Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
terjerat dosen cantik


__ADS_3

Dira kembali ke tempat perkumpulan teman-temannya. Ia melihat ketiga sahabatnya baru saja menyelesaikan makan siang.


Sementara hanya ada satu mangkok soto yang belum tersentuh. Akhirnya ia menyantap makanan itu.


"Ini punyaku, kan? tanya Dira, memastikan kalau prediksinya tidak salah.


"Iya," jawab Jenny, lalu kembali mengobrol dengan dua temannya.


Saat mengobrol, Jenny tiba-tiba memberi peringatan pada Shinta yang seharusnya tak boleh merayu suami sahabat sendiri. Percakapan itu membuat Dira semakin kikuk dan kaku, suasana pun menjadi terasa aneh.


"Apa maksudmu? Tiba-tiba menuduhku seperti itu? tampik Shinta, menatap manik Jenny sangat serius.


Dira seolah-olah tak ingin menimbrung dengan obrolan kedua sahabatnya, ia terus saja menyantap soto dan menghabiskan bersama satu piring nasi.


Namun, tiba-tiba Carol pun ikut menengahi. Meski ia mengatakan dengan baik-baik karena tak mau menyinggung sahabatnya.


"Maksud si Jenny, gini loh Sin, kau jangan terlalu dekat sama Bang Defan! Nggak enak kalau dilihat orang apalagi itu suami sahabatmu sendiri," sambung Carol bernada lembut.


"Loh aku kan cuma nanya-nanya soal pekerjaan aja karena untuk persiapanku setelah lulus dari kampus ini," seru Shinta, kali ini ia menoleh pada Carol.


"Halah ... nanya-nanya tapi kok kayak seolah-olah menggoda," tuduh Jenny.


"We, udahlah itu! Apa yang kelen omongin kayak nggak penting kali," timpal Dira menengahi.


Dira memang tak suka melihat Shinta saat mencoba mendekati suaminya. Namun, ia tak ingin membuat persahabatan menjadi renggang. Lebih baik persoalan itu pun dilupakan. Sebab, tak sedikit pun niatan Dira untuk menegur sahabatnya.


"Entah, kelen ini kenapa sih ini? Buktinya si Dira biasa aja kok, malah jadi kelen yang ngamuk," sungut Shinta, merasa sinis lantaran kedua sahabatnya menuduh menggoda suami sahabat sendiri.


"Kami hanya memperingati aja loh," tambah Jeni semakin berang karena Shinta tak mengakui tindakannya.


"Udahlah, kelen masih ada kelas lagi?" tanya Dira.


"Ada, aku satu mata kuliah lagi," sahut Carol.

__ADS_1


"Aku juga sama! Seminggu ini, jadwal kuliahku padat!" papar Shinta.


"Ya, udahlah! Jen, gimana kalau kita siap-siap ngerjain tugas kelompok? Ajak si Angga, kita kerjain di taman kampus aja!" usul Dira.


Jenny pun mengangguk, menyetujui apa yang diucapkan oleh sahabatnya. Sebab dalam dua hari kedepan, tugas itu harus segera dikumpulkan.


Keempat wanita itu membubarkan diri. Setelah jam masuk kelas dimulai, Carol dan Shinta berpisah masuk ke kelas masing-masing.


Sedangkan, Dira dan Jenny karena sudah tidak ada kelas lagi, mereka pun melanjutkan untuk mengerjakan tugas kelompok. Mereka masih mencari jejak Angga, teman satu kelompoknya karena tak kunjung terlihat batang hidungnya.


Dira dan Jenny berkeliling bahkan mendatangi kelasnya lagi. Namun wajah Angga tak juga terlihat karena ruangan itu kosong.


"Ke mana sih si Angga!" gerutu Jenny.


"Bentar lah, aku telepon dulu. Siapa tahu dia udah pulang karena memang udah nggak ada kelas lagi," ucap Dira.


Dira menghubungi Angga, melakukan satu panggilan. Tak berselang lama, pria itu mengangkat telepon dari Dira.


"Halo ... Dir, ada apa?" jawab Angga, melalui sambungan telepon.


"Oh ... bentar, aku ada di belakang kampus kok! Belum pulang," kilah Angga.


