
"Yaelah gitu doang kok kesepian! Kan tiap hari juga bakal ketemu di rumah!" tangkas Defan.
Defan dan Dira terus mengedarkan pandangan mereka. Berjalan kesetiap sudut ruangan. Hingga langkah mereka terhenti pada satu ruangan yang tak lain adalah kamar tempat tidur mereka nanti.
Ceklek
Defan menarik daun pintu kamar, membukanya dengan lebar. Dira langsung melewati tubuh suaminya menerobos masuk ke dalam kamar itu.
"Waaaah!" pekik Dira setelah melihat isi kamar mereka. Kamar itu sudah bersih, rapih hingga tertata. Tak hanya itu, ranjang mereka pun telah dibaluti sprei putih yang mewah. Membuat kamar tampak nyaman seperti sedang berada di dalam hotel.
"Kalau gini nggak usah dibersihkan lagi ya bang?" celetuk Dira yang pemalas. Pekerjaan rumah ingin sekali ia hindari, karena sehari-hari sudah bergelut membantu orangtuanya untuk mengurus rumah serta menjaga adik-adiknya.
"Banyak debu! Tetap harus dibersihkan!" seloroh Defan dengan datarnya.
"Hah? Udah sebersih ini?" timpal Dira tak percaya dengan keputusan suaminya.
"Kalau dilihat dengan kasat mata aja ini bersih! Nyatanya tidak!" omel Defan.
"Jadi, siapa yang bersihkan?" kelit Dira berharap ada satu pembantu yang didrop di rumah mereka karena rumahnya sangat besar.
"Kaulah! Kan kau ibu rumah tangga disini," tangkas Defan bernada dingin.
"Hah? Apa? Rumah sebesar ini?" tanya Dira masih tak percaya itu akan menjadi pekerjaannya.
"Jadi kau berharap siapa yang bersihkan? Aku?" lontar Defan dengan dinginnya.
Susana menjadi dingin, tegang bahkan kaku. Sikap Defan pun sudah kembali ke pengaturan awal. Membuat Dira menggerutu seorang diri.
Ia berkomat-kamit dibelakang Defan, mengucapkan sumpah serapah untuk suaminya itu.
Yang benar aja rumah sebesar ini, aku yang bersihkan semua! Bisa mati berdiri aku lama-lama harus ngurus rumah ini! Laki-laki egois!
Dira terus menggerutu dibelakang Defan. Larut dalam omelannya yang tidak berani langsung diungkapkan.
"Ayo!" ajak Defan keluar dari kamar untuk melihat kamar yang lainnya. Di rumah itu ada tiga kamar. Satu kamar utama, satu kamar tamu, satunya lagi kamar pembantu.
"Kamarnya banyak sekali bang," Dira memutar bola matanya, meneliti satu-persatu isi ruangan kamar. Mereka terus berpindah hingga hingga ke bagian dapur.
__ADS_1
Setelah mengecek semua kondisi ruangan, Defan dan Dira duduk di sofa panjang yang ada di ruang keluarga.
Defan mulai memperhatikan gerak-gerik Dira yang sedang asik menggenjot-genjot sofa empuk itu. Matanya terus berputar melihat sekelilingnya.
"Yaudah yuk ... pulang," ajak Defan setelah merasa beres. Ia melihat jam yang menempel di dinding, sudah jam 3 rupanya.
"Yah ... ko cepat kali bang? Dira masih mau disini. Rumahnya luas dan enak. Nanti kalau abang kerja, Dira boleh ajak teman-teman kesini nggak?" ujar Dira.
"Boleh! Asal nggak berantakan ini rumah," tegas pria itu.
"Tenang bang. Kan rumah ini nanti aku juga yang bersihin," balas Dira mengerling seraya terseyum lebar. Ia bahkan menyengir kuda, membuat Defan ikut tersenyum.
"Yaudah ayo! Mau disini terus?" ajak Defan.
"Buru-buru amat sih bang, emangnya mau kemana?" cetus Dira merasa tak nyaman melihat suaminya itu tak betah di rumah mereka.
"Mau pulang!" ketus Defan karena ajakannya tak diindahi oleh Dira.
"Kita nginap disini aja yuk sehari! Gimana," tawar Dira. Ia malas sekali rasanya pulang ke rumah mertuanya. Mertuanya memang baik tetapi kebiasaan di rumahnya itu membuatnya jenuh.
