Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
kebablasan


__ADS_3

Defan baru saja menenggelamkan tubuhnya didalam genangan air bathup. Sesekali ia keluarkan kepalanya agar bisa bernafas. Menikmati air hangat pemandiannya untuk menenangkan tubuhnya.


Setelah hampir setengah jam berendam, Defan keluar dari kamar mandi. Berjalan gontai menyusuri ruangan, mencari jejak kopernya dimana berada.


Sebelum perhatiannya beralih ke koper, tak lupa ia menikmati tubuhnya didepan cermin.


Cermin.. Cermin... Siapakah yang paling tampan didunia ini?


Ia berhalu ria didepan cermin, menatap tubuh seksinya yang memiliki dada bidang, berparas wajah tampannya.


"Bang? Sadar!" Suara Dira membuyarkan lamunan Defan. Pria itu menatap pantulan wajah Dira didalam cerminnya.


"Hmmmm." Defan bergumam seraya mencari koper mereka. Sementara Dira sudah rapih memakai piyama miliknya.


"Itu baju abang," ucap Dira menunjuk pasangan baju yang ia kenakan menggantung dihanger dalam lemari.


Dira sudah menyiapkan baju Defan, saat sekaligus mengambil baju miliknya. Koper juga telah ia rapihkan mempersiapkan kepulangan mereka.


"Bang, besok kita berangkat jam berapa?" ujar Dira yang tak melepaskan pandangannya dari tubuh suaminya yang seksi.


Pemandangan telanjang dada itu membuatnya sulit untuk memalingkan wajah.


"Jam 7 pagi udah mandi," celetuk Defan datar.


"Jih!" decit Dira tak habis pikir. Mengapa ia harus bangun sepagi itu, padahal penerbangan mereka berangkat jam 12 siang nanti.


"Kenapa?" tanya Defan sinis mendengar decitan Dira.


"Abang tanda kalilah orang bataknya. Kalau naik pesawat takut kali terlambat," ledek Dira berwajah masam.


"Hahahahaa! Ya, aku memang orang batak," tegas Defan tak mau mengalah.


"Makanya itu kubilang abang tanda kali bataknya. Ke Bandara aja pun harus cepat-cepat kali. Kan kita berangkat dari sini bisa jam 9, agak santai gitu mandi paginya," erang Dira.


"Hemmm yaudah kalau kau udah tahu berangkat jam berapa, ngapain lagi kau tanya samaku. Udahlah aku mau pakai baju dulu." Defan berjalan gontai mengambil gantungan baju miliknya.


Tanpa rasa malu ia mengenakan pakaian itu didepan Dira. Mulai dari memakai dalaman, baju, hingga ia melepaskan handuknya yang sudah berbalut dalaman, otomatis dalamannyaa itu terlihat jelas didepan mata Dira.


"Aawwwww!" pekik Dira setengah berteriak.


"Abang ngapain sih pakai baju disitu. Ke kamar mandi sana." Dira menutup kedua matanya yang sudah ternodai oleh pemandangan tak lazim didepannya.

__ADS_1


Sesekali ia mengintip, merenggangkan jari-jarinya memastikan Defan telah selesai memakai celananya.


"Kalau nutup matanya gitu, ya percuma! Kalau mau lihat, ya lihat aja kali! Gratis kok," sungut Defan bernada sinis.


"Siapa juga yang mau lihat! Ihhh kepedean!" hardik Dira masih menutup kedua matanya.


Defan telah selesai memakai celananya, ia berjalan gontai mendekati Dira yang sedang duduk diatas ranjang yang kedua mata tertutup dengan tangannya.


Ia meraih tangan Dira, menariknya dengan lembut.


"Udah beres!" timpal Defan seraya mendudukkan tubuhnya diatas ranjang. Ia masih bersantai, menyandarkan tubuhnya ditumpukan bantal hotel.


"Abang jangan sering-serinng gitu dong. Akukan malu kalau lihat abang nggak pakai baju." Dira menunjukkan wajah yang penuh tatapan amarah, membuat Defan tersenyum tipis.


"Terus aku harus ganti baju dimana?" goda Defan dengan tatapan serius.


"Di kamar mandikan bisa bang!" keluh Dira.


"Nggak ah! Malas ke kamar mandi lagi. Lagian kita sudah resmi jadi suami istri, apa salahnya langsung pakai baju didalam kamar," sergah Defan.


"Terserah abang ajalah! Lebih baik aku yang mengalah!" ketusnya seraya memalingkan tubuhnya, kini ia memunggungi tubuh Defan yang duduk santai menghadap kedepan.


