Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
kabar buruk


__ADS_3

Defan berjalan gontai, lalu menarik tangan Dira tanpa suara. Langkah semakin cepat dan lebar agar segera sampai di dalam rumah.


"Ada apa sih, bang?" ucap Dira, melihat suaminya terburu-buru membuatnya semakin penasaran.


Defan langsung membuka pintu kamar, lalu menutup daun pintu dengan sedikit keras. Setelah pintu tertutup rapat, Defan langsung menyambar sang istri. Di depan daun pintu, Defan memeluk Dira penuh kehangatan, lalu melumatt bibir itu dengan lembut hingga beralih menjadi sangat rakus.


"Abang! Ish ... belum mandi juga," desah Dira, sesekali melepaskan ciuman suaminya agar bisa menarik nafas.


"Abang udah terlalu lama bersabar, masih nifas?" tanya Defan, setelah melepaskan lumattan rakus dirinya, dadanya naik turun dengan nafas memburu.


Ia sudah tak sabar menyentuh sang istri, setelah dua minggu puasa, tidak menyentuh wanitanya. Rasanya ingin sekali meluapkan hasrat yang terpendam selama dua minggu kemarin.


Dira mengangguk, akhirnya melemaskan hawa nafsu Defan. "Kan katanya 40 hari, bang masa nifas itu, memang sih tinggal sedikit-dikit tapi kan nggak boleh dulu. Sabar, dua minggu lagi ya!" kilah Dira, kemudian mengecup pipi suaminya, meski seketika Defan menekuk wajahnya dan cemberut karena gagal meluapkan nafsunya.


"Kok lama sih, yang!" sungut Defan, berjalan lemas mengekori sang istri menuju kamar.


"Ya, mana aku tahu. Keguguran itu sama kayak melahirkan abang! Masa nifas tetap selama 40 hari. Jadi abang harus bersabar, biar rahimnya juga pulih sempurna jadi bisa buat dede bayi lagi," kekeh Dira, membuka baju di depan sang suami tanpa rasa malu.


"Astaga! Ayang!" Defan semakin mengelus dada, saat melihat pemandangan tak lazim ada di depan mata, susah payah ia menelan shaliva yang memenuhi ujung kerongkongan.


"Kenapa lagi sih?" imbuh Dira, masih polos dan tak mengerti kondisi suaminya.


Defan langsung menangkup tubuh molek itu, memeluknya dengan erat. Kulit Dira bersentuhan langsung dengan baju Defan, seketika gairah suaminya meningkat pesat.


Dira yang hanya mengenakan dalaman sudah menjadi target suaminya. Defan menciumi leher jenjang istrinya, lalu beralih mencium kedua si kembar yang masih dibalut bra cantik berwarna pink.


"Abang, yang sabar! Cuma boleh cium-cium aja, ya!" celetuk Dira, pasrah dengan perlakuan sang suami.


"Hmmm," deham Defan, melanjutkan aksinya, meraba sekujur tubuh istrinya yang tidak tersentuh selama dua minggu lamanya.

__ADS_1


Defan memutar wajahnya di depan dada Dira. Mencium belahan si kembar itu, lalu mendongak untuk menatap wajah istrinya yang begitu pasrah.


"Mau aku bantu?" tawar Dira, mengerlingkan mata.


Defan tampak berpikir mencerna maksud kata-kata yang dilontarkan oleh gadis kecil itu. Istri kecilnya sudah mulai nakal bahkan telah belajar mengetahui seluk-belum hubungan suami istri, apalagi kondisinya sedang berhalangan.


"Hmm ... boleh juga! Bantunya gimana?" tanya Defan, menatap penuh selidik.


Dira mengangkat satu telapak tangan, jari jemarinya digoyangkan dengan gemulai. Namun, Defan masih bingung apa maksud perempuan itu.


"Apa sih, yang?" Defan memicingkan mata, masih belum mengerti apa maksud istrinya.


"Pakai senam jari dong, bang!" kekeh Dira, tertawa kecil.


"Astaga! Nakal kau, ya!" Defan mencubit hidung Dira tapi berakhir tak menolak tawaran itu.


Dira melakukan aksinya, sengaja melakukan senam jari membantu Defan meluapkan hasratnya yang tertunda hingga membuat frustasi pada pikiran. Meski tidak ada penyatuan, Defan tetap dibantu sang istri hingga berhasil menghilangkan gairah yang kian memuncak.


