
Hari kedua penentuan 3 besar pun sudah di tunggu oleh Queen dan teman temannya. Queen dan teman temannya sudah berada di kampus tempat di adakan festival dengan Levin di belakang Queen selayaknya bodyguard. Saat Queen asik berbincang dan Levin pamit untuk ke cafe karena akan bertemu clien. Devan menghampiri Queen dan teman temannya. Dengan cepat Devan mampu membaur dengan teman teman Queen.
Bukan maksud Queen menyembunyikan statusnya. Tapi dia tidak pernah membahas tentang statusnya. Ngapain mengumbar toh seharusnya orang lain tau gue udah nikah dengan melihat gue pakai cincin pernikahan ini. itulah ucapan Queen semalam ketika di tanya mendetail oleh Sonia.
"Kalian keren tadi, sumpah." Ucap Devan setelah Queen dan teman teman yg lain tampil.
"Thanks ya, tapi di sini mana sih kantinnya? sumpah laper banget gue, tadi cuma sarapan dikit doang." Kata Queen yg memang tak tahan lapar itu.
"Ada di sebelah sana, ayo gue anterin." Kata Devan sambil menunjuk ke salah satu arah.
"Ada yg mau ngikut?" Tanya Queen pada teman temannya yg terlihat kelelahan.
"Gue, nyari minum doangan tapinya." Kata Ruli ikut berjalan di belakang Queen dan Devan yg terlihat sedang bercanda canda.
Setelah sampai di kantin yg terjajar pedagang pedagang menjajakan dagangannya menggunakan gerobak. Queen tertarik dengan gerobak yg tak jauh dari pandangannya. Pisang rebus, itulah tujuan pertama saat melihat makanan kesukaannya itu juga tersedia di sana. Ruli melihat Queen yg makan sambil berdiri itu pun langsung menghampirinya.
__ADS_1
"Duduk kali neng kalo makan. Sunah Rasul itu kalo Lo lupa." Kata Ruli saat sudah mendekati Queen.
"Sorry bang kalap gue, Lagian juga gue kira malem Jum'at doang Sunah rosul." Kata Queen sambil mengambil nampan yg berisi pisang rebus dan membawanya ke meja tak jauh darinya.
"Otak Lo Queen, kenapa ke ************ sih. Heran gue, gini bisa gitu naklukin gunung Erebus." Kata Ruli yg hanya di simak oleh Devan dengan tersenyum kecil.
"Bang, gue kasih tau ya, biar entu gunung tertinggi di Antartika kaya yg Lo bilang tadi. percaya sama gue bang, kalo sudah erupsi. Sumpah laharnya panas banget. Gak Bakan kuat Abang, biar cuma liat doang mah. Apalagi gue yg ngerasain, klepek klepek bang." Kata Queen yg mendapat pukulan pelan di kepala.
"Ada ada aja Lo mah. Udah ah, gue duluan ya kesian anak anak." Kata Ruli setelah membayar minumannya.
"Ini gue lagi makan." Jawab Queen yg kembali membuka kulit pisang yg entah sudah keberapa biji.
"Gak makan nasi?" Tanya Devan lagi.
"Kalo gue sudah makan pisang rebus ini bisa semua gue habisin. jadi gak perlu makan nasi lagi." Kata Queen dengan terus menyingkirkan helaian rambut yg mengganggunya makan pisang.
__ADS_1
"Mau di bantu mengikat rambutnya?" Tanya Devan setelah menemukan karet kecil di meja dan menunjukkan pada Queen.
"Boleh juga." Kata Queen santai. Queen memang tak pernah mempunyai fikiran negatif ke orang pun santai dan kembali memakan pisang rebus. Entah gak punya fikiran negatif entah gak peka gak tau dah. Devan mengikat rambut Queen dan terkejut melihat leher mulus belakang Queen terdapat tanda kepemilikan.
Ehem.
Devan berdehem menetralkan rasa terkejutnya. Devan kembali menatap Queen tak percaya bahwa gadis di depannya bisa di pakek. Devan tak pernah berfikir bahwa Queen sudah menikah. Ya karena seingatnya, Queen tak pernah mengatakan dia punya pacar apalagi suami.
"Pulang dari sini lo mau kemana? Kayanya kelarnya gak terlalu sore." Tanya Devan yg mulai memiliki rasa ingin mendekati Queen lebih dekat lagi.
"Paling balik ke Villa, kenapa emangnya?" Tanya Queen santai dan mengumpulkan kulit pisang rebusnya karena sudah habis.
"Maunya gue ajak jalan-jalan." Kata Devan lagi.
"Boleh, tapi kayanya anak anak yg lain gak bisa ikut. Katanya mau istirahat cepet." Kata Queen sambil membayar pisang rebusnya.
__ADS_1
Itu yg ku mau, batin Devan yg berjalan di samping Queen.