"Dir, udah kau cek semua barang itu? Jangan sampai ada yang ketinggalan," celetuk Defan tanpa ada sahutan dari Dira.


Defan yang duduk santai sembari memegang ponselnya, beranjak dari duduknya. Memerhatikan Dira yang berada disampingnya.


"Dir!" Defan berteriak tetapi tak ada respon sama sekali.


Ia mengangkat tubuhnya, mengecek apakah Dira sudah tertidur. Hal yang pertama kali disorot olehnya adalah wajah cantik Dira.


"Hmmm dasar gadis kecil. Baru jam 9 udah tidur," gumamnya tersenyum memperhatikan wajah cantik itu.


"Ia menarik selimut yang berada dibawah kaki Dira, menyelimuti kaki yang jenjang, bertubuh ramping tersebut. Ia sangat menikmati pemandangan yang ada didepannya, wanitanya kini tertidur dengan pulas.


Tak lama, ia mengikuti jejak Dira. Merebahkan diri diatas ranjang, hanya membutuhkan lima menit, Defan sudah larut dalam tidur nyenyaknya.


******


Drrrt drrrtt


Suara getaran ponsel Dira, membuatnya terbangun dari tidur pulasnya. Pagi itu, ternyata sudah jam 9 pagi. Begitu terkejutnya Dira melihat jam diponselnya. Harusnya mereka sudah berangkat menuju bandara.

__ADS_1


Ia lihat ponselnya, ternyata satu panggilan tak terjawab dari mertuanya. Buru-buru Dira beranjak dari kasurnya.


"Abang bangun!!! Udah jam 9, kok abang kebablasan sih," pekik Dira berteriak memekakkan telinga Defan.


"Ada apa sih! Pagi-pagi sudah rusuh," gerutu Defan masih setengah sadar. Ia masih terbaring lemas di atas ranjang, mengumpulkan nyawanya agar tersadar dari tidurnya.


Sementara Dira terburu-buru masuk ke dalam kamar mandi.


Byurrr Byurrr


Suara jebar jebur air dari shower membuatnya semakin terburu-buru.


"Mampus aku! Bisa kena terkam seharian sama bang Defan kalau benar-benar ketinggalan pesawat," batinnya seraya memastikan sabun telah dibalurkan secara merata ke tubuhnya.


Dengan pancuran yang deras, Dira membersihkan sisa-sisa busa sabun yang ada ditubuhnya. Rambut dan badannya kini terhempas dari balutan busa.


Tak berselang lama, ia buru-buru mengeringkan rambutnya dengan haridrayer. Rasa segar sudah ia nikmati, meski dengan cara yang terburu-buru.


Beruntung, sebelum tidur ia sudah mempersiapkan baju ganti untuk dikenakan ke bandara, begitu juga dengan baju Defan sudah ia sisihkan bersama bajunya.


"Bang buruan mandi," tandas Dira setengah berteriak.


"Iya sabar! Memang sudah jam berapa?" tanya Defan santai dengan suara paraunya serta tatapan datarnya.


"Udah jam 9 pagi lewat 10 menit loh bang! Katanya mau berangkat jam 9," sergah Dira.


"Astaga! Kenapa kesiangan?" tanya Defan kebingungan, ia beranjak dengan cepat dari tidurnya.


Matanya membelalak seketika, tak diduga waktu berjalan begitu cepat. Dengan setengah berlari, Defan masuk ke dalam kamar mandi. Tak ada waktu bersantai lagi, dalam lima menit dia menyudahi ritual mandinya.


Disaat genting begini, cara cepat harus ia lakukan. Dengan cueknya ia berganti baju didepan Dira.


"Mana bajuku?" teriaknya dengan tatapan tajam saat Dira sedang merias wajahnya didepan meja rias.


"Tuh." Dira menunjukkan baju yang tergantung didalam lemari hotel.


Buru-buru Defan memakai baju itu, secepat kilat bajunya pun sudah berada didalam tubuhnya. Saat itu juga, Dira memalingkan wajahnya, membelakangi Defan yang terburu-buru mengganti baju.


Kalau gini terus bisa pingsan aku! Lihat dia telanjang didepan mataku.


Dira bergumam seorang diri masih dengan posisi membelakangi suaminya. Hal itu belum terbiasa baginya. Namun, perlahan-lahan ia akan menyesuaikan diri dengan kebiasaan suaminya.

__ADS_1


__ADS_2