Paribannya Si Boru Panggoaran

Paribannya Si Boru Panggoaran
sinetron favorit


__ADS_3

"Iya, betul itu jangan terlalu khawatir kau soal duit, semua itu bisa dipenuhi bapakmu, jangan sampai kau sakit di sana gara-gara makan mie instan terus," tegas Defan, ia tak mau melihat adik bungsunya sakit karena makan seperti itu.


"Tenanglah kalian apapun yang kumakan di sini itu sudah menjadi urusanku, pasti aku nggak bakal melewatkan kalau soal makan enak!" balas Anggi.


"Ya, Boru jangan khawatir soal uang, udah makan aja semaumu, jangan pelit-pelit sama diri sendiri, kalau kurang lagi uangnya tinggal minta, apalagi kalau udah habis nanti biar dikirim sama bapakmu," tukas Melva.


Sementara, Anggi hanya manggut-manggut mengiyakan perkataan seluruh keluarganya. Ia mulai berpikir sejenak agar tak lagi menghemat diri, sebab sang Bapak memiliki kekayaan yang fantastis, untuk apa ia selalu memakan mie instan demi penghematan saat semasa kuliah di Jakarta.


"Nanti aku bakal makan yang enak kayak kalian, pokoknya aku habiskan nanti uang itu!" ancam Anggi seraya tertawa terbahak-bahak.


"Nggak papa, habiskan aja semaumu!" teriak Desman, ikut juga tertawa terbahak-bahak.


Tak berselang beberapa lama, Melva pun menyudahi panggilan telepon itu, tak terasa bahkan hampir 1 jam mereka bercuap-cuap hanya untuk menanyakan kabar hingga akhirnya Melva pun memulai makan malam hari ini.


"Ayo, kita makan malam, kelamaan mengobrol malah sampai lupa waktu, udah jam 7 malam rupanya," sungut Melva, saat menatap jam di dinding.


"Gak papa lama, lagian tadi kesorean kali kalau kita mau makan malam," sambar Defan.


"Kalau gitu bapak yang pimpin doa!" titah Melva.


Desman pun memulai untuk memimpin doa, mengaitkan tangan di depan dada yang disanggah oleh meja makan. Seketika, suasana pun menghening karena mereka tengah meresapi doa yang diucapkan oleh Desman.


Desman enyampaikan isi-isi doanya, lalu satu keluarga itu pun menyantap makan malam setelah doa berakhir. Tak ada suara lagi yang berada di ruang makan hanya suara denting antara piring sendok yang beradu.


*hening...


Masing-masing larut dalam pikirannya, kemudian menyantap makanan dengan lahap. Banyak makanan yang disajikan oleh Melva, semua makanan itu adalah hasil dari kelihaian tangannya sendiri lantaran ia sangat gemar memasak apalagi untuk keluarganya.

__ADS_1


Tak heran jika Melva bisa menyajikan berbagai makanan nusantara yang dihidangkan di depaj seluruh keluarga malam ini, terutama tak lupa ia juga menyajikan makanan kesukaan anaknya yaitu rendang daging dan ayam kalasan.


Usai menyelesaikan makan malam, mereka lantas tak langsung membubarkan diri dari meja makan, saat itu Melva masih mengajak suami anak dan menantunya untuk berbincang-bincang di meja makan.


"Gimana kalau kita nanti liburan satu keluarga ini saja?" usul Melva pada keluarga intinya.


"Wah, boleh juga itu, Inang sudah lama kita tak liburan, harus saling mengeratkan hubungan kekeluargaan," sela Dira.


"Iya, boleh lah kita liburan, mending staycation aja, Mam!" saran Niar.


"Iya juga, staycation di hotel dengan kamar terpisah-pisah atau kalau lebih bagus di Villa tapi jangan di kota Medan lah, enaknya kayak di tempat-tempat yang dingin," tambah Melva.


Dira dan Niar mengangguk dengan semangat, mereka sangat senang jika mendengar kata-kata liburan. Entah kenapa kedua perempuan itu sudah merasa sumpek dengan kegiatannya masing-masing.


Sementara kedua pria yang ada di meja makan tampak diam meresapi pembicaraan para perempuan yang ada di sana, mereka hanya bisa menuruti keinginan para perempuan itu.


"Kalau. Bapak sih oke-oke saja, yang terpenting semuanya sudah disiapkan dengan matang," jawab Desman dengan santai.


