
Di perjalanan pulang, suasana di dalam mobil sungguh sangat mencekam. Rizal dan Rama merasakan hawa mematikan yg sangat kuat. Rizal memberhentikan mobilnya di sebuah masjid setelah mendengar adzan magrib. Rizal turun terlebih dulu dan buru buru membuka pintu untuk Cinta. Dengan raut wajah yg sulit di artikan, Cinta menuruni mobil dan menyambut gandengan tangan yg di ulurkan Rizal.
"syukur masih mau di gandeng. Paling tidak masih mau pegang tangan." batin Rizal.
"Yang Rizal kenapa aneh gitu ya?" tanya Rama pada istrinya
"Gimana gak aneh. Orang dia sudah melakukan kesalahan to." jawab ketus Rena.
"kesalahan? Oh nuker istri maksud kamu?" tanya Rama yg mulai mengerti duduk permasalahannya
"Pikir aja sendiri. Kadang kadang mulut itu emang harus di sekolahin ya. Heran deh, kayanya dulu pas sekolah kalian itu kerjaannya nyemilin bangku deh rasanya." Jawab Rena ketus sambil berlalu meninggalkan Rama yg kebingungan.
Setelah sholat magrib Rizal mengajak istrinya beserta abang dan kakak iparnya untuk duduk di serambi masjid. Rizal memberikan minuman yg sempat dia beli di depan masjid saat menunggui istrinya selesai sholat.
"Yang, ada masalah apa sampai sampai kamu diemin mas dari tadi?" tanya Rizal dengan penuh kelembutan.
__ADS_1
"Ya pikir aja sendiri mas, masak gitu aja masih tanya." jawab jutek Cinta membuat Rizal tersentak.
"Hati mas sakit lo yang kalo kamu bentak gini." Rizal memegangi dadanya.
"Drama lo dek" bisik Rama.
"Baru di bentak udah sakit hati mas, gimana di kuter sama kaleng rombeng." Jawab Cinta dengan nada yg lebih tinggi karena kesal.
"Ya sallaaammmm" jawab Rizal.
"Tau ni, lo itu pinter Zal. Tapi gue gak nyangka kalo pelajaran SMA lo cuma ngeresep di dengkul doang. Kagak sampek naek ke otak." Celetuk Rena.
"Kalo gak terima terus mau di tuker seenaknya gitu?" Tukas Cinta yg tak memberi Rizal waktu untuk menjelaskan.
"Dengerin dulu mas bicara sayang. Nanti baru komentar. Sekarang mas mau tanya sama kamu. SIAPA NAMA LENGKAP KAMU?" Tanya Rizal yg geram di buat oleh istri tercintanya.
__ADS_1
"CINTA LATSHIFA." Jawab Cinta.
"Nah dari situ aja mas mikir sayang sudah paham. Tapi ternyata belum setelah mas liat expresi kamu. Mas itu nuker Cinta dengan Lashifa. Itu apa bedanya dengan Cinta? Nama emang beda tapi orang ya sama aja. Cinta ya kamu Lashifa ya kamu. Asallaaaammmm kaya gitu aja di bikin perkara sih. " Jawab Rizal sambil mengacak rambutnya.
Cinta mendengar penjelasan Rizal hanya tersenyum dan menundukkan kepala karena malu. Rena tak bersuara setelah mendengar penjelasan dari Rizal. Rama pun di buat tercengang. Demi apa Rizal bisa mikir kesana saat mama minta nuker mantu pikir Rama.
"Malu kan sayang sekarang. Gak perlu malu, mas aja gak malu mengakui kamu istri mas. Biar pun kadang punya pemikiran yg di luar nalar manusia." Jawab Rizal sambil membawa kepala Cinta di pelukannya.
"Mas malu ini di masjid. Entar di kira kita sedang melakukan hal yg enggak enggak mas." cicit Cinta yg merasa malu.
"Allah itu menyukai keharmonisan dalam berkeluarga yang dari pada pertengkaran. Masak gitu aja malu." Rizal memberi komentar.
"Mas, memang Allah menyukai tetapi tidak di sembarang tempat. Jangan samakan Cinta dengan binatang yg bisa memadu kasih di mana saja. Karena binatang tak memiliki rasa malu." Jawab Cinta yg membuat Rizal melepaskan pelukannya.
"Iya maaf. Gak lagi mas mempermalukan kamu."
__ADS_1
"Dengan Cinta mencium tangan mas saja itu sudah lebih dari cukup mas, di tambah dengan mas mencium keningku. Itu pahala yg besar bagi ku mas. Semoga Cinta bisa memegang kunci surga buatmu mas." Kata Cinta menundukkan kepala.
"Kalian lah yg menjadi patokan kami." Ucap Rena