
Satu Minggu sudah berlalu, Hari raya semakin dekat. Cinta tampak menyibukkan diri dengan membuat kue-kue kering sendiri. Levin merasa kasihan sekali melihat mamanya yang seperti sekarang.
Cinta lebih suka lupa kalau sudah di tanya oleh siapa pun. Levin memilih memperhatikannya dari jauh. Begitupun Kliene yang juga memantau kesehatan ibunya secara diam-diam.
"Vin, mama sudah harus istirahat. Kamu ajak mama ke kamar, ya. Biar Ayu sama Queen yang melanjutkan bikin kue." Kata Kliene pada adiknya.
"Iya bang."
"Queen, kak Ayu. Gantiin mama bikin kue, aku ajak mama istirahat." Levin mencari istri dan kakak iparnya yang tengah menyapu di luar.
Queen dan ayu tau, mereka berdua berjalan sedikit jauh dari Levin. Queen selalu menangis setiap melihat mama mertuanya seperti tidak memiliki semangat hidup. Tapi dia juga tidak mau kalau mamanya kelelahan mencari kesibukan diri.
"Mama, wah kuennya enak sekali." Levin hendak memakannya namun segera di tampel tangannya oleh Cinta.
__ADS_1
"Anak ini, masih siang sayang. Papa saja belum pulang kerja. Kamu pasti tidak kuat puasa penuh, ya? Ayo Mama temani tidur siang." Cinta seakan kembali ke masa-masa Levin masih kecil.
Cinta bahkan memperlakukan putra-putrinya seperti anak masih kecil. Ini bukti ibunya sangat menyayanginya di masa lalu. Di temani papanya, mamanya tidak pernah mengeluh melewati masa-masa sulit itu. Terutama pertama kali Queen di serahkan oleh mamanya.
"Iya ma, Levin nggak kuat puasa."
"Ssttt, Ndak boleh bilang begitu. Anak mama kuat, anak mama pintar. Jadi Levin pasti bisa sehari." Cinta membawa Levin ke kamarnya dan menidurkannya.
Melantunkan sholawat, Cinta menina bobokan putra keduanya. Di antara yang lain, kalau masalah puasa. Levin lah yang paling manja di antara yang lainnya.
"Sampai kapan seperti ini?" Kliene merasa ini semua tidak pantas di dapat oleh ibunya. Karena Cinta memberikan kehidupan yang paling layak untuk anak dan menantunya.
"Selama ada kita, mama tidak akan kenapa-kenapa." kata Levin sebelum meninggalkan rumah untuk ke kantor.
__ADS_1
Queen dan Ayu melanjutkan membuat kue. Di tengah-tengah sibuk, Queen tiba-tiba ngomong. "Inget dulu mbak, mau bikin anak dari telur sama tepung. Gara-gara Tante sebelah rumah."
"Itu emang kamunya aja yang dong-dong. Mana ada bikin dedek bayi dari tepung. Yang ada bikin sama bojo, kan enak." Jawab Ayu mengingat kejadian semalam.
"Hooh, tapi ya mana aku tau mbak Ayu. Mbak, kamu nggak punya keinginan nambah lagi satu?" tanya Queen tiba-tiba.
"Uhuk, anak tiga saja sudah bikin emosi jiwa. Apalagi nambah? Kamu saja sana, kamu kan baru satu. Lagian, Levin butuh penerus." Ayu berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Aku sih pengen mbak Ayu, punya anak cowok. Terus bisa jagain kakaknya yang cewek. Tapi Levin masih belum mau nambah katanya." ucap Queen lemes.
"Kenapa?"
"Entahlah, biar saja. Nanti malem aku mau godain Levin. Kali aja jadi." ucap Queen masih sama polosnya seperti yang dulu.
__ADS_1
Queen lupa, anak-anak mereka sudah masuk sekolah dasar. Masih saja membahas masalah dedek bayi. Tapi melihat fisik, mereka berdua memang masih sangat muda sekali. wajar untuk menambah dedek bayi.