
"Edak jangan merengut gitu dong! Jelek tahu!" sindir Anggi seraya menujukkan cengiran kudanya.
Dira pun menyambutnya dengan tawa terbahak-bahak. Ia tak menduga suami dan satu iparnya itu akan berbuat hal yang cukup istimewa padanya hari ini.
"Kalian berdua ngapain sih genggam-genggam tangan aku?" Dira menoleh kepada keduanya secara bergantian.
"Nggak apa-apa! Biar mesra aja hahaha," celetuk Anggi polos.
Sementara Defan hanya diam dengan wajah datarnya. Ia hanya mendengarkan gurauan kedua perempuan itu.
"Mau kemana lagi nih?" tanya Defan menghentikan langkah kaki Dira. Sontak, Defan dan Anggi pun ikut berhenti karena tangan mereka tertarik oleh tangan Dira.
"Mau beli boba boleh ya bang?" pinta Dira karena keinginannya tadi belum tercapai.
"Kau mau Nggi?" tawar Defan sebelum melanjutkan langkah kakinya.
Anggi mengangguk seraya tersenyum tipis. Ia tak mau merubah suasana hati iparnya kalau menolak permintaan itu.
"Oke! Kita cus beli boba!" teriak Dira melangkah lebar. Genggaman tangan kedua kakak-beradik itu pun tak kunjung dilepaskan.
Setelah membeli tiga minuman milk tea boba di outletnya, ketigaya langsung menuju perparkiran. "Ayo pulang! Udah jam 10 malam loh. Nanti mama nyariin kita," ajak Defan seraya menikmati sedotan milk tea pearlnya.
Masing-masing berjalan beriringan sambil menyedot minuman mereka. Rasanya sangat cocok untuk meredakan rasa panas yang menerpa Dira tadi.
*****
"Kok lama kali kalian pulang?" ucap Melva yang masih menonton tv di ruang keluarga sekaligus menunggu kehadiran anak dan menantunya.
"Inang belum tidur?" sambar Dira.
"Iya ... nggak biasanya loh mama jam segini masih nonton," cecar Anggi menimpali.
Ketiganya baru sampai rumah sejak 5 menit yang lalu. Di dalam rumah langsung disambut oleh mamanya Defan. Wanita itu sengaja menunggu dan memastikan anak dan menantunya tiba di rumah dengan selamat.
"Eh ... mama tanya apa malah jawab apa!" sindir Melva menatap ketiga orang yang berdiri berjajaran.
"Tadi Dira dan Anggi kalap mah. Lihat tuh belanjaannya banyak kalk! Makanya lama karena mereka milih-milih baju dan itu sangat lama," ujar Defan jujur. Ia bahkan sempat merasa lelah karena menunggu hampir dua jam di dalam butik saja.
Bahkan dia sampai merasa jenuh, bolak-balik hanya menatap ponselnya untuk mempelajari pekerjaannya pada persiapan sidang besok.
"Kau belanja pake uang siapa dek?" tanya Melva sinis pada putri bungsunya.
__ADS_1
"Ditraktir edak mah tadi. Hehee," kekeh Anggi mengulas senyum lebarnya.
Melva hanya menggeleng-gelengkan saja tingkah siapudannya. "Yaudah sana bersih-bersih sebelum tidur! Jangan kesiangan besok sekolahnya," terang Melva memperingatkan.
"Dira sama Defan juga sana masuk ke kamar," titah Melva dengan tegas.
Ketiganya berjalan beriringan sambil berbisik. "Bang, tumben tuh mamah cerewet kali! Biasanya cuek aja kalau anaknya belanja- belanja," bisik Anggi dengan ketus.
"Hussh! Itu karena kau pulang malam! Bajumu tuh lihat masih pakai seragam sekolah ckckck," decak Defan seraya menggeleng-geleng kepalanya berulang kali.
"Abang ini! Malah ngomporin." Anggi berlari meninggalkan Dira dan Defan. Ia masuk ke dalam kamarnya yang ada di sebelah kamar kedua pasutri itu di lantai 2.
Dira menyimpan belanjaanya di dalam lemari meski tak sempat dibukanya. Ia merasa lelah sejak sore jalan-jalan bersama suami dan iparnya.
Dira menghempaskan tubuhnya dengan keras ke atas ranjang.
Haaaaahh
Dira membuang nafas kasarnya. Lalu larut dalam pikirannya menatap langit-langit kamar.
Aku rindu kasur empuk ini! Nyaman dan wangi aroma tubuh suamiku!
