
Sebelum jam 5 sore, Jenny sudah berpamitan pada Dira. Ia khawatir kepulangannya akan berbenturan dengan kepulangan Defan.
"Dir, aku mau pulang, antarlah aku sampai lobi," ucapn Jenny.
Dira langsung mengiyakan, bergegas mengantarkan Jenny sampai ke depan lobby. Sebelumnya, ia sudah memesankan ojek online untuk sahabatnya.
Setelah mereka tiba di depan lobby kondominium, ada satu motor ojek online yang datang menjemput Jenny.
"Hati-hati, Jen! Tenang kau, udah kubayar dari aplikasi, ongkosmu!" ucap Dira.
Dira sengaja memesankan ojek online agar Jenny tiba di rumah dengan cepat. Terlebih, saat ini adalah jam pulang kerja, jalanan pun pasti akan padat, dengan menaiki motor, Jenny tidak akan terjebak kemacetan.
"Oke, aman lah! Yang penting aku sampai dengan selamat. Sudah pergi sana masuk!"
Jenny dan Dira saling melambaikan tangan. Tak lama kemudian, Dira masuk ke dalam kondominium. Di dalam rumah, ia mengirimkan pesan pada Defan untuk sekaligus membelikan makan malam untuk mereka berdua.
***
1 jam yang lalu ...
Angga tiba di rumah sang dosen. Ternyata rumahnya bukanlah rumah keluarga melainkan sebuah apartemen yang ditempati oleh Maudy.
Dengan begitu, semakin lancar aksi Maudy untuk lebih agresif terhadap pacar barunya yang brondong itu.
"Hei, sudah datang," sapa Maudy, lalu mengecup pipi Angga tanpa rasa sungkan.
Tiba-tiba setelah pintu apartemen tertutup rapat, Maudy langsung menyambar tubuh Angga. Keduanya saling mencumbu satu sama lain, tepat di depan pintu apartemen yang sudah terkunci.
Tubuh Angga disandarkan pada tembok, sementara Maudy sangat arogan melahap mulut pria itu, melumaatnya dengan sangat dalam.
"Ya, Tuhan ... cobaan apa sih ini? Aku mendapat pacar yang sangat agresif," gumam Angga seraya menikmati lumattan Maudy, pagutan itupun tak kunjung terlepas.
Angga yang polos kini sudah ternodai oleh dosennya sendiri. Setelah melakukan aksinya di depan pintu, kini mereka beralih, berjalan sembari tak melepas pagutan bibir itu ke arah ranjang.
__ADS_1
Maudy yang memang sangat suka dengan cara berpacaran yang kelewat batas. Bahkan ia hendak merebut keperjakaan Angga saat ini. Ia tahu kalau Angga adalah pria polos bahkan belum terjamah wanita lain.
Dengan terburu-buru, Maudy melepaskan seluruh baju Angga. Namun, saat ia ingin melakukan aksinya, tangan Maudy dihadang oleh pria itu.
"Tunggu dulu, Ibu mau ngapain?" tanya Angga seraya menahan kancing kemejanya agar tidak terbuka.
"Ya, mau melakukan hubungan yang biasa dilakukan pasangan muda-mudilah!" balas Maudy tanpa basa-basi.
"Bukannya kalau orang pacaran itu hanya sekedar pegangan tangan, paling parah sih ciuman. Nah, ibu ngapain sampai lepasin baju saya," timpal Angga.
"Apa kamu tidak tergiur dengan tubuhku yang molek ini?" Sejak tadi Maudy sudah mengenakan sebuah lingerie yang sangat seksi, tanpa ragu ia mengekspos dada yang besar dan tubuh yang mulus.
"Astaga, cobaan apa ini," batin Angga sembari merutuki kebodohannya lantaran mau saja menerima ajakan dosennya untuk datang ke apartemen ini.
Kemudian Maudy dengan tergesa-gesa melucuti seluruh baju hingga celana Angga. Ia segera menyambar tubuh kekar milik brondongnya, bahkan menguasai secara dominan di atas tubuh pria itu.
Biasanya laki-laki yang mengungkung wanitanya saat melakukan hubungan intim, berbeda dengan Maudy. Justru dirinya yang berada di atas tubuh pria itu, mengungkungnya serta menatapnya seakan ingin menerkam.