"Yaudah, kami tunggu di taman kampus. Jangan lama-lama karena kami nggak ada waktu untuk menunggumu! Pokoknya kami mau langsung mengerjakan tugas ini. Kalau kau nggak datang, jangan harap ada namamu di makalah ini!" tegas Dira, sembari berjalan gontai mengajak Jenny menuju taman.


"Oke!" jawab Angga, lalu mematikan telepon secara sepihak.


****


Di belakang Kampus nyatanya Angga tengah dicumbu oleh dosen cantiknya. Dosen itu memang sempat menghubunginya dan mengancam bahkan memberikan syarat bahwa Angga harus menjadi pacarnya.


Sejak 30 menit yang lalu ..


Baru saja, Angga berada di kantin. Namun, dosen Maudy menghubungi Angga. Entah mengapa, Maudy merasa tak sabaran untuk menjalin hubungan dengan mahasiswanya. Ia ingin merasakan sensasi pertama kali berpacaran dengan mahasiswa sendiri.

__ADS_1


"Halo ... Angga ke sini kau sekarang, saya ada di belakang kampus," tandas Maudy, setelah panggilan telepon dijawab oleh Angga.


"Ada apa lagi, Bu? Kenapa saya harus ke sana?" tanya Angga polos.


"Sudah, ke sini saja. Kalau tidak, nilaimu akan saya kasih nol semua," ancam Maudy, semakin menjadi-jadi.


Maudy ternyata membuat Angga semakin takut, pria itu bergegas mendatangi Maudy berada di belakang kampus. Bahkan sampai Angga tak lagi sempat untuk jadi makan siang.


Suara Deru nafas terengah-engah terdengar dari hidung dan mulut Angga. Ia berlari sekencang mungkin agar segera sampai ke lokasi yang dipinta oleh dosennya.


Maudy dan Angga saling menatap satu sama lain, saat itu mata Maudy menatap penuh godaan. "Sini kau," teriak Maudy.


"Ada apa, Bu?" Angga mengatur kembali nafasnya agar segera normal.


"Saya mau to the point, intinya saya ingin mengajak kau berpacaran," ungkap Maudy secara frontal tanpa adanya basa-basi.


"Maksudnya? Ibu kesambet apa? Kok tiba-tiba ngajak saya pacaran?" tutur Angga, memicingkan matanya.


"Saya menyukai kau sejak awal kita berjumpa, saya tidak mau mengulur-ulur waktu lagi. Kau mau apa tidak? Kalau tidak, siap-siap semua nilaimu dibawah mata kuliah saya, akan diberikan nilai nol!" ancam Maudy dengan keras.


"Hah ... apa hubungannya nilai kuliah sama persoalan pribadi?" Angga mengerutkan keningnya berkali-kali, bahkan ia juga menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal karena kejadian aneh ini.


Pria itu tak habis pikir, mengapa dosennya malah mengajak dirinya untuk berpacaran, padahal Angga masih fokus untuk menyelesaikan studinya selama kuliah di fakultas kedokteran. Apalagi, ini baru awal mula mengemban pendidikan.


"Semua itu berkaitan, apapun yang berhubungan dengan saya, pasti berkaitan! Mau nilai atau hubungan pribadi, pokoknya itu semua berkaitan," ketus Maudy.


Dengan terpaksa, Angga pun menyetujui permintaan dosennya yang sangat aneh. Ia sebagai pria yang polos, khawatir jika semua nilainya jeblok dan tak bisa melanjutkan ke semester 2 hanya gara-gara menolak permintaan dosen cantik itu.


Lagipula, selama ini Angga belum pernah berpacaran. Ini adalah kali pertama pengalamannya berpacaran dengan wanita bahkan lebih tua dari usianya.


"Baiklah, Bu. Saya mau!" jawab Angga pasrah, seraya menundukkan kepala lantaran sudah terjerat dosen cantik itu.


"Yes!" lirih Maudy, menyematkan senyum kemenangan di sudut bibir.

__ADS_1


Maudy segera meraih tubuh Angga, lalu mencium bibir pria itu tanpa rasa khawatir ada orang yang berlalu-lalang di sekitar mereka.


"Jangan, Bu! Nanti ada orang yang lewat," celetuk Angga sembari mendorong tubuh dosen cantik itu.


__ADS_2