Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
berseri-seri


__ADS_3

"Pelan-pelan aja bang. Kalau waktunya tiba abang pasti tergoda kok. Sekarang kan belum, aku saja belum menerima pernikahan ini," akunya dengan kepala tertunduk.


"Aku mengerti Dir, aku tahu kalau kau belum siap. Menikah diusia dini, dapat suami sepertiku. Yang dingin dan suka bertindak semaunya," beber Defan.


"Iya bang. Jadi bagaimana? Apakah besok harus pasang KB atau enggak?" ujar Dira mengalihkan ke topik pembicaraan awal mereka.


"Tidak perlu! Aku nggak bakal menyentuhmu kok," ucap Defan santai.


Dira pun menjadi bimbang, sementara orang tua mereka sudah mendesak agar lebih baik dipasang KB untuk mengantisipasi. Namun, Dira sendiri takut sekali rasanya jika disentuh oleh suaminya sendiri.


Anak remaja seperti Dira dipaksa untuk dewasa, mengerti keadaan serta keinginan orangtua mereka.


Huffttt


Dira membuang nafas kasarnya memikirkan semua hiruk pikuk dalam hidupnya. Mengapa ia harus repot memikirkan hal yang menurutnya tidak penting.


"Yaudah kalau abang sudah yakin tidak akan menyentuhku, aku mempercayakan semuanya kepada abang! Jangan sampai abang kelewat batas," kecam Dira menyipitkan kedua matanya yang terasa lelah.


Defan hanya terdiam mendengarkan perkataan istrinya, tak membalas ucapan apapun. Dia hanya memandangi punggung Dira yang membelakangi dirinya.


Defan merubah posisinya setelah tak mendengar lagi suara gadis kecil itu. Hanya ada suara hembusan nafas yang keluar, tertanda kalau gadis kecil itu telah tertidur pulas. Kini Defan menatap langit-langit memikirkan ucapan para tetua di rumah itu.


Ia menjadi gamang, bimbang, serta resah. Mampukah ia menahan hasratnya setelah melalui kebersamaan setelah seminggu kemarin?


Terlebih, banyak kejadian hal tak terduga yang telah terjadi diantara mereka. Mereka berdua bahkan telah saling melihat hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan.


Hahhhh!!


Defan membuang nafas beratnya. Ia semakin galau dengan keputusan yang baru saja dibuatnya. Namun, ia harus menguatkan komitmen untuk tidak menyentuh gadis kecil itu sebelum meluluskan sekolahnya.


Daripada Defan semakin bimbang dengan keputusannya, ia memejamkan matanya sejenak. Dalam pikirannya ingin terus menolak keputusan yang baru saja dikatakannya.


Tiba-tiba Defan tertidur begitu saja. Padahal ia tengah merenungkan keputusan iti.


******


Pagi itu Dira buru-buru berlari ke kamar mandi. Ia kesiangan bangun dihari pertama sekolahnya setelah melalui liburan yang panjang.


Notifikasi di ponsel Dira pun terus saja berbunyi. Grup watsappnya mulai heboh karena Dira belum juga datang ke sekolah, padahal 10 menit lagi bel akan berbunyi.


Carol

__ADS_1


Dir kau dimana?


Jenny


Cepat Dir, sebelum bel bunyi.


Shinta


Nanti kau nggak dibolehin masuk karena terlambat, gagal dong kita ketemu!


Dalam waktu dua menit Dira menyelesaikan pemandiannya. Hari ini dia hanya mandi bebek, secepat kilat selesai padahal baru saja masuk ke kamar mandi.


Sementara di meja makan, seluruh keluarga telah berkumpul terkecuali kedua adik Defan dan Dira. Kedua adik Defan sudah berangkat sejak 10 menit yang lalu, sedangkan Dira masih siap-siap mau berangkat.


"Def, mana istrimu?" tanya Melva karena seharusnya Dira harusnya sudah berangkat ke sekolahnya.


"Mungkin lagi mandi," jawab Defan asal. Tapi prediksinya itu pun sangat tepat.


Defan sengaja tak membangunkan Dira tadi pagi, ia ingin memberikan pelajaran pada gadis kecil itu. Sebagai pembalasan dendamnya dua hari lalu, saat mereka honeymoon di Bali.


Dira berhasil membuat Defan malu bukan kepalang. Mencoret-coret wajah tampannya. Kali ini, ia juga ingin mendidik Dira agar tak sering kesiangan.


Tak berselang lama, Dira datang dari arah tangga. Ia melihat keluarga sudah menyelesaikan sarapan paginya. Sedangkan ia belum sarapan sama sekali.


