
"Malas bang! Aku capek! Pesan online aja," titah Dira.
"Abang lagi pengen makan mie instant!" balas Defan dengan suara penuh harap.
"Yaudah masak sendiri aja!" Dira tetap berkomitmen tak mau memasakkan makanan untuk suaminya.
Dengan rasa terpaksa dan kelelahan, akhirnya Defan ke dapur seorang diri. Ia mengambil satu bungkus mie instant dari lemari kitchen setnya. Satu mie instant goreng ia rebus beserta telornya.
Setelah matang, ia menyantapnya seorang diri di meja makan. Tak ada tanda-tanda kedatangan Dira. Wanita itu bila sudah merajuk, apapun enggan ia lakukan.
Saat Defan sudah menghabiskan makanannya, ia langsung masuk ke dalam kamar. Rupanya, Dira sudah tertidur pulas. Defan langsung menyelimuti tubuh istrinya yang tidur sangat acak-acakan. Padahal ia tadi sempat membungkus tubuhnya dengan selimut tebal.
"Anak ini lama-kelamaan tidurnya kok makin lasak sih," gumam Defan seraya terseyum pada istrinya.
Ia menyelimuti bagian kaki hingga ke perut Dira, lalu tidur di sampingnya. Suasana menjadi agak canggung ketika Dira tiba-tiba mengenyampingkan tubuhnya ke arah Defan. Pria itupun berada dalam dekapannya. Menganggapnya seolah-olah bantal guling.
Kepalanya dibekap di dalam dada Dira, mengikis jarak diantara mereka. "Kebiasaan! Suka nyerang tiba-tiba," batin Defan melonggarkan pelukan itu. Namun, pelukan Dira tak lepas sepenuhnya.
Defan justru membalas pelukan itu dengan hangat. Ia menyesali sudah tak memperdulikan istrinya hari ini. Terlebih, Dira melihat semua apapun yang pria itu lakukan di rumah sahabatnya sendiri.
Istri mana yang tak geram jika kelakuan suaminya seperti itu? Tak bisa membedakan kepentingan sahabat dan istri? Hanya Defan lah pria yang mampu berbuat seperti itu. Ia lebih memilih sahabat dengan alih-alih lantaran Dania sudah tak memiliki kedua orang tua.
Defan menatap lekat gadis kecil yang pulas tertidur dalam dekapannya. Sangat cantik walaupun ia sedang tertidur pulas. Bahkan, diam-diam Defan mencium kening istrinya sangat lembut, menyisihkan anak rambut yang berantakan menutupi keningnya.
*****
Pagi itu begitu terik. Matahari sudah meninggi, cuaca semakin cerah. Padahal baru saja jam enam pagi, entah kenapa matahari begitu menukik ke dalam kamar Dira dan Defan melalui celah-celah jendela kaca.
__ADS_1
Dira langsung membelalakkan matanya seraya terkejut dengan posisinya pagi ini. Ia ada didalam belenggu pria dingin yang tak lain adalah suaminya. Padahal, tadi malam mereka baru saja bertengkar kecil-kecilan. Tapi ... mengapa Dira berada di pelukan itu.
Sebelum suaminya terbangun, Dira cepat-cepat melepaskan pelukan erat Defan. Ia berlari ke kamar mandi seraya tak percaya. Wajahnya tertangkap dalam pantulan cermin. Ia berkaca pada cermin tersebut sembari bicara seorang diri.
"Apa maksudnya pelukan itu? Supaya aku luluh gitu sama dia?" cela Dira menggerutu di kamar mandi seorang diri.
Tok ... Tok ...
"Dir, cepat mandinya! Sudah jam 6 pagi nih. Nanti terlambat." Defan pun berteriak dari depan pintu. Tak ada jawaban dari istrinya, ia mencoba memutar handel pintu kamar mandi. Tapi, pintu itu terbuka lantaran tidak terkunci.
Defan mengendap-endap masuk ke dalamnya. Dira yang sedang mandi pun mendengar langkah kaki. Ia langsung mengambil handuk yang menggantung di handel pintu kaca tempat pemandiannya. Lalu, dengan sigap ia keluar mencari tahu siapa yang masuk ke dalam kamar mandi.
"Aaaaaaa!" pekik Dira terkejut setengah mati dengan kehadiran Defan yang ada di depan pintu.