"Enggak ah! Besok aku ada sidang nih. Harus siapin semuanya!" papar Defan datar.
Istrinya itu terpaksa beranjak. Daripada pria itu semakin murka jika terus-menerus ditolak. "Ayo! Kok masih duduk?" seloroh Dira memelototi mata pria itu.
Defan beranjak dengan cepat, ia berjalan diekori oleh Dira. "Langsung pulang kan?" tanya Defan seraya menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal.
Padahal baru beberapa menit yang lalu ia ajak pulang tapi sekarang malah nanya lagi pada Dira mau langsung .pulang? Apa maksud pria itu? Sepertinya ia ingin berjalan-jalan mengisi waktu luang bersama istrinya.
Bahkan dia rela tak bekerja. Padahal waktunya sangat sibuk. "Loh tadi katanya mau pulang, kok malah nanya lagi sekarang?" cecar Dira mulai gerah melihat gelagat suaminya.
"Kirain lapar mau makan dulu gitu," kilah Defan dengan wajah dinginnya.
Mau ngajak jalan istri yang manis dong bang𤣠masa cembetut gitu hahaha
"Dira masih kenyang bang! Tadi aku tuh traktir teman-teman di sekolah. Kita makan banyak kali," ungkap Dira dengan polosnya, tak mengerti keinginan suaminya yang gengsi menuturkan keinginannya.
"Astaga! Dira ... baru ku kasih ATMnya sudah kau hambur-hamburkan duitku." Defan menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
__ADS_1
"Loh kata abang kan terserah aku mau pakai untuk apa saja! Kok sekarang malah protes!" hardik Dira tak terima.
"Iya boleh dipakai untuk kebutuhan pentinglah!" tangkas Defan dengan sinisnya.
"Ih terserahlah! Dasar pelit!" ledek Dira berwajah masam.
Mereka akhirnya keluar dari kondominium itu. Defan langsung menginjakkan pedal gasnya, ia melaju sangat kencang.
Setelah melajukan mobilnya, ia menoleh ke arah Dira. Rupanya Dira belum memakai sabuk pengamanannya dan sangat berbahaya bagi perempuan itu.
"Dir ... pakai sabuk pengamannya!" titah Defan menurunkan laju kecepatannya.
Dira baru tersadar kalau sabuknya belum terpakai. Ia langsung melilitkan pada tubuhnya dan memakainya dengan kencang.
Hanya 10 menit, Defan sudah tiba di rumah kedua orangtuanya. Mereka keluar dari mobil audi itu, berjalan ke dalam rumah dengan gontai.
"Def, abis cek rumah ya?" sapa Melva di ruang keluarga, sedang asik menonton program tv favoritnya.
"Iya ma!" Defan duduk disamping wanita paruh baya itu. Ia tahu kalau sang mama ingin bertanya-tanya padanya. Sedangkan Dira memilih untuk masuk ke kamar mengganti seragamnya.
"Inang, maaf Dira ke kamar dulu. Mau ganti baju," ucapnya diikuti anggukan oleh perempuan paruh baya itu.
Dira berlalu, menaiki anak tangga. Di dalam kamar ia menghempaskan tubuhnya. Tidak langsung mengganti bajunya.
Sementara di ruang keluarga, Defan dan Melva tengah berbincang. "Udah lengkap semua furniture ruangannya?" papar Melva penasaran.
"Sudah ma, emang bukan mama yang urus persiapannya?" Defan balik bertanya pada mamanya.
"Bukan! Bapakmu yang suruh orang untuk siapin semuanya." Melva menoleh pada putranya.
"Gimana suka nggak sama rumah dan seisinya?" lanjut Melva.
"Hmm ... sebenarnya bagus sih ma ... tapi harusnya mama dan bapak kasih ruang untuk Defan dan Dira membeli perabotan sendiri. Kita kan inginnya di rumah sendiri merasa nyaman. Menikmati hasil penataan sendiri gitu," terang Defan dengan gamblang.
"Iya sih ... cuma bapakmu tuh, pengennya semua siap. Katanya biar kau nggak kerepotan," sanggah Melva.
"Yasudahlah, lagian sudah terjadi juga. Ma ... Defan istirahat dulu ya." Pria itu pamit beranjak dari sofa, ia berjalan gontai menuju kamar. Di jalan ia menarik dasi panjangnya karena merasa sesak dan gerah.
__ADS_1