
"Mbak, ini makanannya." Ibu Kantin mengangkat kantong plastik milik Juni.
"Eh, udah dulu ya, Jan? Aku buru-buru nih, soalnya ada pesanan orang juga!" Juni langsung melangkahkan kaki mengambil bungkusan plastik dan melakukan pembayaran.
Sampai di dalam ruangan, Dania tengah bersama Defan berdua. Entah apa yang mereka perbincangkan, membuat Juni semakin penasaran.
Juni menyodorkan bungkusan nasi goreng pada Defan, lalu ia mendekati Dania sehingga Defan pun keheranan. "Ini bu pesanannnya." Juni memberikan kantong plastik yang terpisah dari Defan dan miliknya.
"Loh, kau juga mesan, Dan? Kok nggak bilang? Uangnya kurang, Jun?" celetuk Defan yang melihat dengan mata kepala sendiri mengenai pesanan Dania.
"Engga pak, hehe. Cukup kok." Juni tak ingin seolah-olah mencari muka di depan bosnya, apalagi di sana masih ada Dania yang memperhatikan.
"Ayo, makan!" titah Defan, mendekati kedua perempuan yang duduk di kursi tamu sedang mulai membuka bungkusan itu.
"Iya, Def!" jawab Dania semangat. Juni pun hanya melirik sekilas.
"Jadi gimana, Dan? Apa tadi maksud pembicaraanmu?" tanya Defan meski mereka bertiga sedang mengunyah makanan.
"Pak bos, mau kasih ruangan baru untukmu! Katanya ruangan ini terlalu sesak untuk dua orang. Lagian, kenapa sih kau nggak minta ruangan untuk Juni?" papar Dania memfokuskan pandangan pada pria itu, sesekali ia pun menyendoki suapan nasi goreng yang sama dengan Defan.
"Oh, itu ... Aku tidak mau merepotkan kantor. Lagian, untuk mempermudah pekerjaanku dan Juni juga. Kalau satu ruangan, tinggal kasih berkas! Nggak perlu manggil-manggil atau cari orangnya keluar dulu!" tandas Defan diangguki oleh Dania.
"Oh gitu, mungkin nanti aku bisa bilangkan ke pak bos, untuk memberikan ruangan yang luas kalau kau tidak mau terpisah dengan asistenmu ini."
Flashback On
"Eh, ada Amangboru, lagi ngapain?" Dania baru saja keluar dari ruangan, kebetulan berpapasan dengan Desman Sinaga yang juga baru keluar dari ruangan Defan pagi ini.
"Aku lagi lihat-lihat ruangan Defan. Kecil ternyata, apa muat untuk berkas sebanyak itu dengan dua orang menempati sekaligus!" Desman pun mengerutkan kening.
"Iya, Amangboru. Memang sempit kali sih! Memang perlu diganti ruangan Defan itu," timpal Dania.
"Iya, nantilah kusuruh siapkan satu ruangan untuknya dan asistennya itu. Menurutmu apa bagus disatukan atau berpisah mereka?" tanya Desman penasaran.
"Pisahkan aja, amangboru! Nggak baik kalau perempuan dan laki-laki menyatu. Apa nggak segan si Defan itu!" Dania mulai memanasi.
Sebenarnya, Dania tak suka dengan Juni karena terus berada disekitar Defan. Bahkan, Defan lebih sering bersama Juni dibandingkan dengan dirinya.
__ADS_1
"Yaudahlah, nanti aku ganti ruangan mereka. Sekarang lagi ada sidang, udah berangkat si Defan sama asistennya," jelas Desman.
"Oh, iya, Amangboru. Aku juga dengar ada kasus yang disidangkan hari ini!" Kalau gitu aku kerja lagi, Amangboru, permisi," kata Dania meninggalkan Desman, ia masuk lagi ke ruangan sampai lupa maksudnya keluar ruangan tadi untuk menyerahkan berkas pada atasannya.
Flashback Off!
*****
Tok ... Tok ...
Dira berdiri mendengar ketukan pintu, sejak 30 menit yang lalu, ia memesankan makanan online melalui aplikasi di ponsel. Ia memesankan pizza, spagetti dan chicken wings untuk menemani makan siang bersama ketiga sahabatnya.
"Bentar, ya? Aku ambilkan pesanan kita dulu." Dira pun melangkah gontai, menarik daun pintu yang tertutup rapat sejak pagi.
