
Kemudian, Defan melumattnya semakin lebih rakus. Lidah yang saling melilit, bahkan lidah itu menjelajahi rongga mulut Dira dengan eloknya.
"****!" gumam Defan, saat gairahnya kian memuncak.
Dira yang mengerti kondisi suaminya, bergerak cepat memainkan tangannya yang lihai. Seolah bermain pedang-pedangan, ia memegang kendali pada area keintiman milik sang suami.
Tak ada penyatuan keduanya tetapi Dira lolos memuaskan gairah suaminya. "Makin pintar, ya, ayang!" puji Defan, mengacak-acak rambut Dira.
Sejak lima menit yang lalu, Defan sudah menurunkan Dira dari gendongannya. Setelah nafsunya terpuaskan, seketika lututnya melemas tak kuat menopang tubuh Dira yang ramping.
"Makasih, ya, yang!" ucap Defan lagi, lalu mengecup pucuk kepala Dira yang belum tersiram air setetes pun.
Kali ini, Dira menggosok-gosok punggung suaminya dengan semangat. Meski ia tak bisa mendapatkan sentuhan secara langsung, setidaknya ia berhasil memuaskan hawa nafsu suaminya yang sempat tertahan.
"Yang, sini abang bantu!" kata Defan, lalu memberikan tempat pada Dira di bawah shower agar tubuhnya bisa tersiram air pemandian.
Defan juga membantu Dira menggosok-gosok punggung. Bahkan, ia juga membantu sang istri, memijit kepala serta membersihkan kepala itu dengan shampo.
"Kurang kencang, bang!" kata Dira, sedikit bernada manja agar suaminya mengencangkan pijitan di kepala.
"Gimana, yang? Udah pas?" Defan mengencangkan pijitannya, membuat Dira menikmati pijitan suaminya.
"Pas!"
Setelah merasa puas dan bersih, keduanya menyudahi ritual pemandian tersebut. Yang mengejutkan Dira, lagi-lagi suaminya menggendong tubuhnya secara menyamping, dengan sangat mesra dari kamar mandi hingga ke tempat tidur.
"Abang!" ronta Dira, menggoyang-goyangkan kedua kakinya lantaran kesenangan digendong dan mendapatkan perhatian lebih dari Defan.
"Jangan gitu, yang! Abang jadi susah jalannya! Tubuhmu kan berat!" kelit Defan, setelah tiba di dekat kasur, ia menurunkan tubuh istrinya perlahan.
Mendirikan tubuh itu dengan lembut sampai Dira berhasil menyeimbangkan tubuhnya. "Makasih, abang!" seru Dira, mencium bibir sang suaminya dengan cepat.
"Hmmm!" Defan berjalan gontai, mengambilkan dua pasang piyama untuk dirinya dan istrinya.
Piyama kembar yang akan mereka pakai malam ini. Piyama berwarna hijau botol.
"Yang, mau dipakaikan?" tawar Defan, memicingkan mata, tatapannya pun cukup nakal.
__ADS_1
"Nggak ah, aku bisa pakai sendiri kok!" jawab Dira, langsung merebut piyama yang masih digenggam oleh suaminya.
"Baiklah!" Defan memakai **********, lalu meneruskan melengkapi piyama untuk menutupi tubuh.
Sama halnya dengan Dira, ia juga langsung memakai seluruh piyama yang diberikan suaminya termasuk dalaman-dalamnya.
****
Pagi-pagi, Defan memastikan semua berkas telah masuk ke dalam tas kerja. Ia sudah repot agar tidak ada satupun berkas yang ketinggalan.
Selain itu, Defan juga memastikan bolpoin bukti rekaman sudah berada di dalam tas. Tak lupa, ia juga membuat salinan rekaman di ponsel agar memudahkan untuk memperdengarkan bukti tersebut di depan persidangan.
"Ayang! Cepetan dong, abang nanti bisa telat!" gerutu Defan, sedikit berteriak karena Dira belum juga selesai memakai baju seragam.
"Iya, bang!" Dira bergegas keluar kamar, mengedarkan pandangan, menatap suaminya yang pagi ini sangat tergesa-gesa.
Sidang dimulai pukul 8 pagi, oleh karena itu ia tidak ingin terlambat tiba di Pengadilan Negeri Kota Medan.
Untung saja, tangan Defan sangat cekatan, ia sudah memasukkan dua roti ke tempat bekal. Dilengkapi jus jeruk kemasan kesukaannya.
