Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
banyak kerjaan


__ADS_3

"Ya, semua berjalan begitu saja. Saya hanya menyampaikan kepada pemilik minimarket, kalau yang mencuri itu hanyalah janda miskin yang tidak punya apa-apa. Apalagi dia masih memiliki bayi yang baru lahir. Agak-agak di dramatisir dikit biar bapak itu luluh," tandas Defan saat mulai menginjak pedal gas, melajukan mobil itu keluar dari Pengadilan Kota Medan.


"Syukurlah pak, setidaknya ibu itu merasa lega. Tidak di penjara lagi, selama dua bulan sampai persidangan digelar, beliau tetap bertahan di dalam penjara. Terus anaknya dikemanakan pak?" tanya Juni menatap lekat pria itu. Pandangannya tak beralih kemanapun sampai Defan menjawab.


"Ikut di penjara juga! Saat sidang, bayinya di jaga oleh sipir penjara."


"Astaga! Kasihan sekali," sesal Juni.


"Kita ke mana lagi pak?" Juni pun mulai mengharapkan lebih, ia ingin melanjutkan makan siang dengan atasannya.


"Ke kantor lagi! Masih banyak pekerjaan," kilah Defan, mengencangkan laju mobil.


******


"Kasih tahulah sama kami, gimana rasanya pengalaman punya suami ganteng kayak bang Def, plus udah disentuh oleh pria setampan itu," cecar Jenny mengerling.


"Hadehhh!! Pikiranmu itu loh Jen, ngeres terus!" Carol pun menggeleng-geleng kepala.


"Iya, kau itu otaknya mesum! Yang udah nikah siapa, yang mesum siapa," ledek Dira mengerutkan dahi.


"Wajar sih, kita ini penasaran! Biar kita tahu juga pengalaman kayak gitu. Ya, nggak Shin?" Jenny mencari pembenaran dengan sohibnya agar satu suara.


"Iya, Dir! Siapa tahu kami juga bisa dapat suami ganteng kayak gitu hehe," timpal Shinta berkelit.


"Ah, udah ganti topik! Hal kayak gitu nggak pantas untuk dibicarakan," kilah Dira mengalihkan.


"Terus-terus, kira-kira kita kapan dapat ponakan unyu?" Carol menimpali.


"Yeeee! Kau malah ikut-kitan lagi, Rol!" sindir Dira memicingkan mata.


Keempatnya malah tertawa terbahak-bahak. Pembicaraan itupun terabaikan lantaran Dira tak ingin menceritakan persoalan intim rumah tangga.


"Eh, bentar aku bilang dulu sama Bang Def, kalau kalian disini! Aku sampai lupa." Dira mengambil ponsel di atas meja, menghubungi pria itu.


"Abang, di mana?" tanya Dira membuka topik pembicaraan pada sambungan telepon.


"Abang, baru selesai sidang. Ada apa?" jawab Defan saat selesai memarkirkan mobil. Ia dan Juni pun berjalan beriringan menuju ruangan.

__ADS_1


"Aku mau izin, ketiga sahabatku datang ke rumah. Maaf, tadi aku lupa bilang ke abang, soalnya dadakan!" terang Dira to the point.


"Oh iya, nggak apa-apa! Apa kau sudah makan?" tanya Defan datar, perhatian kecil seperti itupun membuat Juni menoleh padanya.


"Pasti istri pak bos," gumam Juni memicingkan mata saat menoleh pada bosnya. Akhirnya, mereka pun tiba di ruangan. Saat itu, masih jam 11 siang.


"Belum bang, paling nanti kami keluar atau pesan makanan online," kata Dira seraya menatap ketiga sahabatnya yang tetap tenang dan diam menunggu ia selesai bertelepon.


"Jangan kemana-mana! Pesan online saja," titah Defan, ia tak ingin istrinya itu berkeliaran tanpa dirinya.


"Iya, suami!! Kalau gitu, udah dulu, ya? Kami masih ngobrol!"


"Iya!" Defan kemudian mematikan sambungan telepon itu.


Meski tak terlontar kata-kata mesra tetapi Juni tahu dengan gelagat bosnya. Hanya dengan mempertanyakan perhatian kecil, pasti yang berbicara dengannya adalah seorang yang istimewa.


"Ehem ..."


"Pak, apa mau makan siang?" tawar Juni menatap pria itu.


Defan memang sengaja menolak ajakan Juni saat perjalanan pulang. Bukan karena ia tak mau makan di luar, melainkan masih banyak pekerjaan yang harus diurus.


"Baik pak! Bapak mau makan apa?" Juni menunggu jawaban pasti atasannya, ia tak ingin salah membeli makanan.


