Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
Bolpoin


__ADS_3

Hari ini, Defan sudah meminta izin pada Dira, dirinya tak bisa menjemput sang istri lantaran harus lembur mengurus perkara korupsi yang ditangani.


Esok, jadwal sidang pertama akan digelar, Defan tengah menyiapkan seluruh bukti dan saksi untuk persiapan sidang.


2 jam yang lalu ...


Drrt drtt


Ponsel Defan bergetar, mencuri perhatian disela-sela kesibukan saat bertemu dengan tersangka yang menjadi kliennya.


"Maaf, pak, istri saya menelepon, saya angkat sebentar," pamit Defan, lalu menerima panggilan dari Dira.


Tersangka—Pramuyadi, mengizinkan Defan untuk berangsur pergi sebentar dari ruangan pertemuan di lapas.


"Iya, sayang?" jawab Defan, setelah menerima sambungan telepon.


"Abang, hari ini gimana? Jadi jemput aku atau enggak?" ucap Dira, ia memang meminta izin keluar ruangan kelas lantaran Defan memintanya untuk berbicara melalui telepon saat ospek masih berlangsung.


Sebelumnya, Defan dan Dira saling berkirim pesan. Defan berpesan agar Dira segera menghubunginya bila ada waktu luang.


Defan yang disibukkan pekerjaan, sengaja meminta Dira menghubunginya. Ia takut lupa menyampaikan bahwa hari ini tidak bisa menjemput sesuai jadwal jam pulang kampus.


"Abang masih di lapas, yang. Kau pergi sendiri dulu ke rumah inang, nanti abang susul ya, yang! Maaf abang nggak tepati janji."


Dira menjawab seraya mengangguk-angguk. "Iya, abang, ngak apa-apa, selesaikan dulu pekerjaan abang, jangan lama-lama, ya!" pesan Dira, lalu mematikan sambungan telepon secara sepihak.


****


"Maaf, pak, agak lama!" tutur Defan, lalu kembali duduk di tempat semula.


"Bagaimana, pak? Apakah penjelasan saya sudah lengkap?" tanya Pramuyadi atau sering sekali dipanggil Yadi.


"Masih banyak yang mengganjal, pak! Berapa orang total keseluruhan yang terlibat, otak dibalik kasus korupsi ini siapa sebenarnya?" tanya Defan, menatap penuh selidik.


"Banyak yang terlibat, pak, terutama atasan saya. Otaknya yaitu Gubernur yang sekarang menjabat, saya hanya diperintahkan untuk memberikan uang saja," jelas Yadi.


"Apa ada bukti kuat terkait pemberian perintah pak?" tanya Defan, seraya mengerutkan kening.

__ADS_1


"Ada pak, kebetulan saya merekam percakapan kami. Saya baru ingat kalau ada rekaman itu, rekaman di dalam bolpoin, di seragam kerja saya. Saya kira memang tidak ada bukti kuat, saya baru ingat saat itu membawa bolpoin itu, kebetulan juga menyala saat saya menerima perintah dari atasan disuruh datang menghadap," ungkap Yadi panjang lebar.


"Lalu, di mana sekarang bolpoin itu?" Defan menatap penuh harap.


"Bapak bisa minta ke istri saya, dia yang tahu di mana letak seragam kerja saya."


"Baiklah, nanti saya akan langsung ke rumah bapak. Terima kasih atas waktunya." Defan mengulurkan tangan, lalu ditarik oleh Yadi, mereka saling berjabat tangan lalu berpamitan.


Di rumah Yadi, Defan bersama Juni tengah menunggu dibukakan pintu oleh sang pemilik rumah. Berkali-kali Defan mengetuk pintu hingga menunggu selama 10 menit.


Tok ... Tok ...


Defan mengetuk pintu sekali lagi, berharap dibukakan pintu.


"Iya, sebentar," sahut orang dari dalam rumah.


Sesta—Istri Yadi, ternyata tadi sedang mandi, ia buru-buru bergegas memakai baju agar bisa membukakan pintu untuk tamunya.


Sesta berjalan gontai, membuka pintu rumah, menarik daun pintu dengan cepat. Saat melihat Defan, ia menatap seraya memicingkan mata. Ia sendiri memang belum pernah berjumpa dengan pengacara suaminya.


"Sore, bu!" sapa Defan, mengangguk sekali sebagai bentuk penghormatan.


"Saya pengacara suami ibu—pak Yadi."