Setelah memuaskan nafsunya, Defan mengajak sang istri untuk mandi berdua. Rasanya sudah lama tidak melakukan rutinitas intim seperti itu.


Di dalam kamar mandi, mereka mandi bersama di bawah pancuran shower. Bermandikan air hangat sembari saling menggosok punggung. Rasa lelah yang dirasakan keduanya langsung menghilang.


****


Rosma belum mengetahui kabar keguguran yang dialami Dira. Kabar itu disembunyikan anaknya dengan rapat. Hanya keluarga Defan yang mengetahui.


Keluarga Dira bahkan sudah lama tak mempertanyakan kabar boru panggoarannya. Oleh karena itu, ia merasakan kerinduan untuk mendengarkan kabar Dira, sekedar bercerita pun Rosma tidak memiliki teman, sebab suaminya sibuk bekerja sedangkan kelima anak laki-lakinya sibuk dengan kegiatan sekolah dan bermain.


"Pak, apa kita datang ke rumah Dira? Udah lama loh nggak pernah telepon ataupun berkunjung," tutur Rosma, menatap lekat suaminya yang sedang asik merokok di teras rumah.

__ADS_1


Malam itu, Sahat baru saja pulang ke rumah, langsung disambut oleh Rosma. Rosma menghidangkan kopi serta cemilan pisang goreng, mereka berdua menikmatinya saat senja hingga hari semakin gelap.


"Nggak pernah rupanya kau telepon boru kita itu?" tanya Sahat, membalas tatapan dari wanita paruh baya yang ada di hadapn.


Rosma menggelengkan kepala. Memang nyatanya, ia sempat melupakan boru mereka yang sudah memiliki status pernikahan.


"Ehm ... teleponlah, nah!" Sahat menyodorkan telepon genggam jadulnya pada sang istri.


"Kira-kira dia sibuk nggak? Mamak pun lupa, hari ini kayaknya dia mulai kuliah," tambah Rosma.


"Oianya? Udah kuliah dia hari ini? Cobalah kau telepon dulu! Akupun jadi rindu sama boru panggoaran kita!" balas Sahat.


Rosma menghubungi Dira, saat sekitar jam 7 malam. Panggilan pertama memang sempat terabaikan.


Namun, pada panggilan kedua, Dira mengangkat sambungan telepon. "Halo, mak? Apa kabar mamak sama bapak?" sapa Dira, dari seberang telepon.


Ia bersama Defan baru saja selesai menikmati ritual pemandian. Masih berbalut handuk di tubuh, Dira langsung mengangkat telepon yang berdering begitu kencang.


"Halo, boru! Kayak mana kabarmu? Nggak pernah kau telepon mamak! Kami sehat semua di sini," jawab Rosma, mendengarkan serius apa yang akan diucapkan oleh anaknya.


"Sehat aku, mak! Besoklah, aku ajak bang defan ke rumah. Udah lama kami nggak ke sana," ucap Dira.


"Iyalah boru, datanglah kalian ke sini! Jangan lupa sama orang tua! Apa ada kabar di sana? Kau sudah mulai kuliah?" cecar Rosma, sementara suaminya hanya mengangguk meminta agar telepon diberikan padanya.


"Ada kabar buruk, mak tapi besoklah aku ceritakan." Dira masih terpaku menggunakan handuk, melihat kesempatan itu, Defan memeluk istrinya dari belakang.


Pria itu mengecup pipi Dira berkali-kali dari belakang, Dira hanya pasrah bahkan tak menggerutu. Tak hanya itu, Dira juga mengelus pucuk kepala Defan yang disandarkan pada pundaknya.


"Kabar buruk apa, boru? Kau sudah hamil?" sambung Rosma, memulai obrolan yang masih disembunyikan oleh Dira.

__ADS_1


"Ehmm ... belum, mak. Besoklah itu aku ceritakan. Oh iya, hari ini kami mulai ospek. Biasa aja sih kuliahnya mak, masih pengenalan kampus sama senior-senior," seloroh Dira, membalas ciuman hangat suaminya yang mendarat di bibir.


"Oh, udah rindu kali mamak sama kau! Udah ada kurasa satu bulan kita nggak berkabar! Nah, ini bapakmu juga mau bicara!" Rosma memberikan telepon genggam jadul itu pada suaminya.


__ADS_2