya, saya pengen saja. Emang ada masalah kalau ngajak wanita single dan saya sendiri single, untuk makan bersama?" jawab Jaki asal-asalan.
Padahal, Anggi tak pernah mengungkap status singlenya tetapi mengapa sang dosen malah sok tahu.
"Tahu dari mana, Bapak kalau saya single?" cecar Anggi, dengan tatapan penuh selidik.
"Feeling saja," jawabnya singkat.
"Ah, sok tahu, Bapak!" imbuh Anggi dengan lirih tetapi masih terdengar di telinga Jaki.
"Bukan sok tahu, memang kenyataannya seperti itu. Perempuan yang masih single pasti hidupnya ke mana-mana selalu sendiri," celetuk Angga, mendapat tatapan sinis dari Anggi.
Ya, Anggi memang ke manapun terlihat sendiri. Jangankan pacar, teman akrab saja tidak punya. Dia terlihat lebih sibuk dengan dunia belajarnya, selalu ditemani oleh buku-buku yang ada di dalam tas maupun dekapannya.
"Nggak kok!" kilah Anggi, menolak pernyataan sang dosen.
Meski dalam batin, Anggi sebenarnya merutukki diri sendiri karena terlalu terlihat jelas setiap harinya kalau ia ke manapun selalu sendiri.
"Kalau saya ajak jalan mau?" tawar Jaki, menatap dengan senyum menggulum di wajah.
Anggi hanya terdiam kaku, ia bingung mau menjawab apapun. Sebab, pria itu tampak sungguh-sungguh ingin mendekatinya.
"Maaf, Pak sepertinya tidak bisa." Anggi menolak dengan tegas.
Meski Jaki Ananda masih seagama dengannya tetapi Jaki bukanlah pria yang tepat. Keluarga akan mencecar Anggi bila tak mendapatkan pria yang satu suku dengan mereka.
"Kenapa?" tanya Jaki, menatap mahasiswanya sangat lekat.
"Nggak bisa, nanti bapak bertindak lebih jauh!" racau Anggi, lalu menyudahi makan siangnya.
__ADS_1
Anggi kemudian beranjak sehingga Jaki langsung mencegah kepergian perempuan itu.
"Mau ke mana?" sergah Jaki, menarik lengan Anggi dengan cepat.
Anggi melepaskan genggaman tangan Jaki, menghempaskannya begitu saja. Ia tak mau kepergok oleh orang yang tiba-tiba masuk ke ruangan itu.
"Tenang saja, tidak akan ada yang melihat," sambung Jaki, masih menatap Anggi dengan serius.
"Saya pamit dulu, Pak! Mau ada kelas lagi," tutur Anggi.
"Yasudah!" jawab Jaki, kemudian berdiri dan merebut ponsel Anggi dari dalam tas.
Ia mengetikkan sesuatu di layar ponsel itu. Bahkan, memasukkan nama sesuka hatinya.
"Itu nomor saya, hubungj saya kapanpun kamu mau," timpal Jaki seraya mengerlingkan satu mata dengan genit.
Anggi terpaku menatap ponsel, ada nama dosen baik hati di sana lengkap dengan nomor ponsel Jaki pribadi. Namun, ia tak ingin menanyakan lebih jauh pada dosennya.
Anggi memilih pergi dari ruangan itu setelah berpamitan. Saat diperjalanan menuju kelas, Anggi tak sengaja menabrak tubuh seseorang.
"Maaf, saya tidak sengaja," ucap Anggi, menunduk berkali-kali untuk meminta maaf.
"Nggak apa-apa, Nak! Silahkan lanjutkan perjalananmu," ujar seorang perempuan berdandan menor yang usianya bahkan sudah diatas 50 tahunan.
"Maaf, Bu saya tidak sengaja!" lirih Anggi, lalu menyematkan senyum terbaiknya agar ibu-ibu itu benar-benar memaafkannya.
Ibu itu hanya tersenyum kecil, lalu melanjutkan perjalanannya. Ia menuju ruangan Jaki Ananda, saat itu juga Anggi menoleh dan melihat ibu tersebut masuk ke ruangan dosennya.