Defan melemparkan piyama yang sama dengan miliknya ke tepian ranjang. Ia membantu istrinya agar tidak perlu lagi menuju lemari.
Sementara Defan mengganti bajunya tentu saja di depan istrinya tanpa rasa canggung. Namun, Dira sudah tampak biasa saja. Ia bahkan sengaja tak melihat tubuh kekar yang seksi itu sebelum dibaluti pakaian tidur.
"Tuh ganti dulu bajunya! Apa mau aku yang gantiin?" tawar Defan mendapat sorotan tajam dari manik mata indah milik Dira.
"Maksud abang apa? hihhhh," pekik Dira bergidik ngeri mendengar tawaran suaminya.
Tapi rasanya ia sangat malas untuk beranjak dari kasur. Tubuhnya terasa lelah, kakinya pun terasa sangat pegal setelah berkeliling di butik tadi.
"Bentar ya bang! Kakiku pegal kali," beber Dira jujur.
Defan hanya mengangguk. Ia membaringkan tubuhnya disamping tubuh Dira. Menempatkan posisi tidurnya secara miring, menatap istri cantiknya itu.
"Dir ... Dira?" panggil Defan yang melihat mata Dira terpejam padahal baru saja mereka bercakap-cakap.
"Hmmmm." Dira tetap terpenjam dan hanya menyahut dengan gumamannya saja.
"Jadi ganti baju nggak?" celetuk Defan menatap gadis itu.
__ADS_1
Namun, tak ada respon dari Dira. Matanya terus saja terpejam. Suara Dira pun bahkan tak keluar.
Defan menundukkan kepalanya, menatap gadis itu yang ternyata sudah tertidur pulas di atas ranjang.
"Apa dia ketiduran?" Defan mengayunkan telapak tangannya diatas mata Dira. Tapi perempuan itupun tak merespon.
"Sepertinya dia ketiduran," gumam Defan tersenyum menatap wajah cantik istrinya yang tertidur pulas.
Defan membelai pucuk kepala Dira dengan lembut. Ia tatap terus wajah cantik itu, lalu mengecup pipinya dengan cepat. Entah mengapa, saat disisi Dira ia merasa begitu nyaman.
Defan merubah posisi tidurnya, ia tengkurapkan tubuhnya. Namun dengan setengah badan terangkat. Ia menatap istrinya tepat berada didepan wajahnya.
Defan pun membelai anak rambut Dira. Merapihkan rambut-rambutnya yang terurai tampak acak-acakan karena tidurnya.
Semakin malam, ia semakin larut mengamati gadis kecil itu. Bahkan, ia merasa kasihan saat istrinya merasa tak nyaman dengan baju yang dipakainya untuk tidur.
Apa aku gantikan saja bajunya?
Defan larut dalam pikirannya seraya menatap candu wajah cantik yang ada didepannya. Namun, ia tak ingin istrinya nanti protes jika ia menggantikan bajunya itu.
Akhirnya, Defan memutuskan untuk menggantikan baju istrinya. Ia kasihan jika istrinya merasa kegerahan karena jeans yang dipakainya selama tidur.
Defan melucuti baju gadis itu perlahan. Kemudian ia membukakan jeans yang dipakai Dira. "Lumayan ketat rupanya," gumam Defan saat kesulitan menarik jeans itu dari kaki jenjang istrinya.
Setelah berhasil, Dira hanya mengenakan dalaman yang sangat imut. Dira sangat seksi di mata Defan.
Glek
Defan menelan shalivanya karena menatap tubuh ramping itu tanpa dibaluti pakaian. Tubuh itu sangat seksi seolah-olah menggodanya.
"Ah sial!" gumam Defan tak dapat menahan hasratnya ketika melihat istrinya dengan tubuh nakednya.
Namun, Defan terus mencoba menahan nafsunya. Ia mengambil piyama yang ada ditepian tempat tidur. Baju piyama berwarna navy berlengan pendek itu mulai Defan masukkan ke lengan Dira.
Bugh!
Tiba-tiba Defan terjatuh karena tangan Dira menariknya saat Dira membalikkan badannya. Defan terengah-engah, perempuan itu memeluknya begitu erat. Kulit Dira yang hangat menyentuh tubuh Defan yang dibalut dengan piyaman.
Defan berada dalam dekapan Dira begitu erat. Kepalanya memekik dibagian depan dada Dira.
"Sial! Apa-apaan ini! Kenapa aku jadi tergoda!" lirih Defan yang membiarkan tubuhnya dibekap oleh gadis yang hanya mengenakan bra dan celan* dalamnya.
__ADS_1