Cumbuan yang dilayangkan oleh dosennya itu membuat Angga sedikit berdesir. Lelaki mana yang tak luput dari hawa nafsu ketika disentuh oleh seorang wanita tanpa henti.
Benar saja dugaan Angga, kalau keperjakaannya akan terenggut. Namun, entah mengapa ia serasa menikmati dan terasa diajarkan sesuatu hal yang tabu sore ini.
Hal terlarang yang dilakukannya berdua dengan sang dosen.
"Kalau, Ibu hamil bagaimana? tanya Angga, lantaran merasa khawatir saat benih-benihnya telah meluncur dengan sempurna menyusurin dalam rahim dosennya.
"Tinggal tanggung jawab lah," jawab Maudy enteng. Nyatanya ia sudah rutin menelan pil kb untuk menghindari MBA.
"Apa, Ibu sudah terbiasa melakukan hal seperti ini dengan pacar ibu yang lama? Sepertinya ibu sudah berpengalaman!" sungut Angga, sebab Maudy terlihat sangat ahli saat melakukan hubungan itu.
"Di era modern begini, mana ada lagi pacaran yang sehat, semua orang sudah melakukan hubungan yang seharusnya dilakukan sepasang suami istri meskipun status mereka masih pacaran," sergah Maudy, tanpa rasa takut.
Dengan terpaksa, Angga pun menerima keadaan dosennya. Apalagi mereka sudah terikat penyatuan yang bagi Angga baru terjadi untuk pertama kali.
__ADS_1
Maudy lah perempuan yang sengaja mengajarkan hal senonoh, dan tindakan yang sangat diluar batas itu.
"Ternyata, Ibu sangat pintar dan lihai di ranjang," puji Angga, memunguti bajunya yang bertebaran di lantai.
"Iya dong, wajib! Supaya suami saya bisa tahan dan puas dengan servis yang saya berikan," racau Maudy, seraya tak mempercayakan Angga menjadi suaminya kelak.
"Apa maksud Ibu? Jadi ibu hanya main-main dengan saya?" Angga pun menatap dengan sinis wanita cantik yang di hadapannya yang tengah tertidur lemas di atas ranjang.
"Kalau main-main sudah pasti tapi kalau berujung di pelaminan. Ya ... siapa yang tahu," lontar Maudy.
"Jadi orang tua, Ibu di mana?" sambung Angga menganalisis kondisi dosennya agar ia lebih mengenal perempuan itu sebagai seorang pacar.
"Orang tua saya di kampung, di pelosok Dolok Sanggul sana," jelas Maudy.
"Ya, ampun jauh sekali! Sejak kapan ibu tinggal di sini?" Angga menatap penuh selidik.
"Saya baru pindah di sini, sekitar seminggu yang lalu. Saya langsung terpikat denganmu saat kita pertama kali bertemu dan memang apart ini bekas pemberian mantan saya," ungkap Maulid secara frontal.
"Jadi ibu sering melakukannya di sini?" hardik pria itu.
Maudy hanya mengangguk, sebelumnya apartemen itu memang milik mantan kekasih Maudy. Dulunya, ia bekerja jauh dari lokasi apartemen itu, setelah mendengar kabar kalau dirinya diterima bekerja menjadi seorang dosen di kampus ternama di kota Medan dan lokasinya sangat dekat, maka mantan kekasihnya menyerahkan apartemen itu.
Tak berselang lama, hubungan mereka berakhir tetapi pria itu sangat royal, mau memberikan asetnya untuk Maudy.
"Sepertinya aku sudah gila menyetujui ajakan, Ibu untuk berpacaran!" celetuk Angga.
"Nggak masalah, justru kau akan aku ajarkan banyak hal setelah menjalin hubungan denganku. Berpacaran dengan wanita dewasa lebih menguntungkan daripada berpacaran dengan seorang anak kecil," ketus Maudy
"Ck!" decak Angga.
Sepertinya Angga semakin frustasi memiliki pacar yang benar-benar tak pernah memfilter perkataan dan cerita-ceritanya. Angga pun harus berlapang dada menerima semua apa yang sudah terjadi.
"Lebih baik terbuka di awal daripada harus menutupinya hingga akhir dan mencoba membohongiku. Lebih sakit saat mengetahuinya setelah perasaan ini semakin mendalam!" batin Angga.
__ADS_1