"Siapa ibu itu? Apa mamanya pak Jaki?" batin Anggi menatap penuh selidik.
*****
Dira dan teman-temannya tengah menyantap siang. Tapi, Dira merasa risih karena disekitar mereka selalu ada Jefri yang mengikuti Carol saat jam istirahat siang berlangsung.
Dira pun berbisik pada Carol, menanyakan mengapa pacarnya selalu mengikuti dan berkumpul dengan teman-temannya.
__ADS_1
"Rol, nggak bisa kau usir dulu pacarmu itu? Ganggu kali kurasa," tutur Dira, dengan suara lirih agar tak diketahui oleh Jefri.
"Maklumlah, baru jadian makanya dia nempel terus kayak prangko. Kayak mana lagi mau kubuat, udah sering kuperingatkan lebih baik dia bergabung sama teman-temannya," jawab Carol panjang lebar.
"Aish, nggak nyaman kali aku loh, suruhlah dia pergi sama kawannya," desak Dira, agar Carol menuruti kemauannya.
Sebab, semenjak Jefri ikut bergabung dengan mereka, entah mengapa perkumpulan itu terasa garing. Dira dan teman-temannya tidak leluasa untuk berbicara, menceritakan apapun yang mereka alami.
Oleh karena itu, Carol langsung menyampaikan pesan Dira. Ia tak ingin persahabatan mereka terusik hanya karena kehadiran pacarnya.
"Bang, mending kau pergi sama kawanmu saja. Semua kawanku jadi merasa nggak enak dan leluasa!" bisik Carol pada Jefri.
Awalnya, Jefri menolak tetapi karena Carol terus memaksa dan mendesaknya, akhirnya pria itupun menyerah. Ia berpamitan pada Dira dan yang lainnya.
Bahkan, memberi kode pada Carol agar tetap berkirim pesan karena mereka tak lagi berdekatan. Setelah Jefri pergi dari perkumpulan itu, akhirnya semua mulai bersuara.
"Ih, heran kali akulah sama bang jefri itu, terlalu posesif menurutku," celetuk Jenny dengan frontal.
Jenny tadinya juga ingin menggerutu tapi tidak bisa dilakukan secara langsung. Hanya Dira yang berani meminta pada Carol, itu juga demi kebaikan bersama.
"Iya, masak terus kau diekori sih! Kesal kali aku, mau bicara apapun jadi nggak lega," sosor Shinta.
"Iya, meskipun makanan ini dibayar oleh dia tapi asli kami nggak nyaman loh, Rol!" timpal Dira, dengan tatapan sinisnya.
"Iya, sorry lah we. Aku juga sebenarnya nggak mau diekori terus tapi dia susah kali dibilangi. Makanya kesal juga aku," balas Carol.
"Harusnya dia kasih ruang dan waktulah untuk pacarnya, jangan terus berada disekitar, apalagi nimbrung sama teman-teman pacarnya," kilah Shinta.
"Udahlah, mulai besok kusuruh dia gabung sama teman-temannya," tandas Carol.
Persiteruan mereka berakhir dengan berujung pada Carol yang mengalah. Ia tahu kalau itu adalah kesalahannya, apalagi semua teman-temannya memang protes dengan keberadaan sang pacar.
Usai menyelesaikan makan siang, mereka akhirnya bubar. Ada yang pulang karena tak ada kelas lanjutan. Sementara ada yang kembali masuk ke kelas lantaran jadwal kuliah akan dimulai.
Sementara Dira dan Jenny harus melanjutkan kuliah mereka. Carol dan Shinta memilih pulang. Tapi, Jefri mencegah kepergian Carol. Bahkan, ia juga ingin ikut dengan pacarnya.
__ADS_1
"Mau ke mana, Sayang?" tanya Jefri, mencegat tangan Carol dengan cepat.
Saat berada di kantin, mereka hanya berjarak satu meter saja. Sehingga Jefri masih bisa memantau pacarnya dari kejauhan.