
Mobil yang di siapkan untuk tamu akhirnya datang, Revan mengendong Bill yang sudah berkeringat dingin menahan rasa sakit.
“Kita mampir ke rumah sakit dulu. Jangan pulang ke rumahnya bu Billa dulu, nanti abangnya akan murka.” Mendengar penjelasan dari tamu VIP itupun, sopir perusahaan mampir di sebuah klinik yang berjarak tidak terlalu jauh dari rumah bu bosnya.
“Dokter, tolong dia. Katanya perutnya sakit karena maag kambuh,” kata Revan khawatir yang menggendong Billa.
“Billa? Baringkan dia di sini saya akan memeriksanya.” Ucap seorang dokter yang sepertinya mengenal wanitanya itu.
Dokter wanita itu memeriksa Billa yang tertidur menahan sakit sedari tadi. Sesekali wanita centik yang umurnya sudah tidak muda lagi itu memandang ke arah wajah tampan yang kini tengah memperhatikan putri ketiga dari sahabat karibnya.
“Ada hubungan apa kamu dengan wanita ini?” Pertanyaan yang begitu tidak sopan bagi Revan pun hanya membuat Revan memandangnya sekilas tanpa menjawabnya.
Nadia tidak mengijinkan lelaki muda namun tidak sopan padanya untuk membawa Billa pergi dari sana. Nadia menghubungi sahabat sekaligus orang tua dari Salsabilla untuk datang ke klinik yang di bangun oleh Kliene, salah satu putra dari sahabatnya juga.
Bukannya curiga, Revan dan Vano lebih menghawatirkan kondisi wanita yang tadi sempat di kerjainya. Revan membelai pucuk kepala Billa yang tengah tertidur di pangkuannya, sedangkan Vano memegang tangan wanita yang menempuh pendidikan bersama dengannya di negeri orang Asing.
Levin yang baru tiba bersama dengan mama dan papanya pun terlihat sangat khawatir. Levin memaksa untuk masuk lbih dulu ke ruangan inap yang di tempati oleh adik semata wayangnya. Levin mengurungkan niatnya untuk masuk, ketika melihat Revan telah menjaganya bersama Vano.
“Kenapa gak jadi masuk Vin?” Pertanyaan mama Billa juga mamanya itu hanya di jawab dengan senyuman.
“Di tanya orang tua itu jawab, bukan hanya senyum senyum gak jelas kaya gini Vin.” omelan papanya itu membuat Levin berasa jiwa papanya itu lagi tertukar dengan mamanya.
“Sabar papa yang lagi tertukar jiwanya dengan mama. Di dalam sudah ada Vano sama Revan. Mingkin tante Nadia gak tau siapa mereka makanya panik,” jelas Levin menenangkan papanya yang sedang terbakar.
“Maksud kamu apa Levin? Mengatakan jiwa mama sama papa tertukar?”
****** lu Vin, gak bisa ngerem sih punya mulut. Batin levin yang menjawab karena bibir Levin keluh tak mampu lagi mengatakan apapun selain cengiran kuda.
“Sudah - sudah sekarang temuin mantu - mantu mama dulu, baru di bahas di rumah.” Perkataan cinta membuat kedua lelaki yang paling berharga dalam hidupnya itu membelalakkan mata bersamaan.
Dengan santainya Cinta meninggalkan keduanya yang masih terpaku. Rizal menggelengkan kepala pelan, sedangkan Levin hanya tersenyum melihat mamanya yang terlihat seperi remaja yang lagi puber.
Apa ini yang namanya puber kedua? Pertanyaan yang hanya tersampaikan dalam ahati pun harus tetap tertelan . Demi menghargai perasaan mama dan papanya. Levin mengikuti mama dan papanya menghancurkan pemandangan yang sangat mengharukan sekaligus menggelikan.
Yang satu berharap tapi terhalang oleh kesetiaan sang cewek yang saat itu memilih setia pada tunangannya. Sedangkan yang satunya harapan yang terhalang oleh agama, sunggu sangat ironis percintaan dalam hati mereka terhadap wanita yang jela - jelas sama sekali tidak menganggap mereka berdua ada.
Sumpah, Billa sepertinya memang menggunakan susuk. Dari Aris yang gila padanya tak bisa di katakan sebagai lelaki biasa saja. Kemudian Sandi, gunung es yang berubah menjadi gunung merapi juga tak kalah kalau masalah tampang juga body, gak kalah dari sang sepupu. Sekarang malah Revan dan Vano yang merupakan peranakan berkualitas. Satunya Itali satunya Arab.