"Ayo, yang! Makannya di dalam mobil saja!" titah Defan, bergegas keluar dari kondomium.
Defan seketika tertegun saat melihat Angga sudah berada di dalam lift. Pria itu memang memiliki jadwal keberangkatan yang sama dengan istrinya, sebab mereka satu jurusan dan berkuliah di kampus yang sama.
Tak berselang lama, Defan kembali menyadarkan diri. Ia segera masuk ke dalam lift, diikuti oleh Dira.
"Banyak kali barang bawaannya, bang!" tutur Angga, walau sebenarnya hanya basa-basi lantaran melihat Defan yang membawa tas kerja beserta bekal yang ditenteng.
"Iya!" jawab Defan jutek.
Dira hanya diam, melihat suasana yang menegang. Lebih baik, ia mengamankan diri bahkan tak menyapa teman satu jurusannya.
Angga hanya tersenyum menyeringai saat ditatap oleh Dira. Mereka tak saling menyapa. Untuk kesekian kalinya, Angga memergoki Dira lagi-lagi bersama dengan pria yang sama.
Angga semakin curiga, kalau Defan dan Dira memiliki hubungan. Hubungan tidak seperti abang adik, melainkan hubungan yang terlihat mesra, karena tatapan Defan pada Dira berkata demikian.
Setelah pintu lift terbuka, Defan buru-buru mendekati mobil. Dengan jalan yang tergopoh-gopoh karena banyak barang bawaan, ia segera memasuki mobil. Dira pun juga melakukan hal yang sama.
__ADS_1
Sementara Angga, dari kejauhan sempat menatap pasangan suami istri tersebut. Lalu, ia juga cepat-cepat memasuki mobil.
****
"Bang, hati-hati, loh!" pesan Dira, mencium punggung tangan suaminya, lalu mengecup bibir pria itu.
Saat 15 menit yang lalu, Dira dan Defan menyantap roti saat masih berada di jalanan. Dira menyuapkan roti hingga mengenyangkan perut suaminya. Tak lupa, ia juga menghabiskan roti yang disiapkan oleh pria itu. Serta memberikan jus jeruk kesukaan suaminya agar segera diminum.
***
Defan buru-buru menginjak pedal gas agar segera tiba di pengadilan. Sebelum keluar dari mobil, saat tiba di perpakiran pengadilan, Defan menarik dan membuang nafas kasar.
Hufttt
Meski untuk sekedar merilekskan pikiran dan tubuh, ia sengaja mengeluarkan nafas kasar tersebut. Lalu, keluar dari mobil, tak lama ia berjalan, melangkah lebar memasuki ruang pengadilan untuk persidangan kasus OTT yang menimpa kliennya.
****
Dira masih bersantai di kantin kampus bersama ketiga sahabatnya. Pagi itu, Dira dan ketiga sahabatnya masih mengobrol sekaligus sarapan.
"Tadi aku udah sarapan roti tapi lapar lagi lihat kelen makan!" keluh Dira, menatap ketiga sahabatnya yang asik menyantap lontong sayur medan.
"Udah, pesan ajalah!" sahut Jenny, meski fokus menghabiskan lontong sayur di hadapannya.
Dira langsung menyambut pesan Jenny, ia berlari ke warung tempat penjualan lontong sayur. Memesankan satu untuk dirinya sendiri.
"Bu, satu, ya, di sana!" tandas Dira, seraya menunjuk kursi yang duduki tiga sahabatnya.
Ibu kantin kampusnya langsung membuatkan pesanan Dira. Tak lama, satu piring lontong sayur diantarkan. Dira menyantap dengan cepat karena diburu waktu.
"Heh, pelan-pelan kau, nanti kesedak pula!" tutur Carol, mengingatkan.
"Bentar lagi udah masuk loh!" sahut Dira, segera menghabiskan lontong sayur yang terasa nikmat di mulut.
"Iya, tenang aja, Dir! 10 menit lagi lah! Masih panjang itu waktunya," kata Shinta, menenangkan Dira agar tak perlu terburu-buru.
Saat itu, tiba-tiba Panja melintas di hadapan Shinta. Ia pun segera menoleh, pandangannya tak lepas dari senior yang sudah ia sukai sejak pertama bertemu.
__ADS_1
"Siapa itu, Shin? Kok kau tengok terus?" cecar Jenny, menatap lekat saat melihat Shinta yang tak melepas pandangan dari pria itu.