
Semalaman Billa diam merenungi kataa kata mamanya. Mamanya tidak menolak, hanya takut apa yang di rasakan dulu juga akan di rasakan oleh Billa. Terlebih lagi sang laki laki itu selain Billa tidak tahu namanya juga sudah bisa di pastikan laki laki itu belum berpenghasilan. Billa duduk termenung di meja belajarnya. Billa merebahkan diri d atas kasur gaya princess bernuansa biru dekorasi dari mamanya.
Perlahan dan pasti Billa memejamkan mata dan terlelap hingga pagi menjelang. Billa bangun pagi dengan rutinitas seperti biasa dan semangat yang seperti biasa pula. Billa bersiap untuk berangkat sekolah bareng dengan abang abangnya. Kalau gak sama Kliene ya sam Levin, tapi Billa lebih sering bareng dengan Levin karena abangnya itu selalu mampir ke cafe dekat sekolahan Billa.
"Bang Levin, Billa suka sama cowok. Tapi mama gak ngijinin." Billa menunduk menunggu reaksi dari sang abang.
"Kenapa gak ngijinin? lu kan udah gede" Kata Levin yang sepemikiran dengan papanya.
"Mama bilang Billa masih kecil belum bisa kerja bang." Kata Billa menjelaskan pemikiran sang mama.
"Itu doang alasannya? Sekarang gini aja, lu mau tinggak di apartement abang? abang ngasih lu bulanan dan lu belajar kerja. Sekarang abang tanya, kerjaan apa yang lu demenin? Coba lu kembangin." Levin memarkirkan mobilnya tepat di parkiran cafe depan sekolahan Billa.
"Billa gak bisa apa apa bang." Kata Billa dengan suara pelan yang masih anteng di jok mobil sang abang.
"Minat kamu di apa?" Tanya Levin lagi.
"Billa juga masih belum bisa nentuin bang, Billa gak tau dunia kerja itu gimana." Kata Billa lagi.
"Ya sudah kamu sekolah dulu, nanti pulang sekolah abang jemput. Nanti abang kenalin kamu dengan dunia bisnis perkantoran selama seminggu kamu akan mengenal dunia kerja perkantoran. Dan seminggu lagi kamu abang kenalkan dengan dunia kerja Cafe. Sama sama kerja, kedua kerjaan ini memiliki konsep yang berbeda dan cara kerja yang berbeda." Kata Levin yang di angguki oleh sang adik.
"Billa pamit ya bang." Billa mencium tangan Levin sebelum keluar mobil.
__ADS_1
"Ati ati sayang." Kata Levin melambaikan tangan pada Billa.
Billa memasuki kelas dengan wajh yang penuh semangat seperti biasa. Wajah penuh dengan daya tarik dari lawan jenis namun hanya suka PHP. Billa mendekati Aris, ketua kelas yang termasuk dalam jajaran cowok terkeren di sekolahannya. Aris selalu salah tingkah ketika gadis dengan rambut gelombang di kuncir kuda itu mendekat. Kulit paling putih di antara sodara sodaranya, tak membuat Billa lebih bersinar dari Aris yang memiliki kulit putih terawat bak model.
"Ris, lu bawa sarapan gak? Laper gue." Kata Billa mendaratkan dagunya di lengan Aris yang tengah menulis.
"Lu mau sarapan apaan sih? kalo lu gak bilang mana tau gue, lu minta sarapan ke gue." Kata Aris Santai sebisa mungkin agar tidak terlihat jika sedang salah tingkah.
"Ris, gue laper Ris gimana dong." Kara Billa lagi bermanja pada Aris.
"Lu mau makan? Ni gue bawa sandwich buatan mami." Tiba tiba Sandi seorang cowok yang tak kalah ganteng dan keren dari Aris menyodorkan Kotak berisi roti dengan tumpukan sayuran dan daging ke arah Billa dengan gaya cueknya.
"Aduh Sandi baik banget, makasih ya Sandi. Muach." Kata Billa mencium Sandi di udara.
"Ngapa gak lu keluarin dari tadi?" Kata Billa jutek tapi juga mengambil kotak nasi milik Aris.
"Dari pada ngomel kan mending lu bilang makasih." Aris menabok pelan lengan Billa yang tengah memakan nasi goreng milik Aris dari pada makan roti milik Sandi.
"Makasih Aris ganteng yayangnya Billa yang ke dua puluh." Kata Billa santai tanpa melihat ke arah sang pemilik nasi yang tengah di makannya.
Aris tersenyum melihat Billa memakan nasi gorengnya dengan lahap. Billa memasukkan ke dalam tas kotak milik Sandi. Billa melahap habis nasi goreng milik Aris hingga tak bersisa, padahal di rumah tadi dia sudah sarapan nasi sayur bening dengan lauk sambel dan tempe goreng.
__ADS_1
"Alhamdulillah kenyang juga perut gue. Besok gue balikin ya." Billa hendak memasukkan kotak nasi kedalam tas namun di cegah oleh Aris.
"Kalo di balikin besok dan lu nagih jatah sarapan sama gue? Apa yang gue kasi ke elu Markonah?" Aris menggambil kotak nasi dari tangan Billa.
"Oh iya, nih tapi sorry sorry to say kagak gue cuci. Lo tau sendiri tangan gue cuma terbiasa megang pensil sama polpen doang. Jadi gak terbiasa pegang sabun cuci." Kata Billa mengambil botol minum milik Aris di depannya.
"Iye gue paham." kata Aris memasukkan kotak nasi ke dalam tas kresek.
"Bill itu minuman udah gue minum." Kata Aris yang melihat ke arah Billa tanpa merebutnya.
"Iya gue tau, lu masalah minum bekas gue?" Tanya Billa menutup botol minuman itu dan meletakkan kembali di tempat semula.
"Lu tau enggak, dengan lu minum bekas gue secara gak langsung kita itu ciuman." Kata Aris yang masih melihat ke arah Billa yang nampak kaget.
"Anjirr ciuman pertama gue berarti di ambil botol dong?" Kata Billa memegang bibirnya.
"Gue gak bilang ya Bill, makanya jangan ceroboh lain kali." Aris masih dengan gaya tenangnya menasehati Billa.
"Yah, mending ciuman langsung kalo gini mah." Kata Billa langsung di tanggapi secara reflek oleh Aris
"Ya ayok kalo lu mau." Kata Aris yang tiba tiba mendekat ke arah Billa.
__ADS_1
"Eh eh nanti aja deh kalo inget ya." Billa bangkit dari tempat duduknya dengan memainkan matanya.
"PHP doang lu Billa!!!" Teriak Aris.