"Oh, silahkan masuk, pak, apa yang perlu saya bantu?" Seketika wajah Sesta berubah menjadi sendu, ia teringat pada nasib suaminya yang sangat tragis harus berakhir di jeruji besi.


Defan duduk di sofa ruang tamu, di sebelahnya, Juni juga ikut duduk bersama. "Saya ke sini atas perintah pak yadi, beliau meminta bolpoin yang ada di saku seragam kerja."


Sesta masih mencerna kata-kata yang baru diucapkan oleh Defan sembari mengingat-ingat benda yang dimaksud. Sudah cukup lama, Yadi tertahan di penjara, tepatnya semenjak ditangkap OTT oleh KPK langsung dijebloskan ke penjara.


Sekitar 2 minggu yang lalu, alhasil Sesta sudah mencuci seragam kerja suaminya. Ia kembali mengingat-ingat terakhir kali dimana ia simpan benda tersebut.


"Sebentar, ya, pak! Saya carikan dulu," ungkap Sesta, pamit masuk ke kamar.


Di dalam kamar, Sesta mencari-cari bolpoin yang diminta oleh suaminya. Segala tempat ia cari tapi tak kunjung bertemu. Hampir satu jam, Defan dan Juni berada di sana tapi Sesta tak kunjung keluar dari kamar.


"Pak, bagaimana kalau hilang?" ucap Juni, mulai merasa lelah menunggu.

__ADS_1


Seharusnya sudah memasuki jam pulang kantor. Tapi keduanya memilih lembur sampai bolpoin ditemukan.


****


"Aku nebeng samamu, ya, Rol? Tapi antarkan aku ke rumah mamakku?" ucap Dira saat merangkul Jenny, setelah berkumpul dengan Carol dan Shinta di halaman kampus.


"Astaga! Jauh kalilah, Dir! Suamimu mana?" cecar Carol, menyeringai.


"Lagi ada kerjaan, aku disuruh pergi sendiri duluan." Wajah Dira ditekuk, ia sangat lesu bila mendapat penolakan.


"Jauh nggak rumahmu yang sekarang?" tanya Carol, mulai memberi harapan.


"Nggak pala jauh sih! hehe! Sekitar setengah jam lah, itung-itung kelen jalan-jalan loh!" papar Dira, mengerlingkan mata.


"Gimana Shin, Jen, kelen mau ikut? Jujur aja kalau kelen langsung pulang, malas aku mengantarkan si Dira," kilah Carol.


"Aku sih, yes!" kata Jenny tegas.


"Aku ... hmm, boleh lah, asal makan gratis di rumahmu ya, Dir!" tandasnya seraya menyengir kuda.


"Tenang! Pasti mamakku udah masak, dia tahu kok aku sama bang def hari ini mau ke rumah!" jelas Dira, lalu melanjutkan jalannya yang sempat terhenti.


Keempat gadis itu masuk ke dalam mobil. Carol dengan cepat menginjakkan pedal gas, kala semua sudah duduk memakai seat belt.


Keluar dari kampus, lalu menerjal jalanan kota medan yang saat itu cukup padat. Saat itu, memasuki jam pulang kerja, sehingga jalan raya sangat padat di sore hari.


"Kok nggak kau minta bang defan antarkan kau, Dir?" imbuh Jenny, memulai obrolan di dalam mobil.


"Harusnya kami berdua ke sana bersama tapi bang defan ada kerjaan yang nggak bisa ditunda. Besok juga ada sidang, makanya dia harus lembur. Nanti katanya mau nyusul," sahut Dira, menoleh kepada dua sahabatnya yang sedang duduk di belakang.


****


Mobil Carol masuk di halaman rumah Dira yang cukup luas. Meski terasa sunyi tapi tanda-tanda kehidupan di rumah Dira tak pernah hilang.


Sebab, kelima adiknya selalu bersuara ribut-ribut. Apalagi adik bungsunya yang masih kecil, suka bermain dan berlari-lari di dalam rumah.


"Mak, pak!" sapa Dira, hari mulai gelap, ketiga sahabat Dira juga ikut masuk ke dalam.

__ADS_1


Seperti biasa, Dira langsung menyelonong masuk ke rumah yang tidak di kunci. Ia langsung menuju dapur lantaran terdengar suara wajan yang berdenting.


"Mak, aku datang loh, kok nggak disambut!" canda Dira menatap serius kepada mamaknya yang sedang asik memasak.


__ADS_2