Billa masih tertidur dengan nyaman di pangkuan Revan saat mamadan papanya masuk kedalam ruangan. Merasa sedikit canggung, Revan menurunkan kepala Billa untuk tidur di atas bantal. Revan sedikit menjauh dari tempat Billa tertidur, begitupun Vano yang memilih mundur teratur ketika pawang singa memasuki ruangan.
__ADS_1
Levin hanya mengamati perubahan kedua orang itu dengan menahan senyuman. Revan memilih meninggalkan ruangan setelah berpamitan untuk kembali ke hotel bersama Vano pastinya.
“Ma, mendingan Billa di bawa pulang saja, biar dia tidur dengan nyaman. Di sini juga keadaannya sangat ramai.” Kata Levin membuat tatapan matanya yang tadinya sendu berubah menjadi mata singa buas tengah kelaparan.
“Bagaimana bisa maag Billa kambuh?” Itu bukan sebuah pertanyaan, tapi itu merupakan sebuah penghakiman Cinta untuk Levin.
Levin yang di gadang - gadang sebagai singa BAGANTA pun, hanya akan menjadi kucing imut yang lucu sedang ketakutan di hadapan macan kumbang seperti mamanya. Menundukkan kepala untuk menghindari tatapan mengintimidasi adalah hal yang paling bagus saat ini. Karena Levin tak memiliki jawaban untk pertanyaan macan kumbang yang tengah kelaparan itu.
“Sudah lah ma, sekarang biar Levin gendong Billa. Kita pulang sekarang.” Rizal menengahi emosi istrinya dengan anaknya.
“kenapa harus Levin sih pa?” levin keberatan dengan apa yang di perintahkan sang ayahanda.
“Mau ngelawan papa? Mau durhaka?” Ancaman Rizal membuat Levin menjadi diam dan hanya bisa menurut.
Dari perjalanan hingga kini sudah di dalam kamar, Billa belum juga mau membuka matanya. Entah sengaja apa memang pengaruh dari obat bius yang di suntikkan pada Billa. Yang jelas sampai sekarang Billa masih setia dengan menutup matanya.
Pagi sudah menyapa keluarga Rizal. Semua berkumpul di ruang makan untuk sarapan, termasuk Billa. Billa sudah baik - baik saja pagi ini, bahkan sudah mampu untuk bercanda dengan ketiga keponakannya.
“Bill, kemarin kenapa bisa maag lu kambuh?” Tanya pak dokter Kliene di sela sarapannya.
“Kemarin, siang mual jadi Billa cuma makan roti dan minum susu kotak kecil dan itupun sudah jam tiga sore. Setelah itu pas bangunin Revan sama Vano malah ketiduran sampek jam sembilan malem. Perih awalnnya, tapi lama - lama terasa sangat menusuk. Sampai akhirnya gak kuat nahan.” Cerita Billa secara detail.
“Kamu itu jadi Abang mbok ya ngasi petuah yang berguna bagi nusa dan bangsa kenapa bang!” Cibir Billa yang gak terima abangnya nyiyir seperti emak - emak komplek.
“Anjir, gua kira mama yang ngomong gitu,” ucap Kliene yang kaget adiknya mengikuti logat mamanya.
“Apa bedanya bang? Yang jelas Abang itu ngajarin adeknya gak bener. Besok Billa mau aduin ke kak Seto.” Geruu Billa dengan memanyunkan bibirnya.
“Lu kira, elu itu masih bayi? Lapornya ke kak seto?” Kliene membalas ancaman Billa.
“Ya sudah kalau gitu Billa laporin abang ke mentri Susi biar di tenggelamkan!” Billa masih tak terima dengan abangnya.
“Billa pikir, abang itu kapal pencuri ikan, ditenggelamkan???” Kliene menjawab dengan menggeleng - gelengkan kepalanya keheranan dengan pemikiran adik perempuannya yang satu ini.
“Sudah - sudah, kalau kalian masih tetap berantem kaya gini. Papa dengan terpaksa telfon Kim Jong Un buat kirim nuklir ke sini.” Rizal mencoba menengahi pertengkaran abang dan adik itu malah gagal total.
“Mending papa telfon Kim Namjoon aja pa, dari pada menciptakan huru hara kan mending kita hura - hura bareng oppa - oppa ganteng. I purple U.” Kata Billa semangat.
“Issss gak kelar kelar dia nyari kakek - kakek, Mending abang kemana - mana Bill.” Jawab Kliene sewot.