"Abang ngapain sih tiba-tiba nyelonong masuk gitu aja?" Dira tampak mengamuk, raut wajahnya memerah lantaran sangat malu. Sisa sabun ditubuhnya belum bersih secara menyeluruh.
"Abang dari tadi teriak nggak ada jawaban. Kau gimana sih mandinya! Nggak bersih!" Defan menunjuk pundak Dira yang masih tersisa busa sabun diatasnya.
"Siapa lagi kalau bukan aku yang berani masuk kesini." Defan pun mendekati Dira. Memajukan langkahnya hingga Dira mundur secara teratur.
"Ma–mau ngapain sih bang?" Dira semakin gugup ketika suaminya itu terus saja menyosor mendekatinya.
"Mau mandi barenglah!" kata Defan seraya menutup pintu berbahan kaca itu.
******
"Ma, gimana setelah dua hari kepindahan bang Defan. Terasa sunyi?" papar Niar pada mamanya yang sedang asik menikmati sarapannya.
__ADS_1
"Ssstttt! Jangan berisik. Nanti kau dimarahin bapakmu. Habiskan dulu makananmu baru ngobrol!" cetus Melva menatap tajam putrinya.
Niar pun mengangguk patuh, setelah ia menuntaskan makanannya. Rasa penasarannya pada abangnya itu muncul kembali. "Ma, gimana tadi pertanyaanku?" ujar Niar membuka topik pembicaraan mereka sebelum berangkat ke kampusnya.
"Sunyi! Tapi mau gimana lagi. Kalau pasangan suami istri itu harus pisah dari orangtuanya. Mereka harus mulai mandiri, membina biduk rumah tangganya sendiri. Mulai belajar cara mengatur keuangan dan menata keluarganya," ucap Melva berkata-kata dengan bijaknya.
"Terus, di rumah mereka nggak ada pembantu tuh. Apa bisa edak itu ngurus sendiri semuanya di rumah mereka?" Pertanyaan Niar tampak membuat Melva jadi berpikir. Menantunya itu masih bersekolah, jika diselingi kegiatan rumah tangga pastinya akan kerepotan.
"Nggak tahu juga mama. Mungkin mereka gotong royong," jawab Melva datar.
"Ehem," gumam Desman mengalihkan pandangan ketiga wanita yang masih duduk dikursi makannya.
"Apa pak?" seloroh Melva menatap lekat suaminya menunggu perkataan selanjutnya.
"Mamaknya Dania meninggal kemarin. Kalian harus datang melayat," tutur Desman datar.
"Hah? Mamaknya kak Dania meninggal? Jadi dia lengkaplah yatim piatu sekarang?" sambar Niar ceplas-ceplos.
"Hush!" Melva memperingati putrinya untuk berhati-hati dalam berbicara.
"Acara pemakamannya besok. Terserah kalian mau melayat hari ini atau besok. Mama juga jangan lupa datang ke acara pemakamannya besok. Nggak enak kalau keluarga kita tidak datang. Dania itu dulu sering main ke sini," seru Desman diikuti anggukan dari istrinya.
"Tenang ajalah bapak. Mama hari ini kesana. Ditemani Niar, ya kan Niar?"
"A–pa? Aku? Anggi ajalah ma," tampik Niar. Niar ini perempuan yang cuek, siapapun wanita yang ada disekitar abangnya, dia tidak peduli. Bahkan, dia malas berbasa-basi ataupun dekat-dekat dengan wanita yang masuk dalam kehidupan abangnya.
Termasuk untuk Dira, sampai detik ini, Niar masih belum akrab dengan satu-satunya ipar yang dimilikinya. Bahkan, ia juga melarang Anggi, adik bungsunya untuk bersikap ramah-tamah pada ipar mereka.
__ADS_1
Bagaimana jika Niar tahu kalau Anggi dan Dira sudah mulai dekat? Mungkin Niar akan mengamuk pada adik bungsunya itu. Meski Niar melarang adiknya berdekatan tetapi sikap Niar pun tak jahat pada iparnya. Ia bahkan enggan mengurusi kehidupan abang dan iparnya itu.
Hanya saja, ia masih cukup penasaran mengapa di rumah iparnya itu tidak disiapkan satu orang pun pembantu. Padahal di rumah mereka ada banyak sekali pembantu sehingga mamanya tak kerepotan dalam mengurus hal rumah tangga.