"Nasi goreng saja!" Defan memberikan satu lembaran merah untuk Juni. Kebetulan, pesanannya juga sederhana, cukuplah untuk membeli menu untuk dua orang.


"Siap pak, oh ya, saya penasaran pak, kenapa istri bapak nggak pernah kesini?" Juni berdiri tepat di depan Defan.


"Oh, dia tidak ada waktu untuk kesini," lontar Defan merasa risih saat dipertanyakan persoalan pribadi.


"Oh begitu ya pak, padahal saya penasaran dengan istri bapak. Bapak seganteng ini, pasti istri bapak juga cantik sekali." Juni sebenarnya membandingkan bahkan seakan-akan menyepelekan kecantikan Dira.


"Tentu! Dia lebih cantik dari kau," sindir Defan tak mau memperpanjang pembicaraan mereka.


"Yasudah, sana! Segera ke kantin!" sambung Defan.


"Baik pak!" Juni pun mengakhiri pertanyaan, langsung berjalan menuju kantin untuk membeli pesanan bosnya.

__ADS_1


Baru saja ia keluar dari ruangan, tiba-tiba Dania mencegatnya. Dania menatap sinis ke arah Juni. Entah apa yang dua perempuan itu lakukan, mata mereka seolah beradu saling menyerang.


"Heh, Jun, kau mau ke mana?" cecar Dania menatap sinis ke arah Juni.


"Maaf, bu, saya mau ke kantin." Juni menjawab dengan lembut dan sopan santun, ia tahu kalau perempuan itu adalah sahabat bos yang harus disegani. Dibandingkan dengannya, Dania justru lebih lama bekerja di perusahaan ini.


"Aku nitip dong!" kata Dania tak tahu malu.


"Ibu, mau nitip apa? Tapi mohon maaf, tidak bisa ikut dibayar, soalnya pak Defan hanya memberikan satu lembar!" Juni mengibaskan uang 100 ribu di depan wajah Dania.


"Ya, pakai uang itu aja kenapa sih? Kau aja yang bayar makananmu sendiri!" ketus Dania, perempuan ini sering sekali menindas Juni. Bahkan, ia tak segan-segan menyuruh apapun untuk dilakukan Juni apabila Defan tak ada di kantor.


"Baik bu, ibu mau pesan apa?" Juni menatap perempuan itu dengan tatapan yang sangat datar. Namun, dalam batinnya ingin sekali berteriak di depan wajah Dania hingga memaki.


"Pak Defan pesan apa?" tanya Dania semakin meninggikan suara.


"Nasi goreng bu!" Juni hanya bisa menunduk, menuruti apapun yang keluar dari mulut Dania.


"Yaudah, samain aja! Cepat ya! GPL alias Gak Pake Lama!" cetus Dania penuh penekanan.


"Siap ibu yang paling cantik," balas Juni dengan lantang.


Juni pun membelikan dua nasi goreng yang sama untuk Defan dan Dania. Sedangkan untuk dirinya, ia memilih makanan mie goreng serta es teh untuk mendinginkan kepalanya yang terlihat ngebul lantaran kata-kata tajam Dania.


"Dasar perempuan ular! Sok baik kalau di depan pak Defan tapi di belakang pak Defan sok paling menindas," gerutu Juni saat menunggu pesanan tiba.


Tak jauh dari posisi Juni, ada seorang anak magang juga. Laki-laki itu adalah Januar, anak magang yang baru masuk tiga bulan lalu.


"Lagi nunggu makanan, Jun?" tanya Januar menghampiri, pria itu menepuk bahu Juni sangat lembut.


"Eh, Jan, iya nih. Pak bos mau makan siang!" jelas Juni melayangkan senyum manis.


"Tapi kau kenapa? Kok kayaknya lagi sewot dan kesal?" Januar memang sudah melihat Juni dari kejauhan, menggerutu seorang diri, bahkan seolah-olah berbicara sendiri.


"Biasalah, masalah kerjaan. Rumit kalau jelasinnya," papar Juni tak ingin menyebarkan rumor tentang kekejaman Dania.


"Oh, gitu! Kapan-kapan jalan, yuk?" sambung Januar mengalihkan ke topik lain.

__ADS_1


"Boleh aja tapi nanti, ya? Kalau lagi nggak sibuk. Sekarang kerjaan masih numpuk," kelit Juni yang sebenarnya ingin menolak tawaran tersebut.


"Yah! Dari dulu alasannya banyak kerjaan terus. Kapan kau senggangnya sih!" protes Januar.


__ADS_2