"Kau, Def?" tanya Melva pada anak lelakinya.


"Aku juga setuju dengan yang dikatakan Bapak, apapun kata semua perempuan di rumah ini, kita hanya bisa menurut saja, manti merepet pula mama!" ucap Defan, tak pernah ingin menolak, karena pasti akan ada yang cerewet yaitu sang mama.


Melva hanya tertawa terbahak-bahak saat mendengarkan penuturan kedua pria itu. Dan akhirnya mereka sepakati saat weekend ini, untuk mengadakan liburan keluarga, awalnya Melva ingin menunggu kedatangan putri bungsunya saat liburan semester tapi terlalu lama hingga menunggu beberapa bulan lamanya.


"Kalau gitu, kita liburan di akhir pekan ini aja!" timpal Melva memberikan ide.


"Wah ... bagus juga itu, Inang tinggal 2 hari lagi udah weekend kok," sanggah Dira, seraya menepuk punggung suaminya diam-diam.

__ADS_1


"Ya, kalau soal liburan gini sih pasti ada yang sangat antusias," celetuk Defan, menahan rasa sakit pukulan sang istri.


Semuanya hanya bisa tertawa terbahak-bahak, sebenarnya maksud Melva mengajak liburan keluarga adalah untuk memberikan uang dan waktu pada anak lelaki dan menantunya, agar mereka lebih cepat merilekskan pikiran sehingga bisa berakhir memproduksi cucu bagi keluarga Sinaga.


Bahkan, Melva sudah tak sabar ingin menimang cucu tersebut. Melva juga tak berani mengatakan pendapatnya secara langsung, mungkin dengan cara menyiapkan momen liburan ini bisa membuat Dira dan Defan merasa memiliki waktu lebih intim berdua.


Usai menyantap makan malam, Melva menyarankan pada sepasang suami istri yang sedang berkunjung ke kediaman Desman untuk tetap tinggal dan bermalam di rumahnya.


Meski besok harus bekerja dan kuliah, Melva masih ingin merasakan keberadaan anak dan menantunya itu lebih lama di dalam kediaman mereka. Rasanya sudah lama tidak menatap sepasang suami istri itu, terakhir waktu mereka masih liburan bersama keluarga besar.


"Kalian nginep aja di rumah ini, jangan pulang!" protes Melva, saat melihat sepasang suami istri itu tengah bersiap-siap.


Padahal nyatanya Dira dan Defan memang tidak berniat ingin pulang, sejak awal mereka menuruti permintaan Melva, dan saat ini keduanya ingin bersiap-siap masuk ke dalam kamar Defan yang lama.


"Siapa yang mau pulang, ada-ada aja Mama ini! Kami masih mau bersih-bersih dulu, mau ke kamar," hardik Defan.


"Ya, santailah, kok jadi ngamuk kau," cibir Melva seraya menoyor kepala anak lelakinya.


Sejak makan malam keluarga, semuanya masih berkumpul hingga berpindah tempat ke ruang keluarga tapi tidak dengan Niar, dia malah pergi ke kamar untuk beristirahat.


Namun, karena sudah merasa risih seharian belum mandi, akhirnya Defan dan Dira pun ikut berpamitan dari ruang keluarga. Saat itulah Melva yang melihat sepasang suami istri itu bersiap-siap, mengira mereka akan pulang ke rumahnya. Oleh karena itu, Melva akhirnya protes.


"Yaudahlah, ke kamar kalian, mandi dulu dan istirahat, nanti kalau misalnya bosan di kamar, ke sini lagi aja. Kalau mama sih masih mau nonton sinetron dulu," papar Melva.


"Kami pamit ke atas dulu," ujar Defan, lalu kemudian segera beranjak dan pergi sembari menggandeng istrinya, mereka berjalan beriringan menuju kamar di lantai dua.


Sedangkan Melva dan Desman, duduk berdua berada di ruang keluarga, suaminya hanya menemani untuk menonton TV sejenak. Selama beberapa hari ini, Melva memang mengurungkan niat untuk menonton menonton sinetron favoritnya.

__ADS_1


Baru kali ini, ia melanjutkan episode terbaru untuk sinetron yang ditayangkan di televisi tersebut. Sembari keduanya pun terkadang berbincang-bincang memberikan pendapat tentang tontonan yang mereka lihat.


__ADS_2