__ADS_1
“Mama, dulu ngidam apaan sih waktu hamil si kembar itu? Kenapa tingkat PDnya itu melebihi batas sih?” Tanya Billa dengan sedikit dengusan karena jengkel Biasnya di bilang kakek - kakek.
“Kenyataan Billa, Abang itu salah satu pria tampan yang enggan untuk terkenal. Takut kalau harus membuat Mbak Ayu cemburu, hilang deh rejeki abang.”Kliene menjawab dengan melirik istrinya yang tengah tersipu malu.
“Huuuuueeeeeeeeekkkkkk….”
“Billa!!! yang lain pada sarapan kok gak sopan sih?” Cinta membentak Billa dengan menggebrak meja.
“Maaf ma,” Billa menundukkan kepala karena takut pada amarah orang tuanya.
Amarah mamanya adalah hal yang paling di hindari, terutama setelah kejadian saat itu. Billa melirik semua yang telah kembali memandang makanannya.
“Ma, mulai nanti malam jangan masak berlebih lagi. Juga jangan menunggui Billa pulang,”ucap Billa membuat Cinta menghentikan makannya, hal yang sama juga di lakukan oleh Rizal.
“Mau kemana kamu? Kamu marah sama Mama? Maafin mama, mama gak bermaksud memarahi kamu tadi sayang.” Cinta memeluk Billa merasa bersalah karena membentak Billa barusan.
“Enggak ma, Billa gak marah sama mama ataupun yang lain. Hanya saja, Billa akan tinggal di kantor bersama Revan dan Vano,” ucaoan Billa tidah di setujui oleh anggota yang lain, terutama Cinta.
“Gak ada kamu tinggal dengan mereka berdua. Lagian kantor itu gak ada tempat tidur. Dan hotel bukanlah pilihan yang tepat untuk seorang Janda seperti kamu.” Penolakan yang Cinta lontarkan seraya mengingatkan status yang di sandang Billa saat ini.
“Ma, Billa harus bekerja di kantor baru yang ada di Kepulauan Seribu, untuk proyek yang baru mulai operasi minggu depan. Kemungkinan bulan depan juga akan ke Raja Ampat, untuk mengurusi kerjaan yang mendapat kantor di sana. Paling tidak setahunan di sana.” Billa memberikan rencana kerjanya pada orang tuanya.
“Apa gak bisa kamu bekerja di rumah, maksudnya di hotel saja. Proyeknya biar di kerjain Levin, kamu itu perempuan nak.” Cinta membelai sayang rambut Billa.
“Maaf ma, Billa lah yang meminta Revan untuk bergabung dan memberi dana full untuk hotel yang akan GO di deket pelabuhan.” Jelas Billa namun masih mendapat penolakan dari pihak orang tuanya.
“Salsabilla, dengerin papa nak sayang. Sekarang sudah bukan waktunya berdebat. Mama sama papa mau yang terbaik untuk kamu nak. Kalau kamu tinggal serumah dengan lelaki yang bukan muhrim, kamu gak malu kalau di omongin tetangga?” Rizal menjelaskan pandangan masyarakat terhada Janda, terlebih janda itu masih baru sekali di tinggal oleh suaminya.
Ibarat kue apem, itu baru keluar dari kukusan. Masih anget akan gosip.
“Billa adeknye abang, dengerin abang dek. Adek sekarang tinggal di Indonesia dek, bukan di Jerman yang semua orang itu masa bodo dengan apa yang elu lakuin dek. Tapi ini Negara peles enam dua yang di penuhi dengan mulut - mulut nyinyir dan prasangka buruk.” Kliene mencoba memberi pegertian pada adik perempuannya.
“Sekarang terserah sama kalian sudah apa maunya. Billa nyerah, silahkan kalian untuk melakukan aktifitas kalian masing - masing.” Billa membuka blazet yang di kenakan lalu berjalan ke dalam.
“Billa mau kemana?” Tanya Rizal dengan penuh kasih sayang namun sebenarnya hatinya khawatir.
“Billa mau tidur. Billa capek.” Billa menutup pintu kamarnya perlahan.
Melempar tas kesegala arah membukan bajudan menghapus make up tipisnya lalu mengganti baju dengan daster rumahan miliknya. Billa kembali merebahkan diri di tempat tidur nyamannya setelah mengunci pintu kamarnya. Rasa kecewa yang di rasakan Billa, jauh lebih berat jika di bandingkan dengan bekerja 24jam nonstop.
__ADS_1