"Maaf Amang, Inang, Dira kesiangan," lirihnya tertunduk. Tapi ia sangat kesal pada suaminya, Defan yang sudah berpakaian rapih tak membangunkannya dari tadi.


"Loh Dir, bukannya sudah jam 7 kurang 10 menit. Apa nggak terlambat?" tutur Melva kebingungan.


"Iya Inang, Dira mau langsung pamit. Soalnya udah terlambat. Maaf Dira nggak ikut sarapan." Dira melangkah mendekati mertuanya, meraih punggung tangan kedua mertuanya dan menciumnya.


Namun, ia dengan cueknya melewati Defan. "Aku pamit dulu Inang, Amang," tandasnya kemudian berlari ke depan rumah.


Tetapi langkah kakinya terhenti ketika mertuanya memanggil namanya. "Dira!" Melva berdiri, menganggukkan telapak tangannya, meminta datang kembali ke tempatnya.


"Kenapa lagi Inang?" ucap Dira termenung.


"Def, kau kok diam. Antar istrimu sana," tegas Desman melihat tingkah anaknya yang daritadi hanya diam terpaku.


"Iya, kau kok daritadi diam aja Def? Istrimu udah terlambat itu. Kerjaanmu kan masih lama," ketus Melva menyanyangkan tindakan anaknya yang tak memiliki perhatian sama sekali.


"Ehmm..." Defan beranjak dengan malas. Berjalan mendekati wanitanya.

__ADS_1


"Ayo!" ajak Defan bernada dingin.


Mendengar suara suaminya yang kembali ke pengaturan awal, membuat Dira semakin bertanya-tanya. Kenapa pagi-pagi suaminya sudah bad mood.


Padahal, harusnya Dira yang marah pada lelaki itu. Lelaki yang sengaja membiarkannya kesiangan, tak ada niatan untuk membangunkannya.


Dira mengekori suaminya dari belakang. Ia juga melangkahkan kakinya dengan lebar, mengikuti langkah kaki suaminya.


Defan langsung duduk di jok belakang kemudi stirnya. Tak mau membukakan pintu pada istrinya. "Cepat! Nanti terlambat!" ketus Defan melihat Dira yang lelet.


Dira masuk ke dalam mobil, duduk santai di mobil Defan. Ia melirik jam tangannya. Sialnya, hanya tersisa lima menit sebelum bel sekolah berbunyi.


"Bang, tolong cepat! Lima menit lagi sekolah ditutup," titah Dira.


Defan menginjak pedal gasnya, laju mobil itu sangat kencang sehingga kepala Dira kepentok dasbor mobilnya.


"Awwww!" pekik Dira seraya memegang keningnya yang memerah terasa perih.


Namun, Defan hanya diam hanya menoleh sebentar. Kemudian mengemudikan mobilnya dengan cepat. Beruntung sekolah Dira dengan lokasi rumah Defan tidak terlalu jauh.


Mereka tiba tepat waktu di depan sekolah. Bahkan, Dira seorang perempuan yang tidak tahu terimakasih pada suaminya menyelonong begitu saja. Pergi keluar dari mobil tanpa mengucapkan kata apapun.


Ia berlari kencang sebelum satpam sekolah itu menutup gerbang sekolah mereka. Tak ada pamitan maupun ucapan terimakasih dari Dira, membuat Defan mengernyitkan keningnya dengan kesal.


"CK," decak Defan kesal karena perlakuan gadis kecil itu membuatnya bergeleng-geleng kepala.


Hufftt! Dia yang terlambat, aku juga yang repot. Padahal mau kasih dia pelajaran, malah aku yang dikasih pelajaran. Hiks hiks.


Batif Defan bergejolak penuh amukan pada gadis kecil itu. Namun, baru saja ia mau mengemudikan mobilnya meninggalkan depan sekolah Dira, suara notifikasi di ponsel tiba-tiba berbunyi.


Ting


Dira


Abang makasih ya udah antar aku ke sekolah. Maaf tadi nggak sempat pamit dan bilang terimakasih😉


Defan tersenyum malu-malu membaca pesan dari istrinya. Baru saja ia berpikiran negatif pada Dira, tetapi pesan itu berhasil membuat Defan semakin terlena. Padahal hanya sekedar ucapan terimakasih tetapi membuat Defan berseri-seri pagi ini.


Astaga! Sadar Defan! Sadar! Walaupun dia istrimu, tetapi kau tidak bisa memiliki seutuhnya!


Defan menepuk-nepuk pipinya seraya bergumam seorang diri. Ia menginjak pedal gas mobilnya, melaju cepat meninggalkan halaman sekolah itu.

__ADS_1


__ADS_2