"Ini kak, pesanannya." Pria paruh baya menggunakan jaket berwarna hijau menyodorkan bungkusan serta kardus pizza pada Dira.
"Terimakasih pak. Tipsnya melalui aplikasi ya." Dira melemparkan senyum termanisnya pada bapak pengantar makanan itu.
"Siap kak, terimakasih. Selamat menikmati!" Pria itupun berlalu, meninggalkan rumah yang sangat private di dalam gedung.
"Makanlah we, biar kenyang kelen! Habiskan!" titah Dira saat meletakkan bungkusan.
Ia berjalan ke arah dapur, mengambilkan air mineral dari dalam kulkas serta satu botol besar soda berwarna coklat.
"Aku lagi pengen minum ini." Dira meletakkan botol soda di atas meja.
"Eh, nggak bolehlah Dir!" Jenny menggeser botol soda itu ke arahnya.
"Kenapa?"
"Kau kan udah anu-anu, nanti nggak jadi pula ponakan lucu kita," kilah Jenny.
"Apa hubungannya?" Dira menatap tajam Jenny, menarik lalu menghembuskan nafas kasar lantaran kesal. Padahal ia hanya sesekali meminum soda.
"Kau ini, calon dokter masa nggak tahu sih!" Shinta pun menoyor kepala Dira dengan rasa gemas.
"Emang kenapa sih we? Aku pun jadi penasaran!" kata Carol polos.
__ADS_1
"Soda itu nggak bagus untuk perempuan!" ujar Jenny beralasan.
"Itu mitos!" kelit Dira lalu merampas botol yang sudah menjauh dari dirinya. Ia pun mengulurkan tangan hingga panjang demi meraihnya.
"Iya, loh yang kudengar soda itu bisa mencegah kehamilan. Buktinya kalau kita mens pasti dianjurkan konsumsi soda," kata Shinta menerangkan.
"Udah beda itu urusannya! Soda nggak pengaruhi kehamilan. Kalau hamil, ya, hamil aja!" jawab Dira sinis. Ia langsung meneguk satu gelas kecil soda tersebut.
"Kau lagi, Jen, percaya aja mitos kayak gitu! Calon dokter pun kau tapi paok kali!" sindir Dira menatap sinis.
"Udah, udah! Lagian emang kau nggak mau punya bayi, Dir? Kok ngamuk kali kau kulihat?" tanya Carol penuh selidik.
"Siapa sih yang nggak mau punya anak! Masa udah hampir dua tahun nikah, nggak mau punya anak? Mau lah!" beber Dira, nada bicaranya pun naik satu oktaf lantaran merasa kesal.
"Jadi betul kau udah anu-anu kan?" Jenny mendekat, menatap sangat tajam.
"Iya, iya! Pasti udah tuh," timpal Shinta dan diangguki oleh Carol.
"Ah kelen ini, terus diulang-ulang! Kan tadi udah kujawab iya, masa harus diceritakan sedetail mungkin?" lontar Dira semakin kesal karena ketiga sahabatnya terus saja meneror tentang itu.
Ketiga wanita itupun mendekat, mengelilingi Dira yang baru saja bersendawa dengan kencang lantaran habis meneguk soda.
"Iya, penasaran kami. Kasih triknya. Kasih tahu gimana rasanya? Sakit, enak, seram, atau—"
"Atau apa?" potong Dira protes.
"Ya, kami justru nanyak, Dir!" tantang Carol.
Akhirnya Dira pun menyerah, ia juga ingin menjaili ketiga sahabat dan menakut-nakuti mereka.
"Jadi gini, sini kelen dekat semua! Jangan ada jarak diantara kita!" tutur Dira menganggukkan tangan agar ketiga perempuan itu mendekatkan diri.
"Sumpah, pengalaman pertama itu mengerikan! Menakutkan! Sakit, perih dan ehmmm ... pokoknya kelen nggak bisa jalan abis anu-anu," cerita Dira membuat ketiga remaja itu meremang ketakutan.
"Jadi, kenapa kau udah bisa jalan sekarang?" Jenny bertanya-tanya setelah memikirkan dengan logika karena Dira tampak jalan biasa saja hari ini.
Dira pun tampak berpikir sejenak, memikirkan jawaban yang cocok untuk pertanyaan Jenny.
__ADS_1