Sahabat?

Sahabat?
Bab 14


__ADS_3

Jam 7 mama Rizal ke rumah membawa baju kebaya untuk Cinta. Baju kebaya yg di berikan oleh Rizal semalam.


Flashback On


Setelah pulang dari rumah Cinta, Rizal mengajak mamanya kekamar. Rizal membuka koper besar yg di sembunyikan Rizal di dalam lemari di bawah tumpukan baju.


"Koper apa ini Zal?" Tanya mama Rizal.


"Ini perlengkapan untuk Cinta ma." Riza mengambil kebaya putih dan kain batik untuk bawahan.


Rizal mengeluarkan semua yg ada di dalam koper. Dari kebayak setelan jas senada dengan kebayaknya. Alat alat sholat lengkap dengan tasbih nya, untuk Alqur'an Rizal pisah di tempat biasanya menaruh alqur'an. Cincin kawin juga 1 set perhiasan sandal juga sepatu semua telah di persiapkan untuk menikah dengan Cinta.


"Dapat uang dari mana kamu beli semua ini Zal, dan kapan kamu membeli ini?" Tanya mama Rizal yg tak percaya dengan apa yg di lihatnya.


"Kalo baju sama Cincin baru dua hari yg lalu jadi. Rizal sama Cinta udh seminggu yg lalu pesennya. Untuk baju kebaya sama stelan jasnya hari minggu kemarin sekalian sama sepatu dan sandalnya. kalo kaya alat sholat Rizal sendiri yg beli Jadi Cinta belum tau. Juga perhiasan in Rizal yg pilih sendiri tanpa Cinta."

__ADS_1


"Zal mama sama papa gak pernah kasih kamu uang untuk beli semua ini, terus dari mana uangnya?" Mama Rizal masih menanyakan hal yg sama.


"Jujur Rizal punya usaha kecil kecilan ma di kota. Uangnya untuk membeli ini semua adalah hasil dari pendapatan bersih di sana." Terang Rizal.


"Papa... abang.... papa... abang..." Mama Rizal memanggil manggi suami dan anak pertamanya.


"Ada apa ma?" Tanya papa Rizal yg desikit berlari mencari asal suara yg di ikuti oleh putra sulungnya.


"Lihat apa yg sudah di lakukan anak ini di belakan kita." Mama Rizal sambil menunjukkan semua barang yg ada di dalam koper besar itu.


Flashback off


"Cinta, ini kebayak dari Rizal." Mama Rizal tersenyum pada Cinta.


"Sesempet itu Rizal membeli kebaya bagus seperti ini untuk acara dadakan seperti ini." Ucap mama Erna.

__ADS_1


"Acara nikahannya emang dadakan jeng tapi pilih pilih perlengkapannya sudah mereka berdua siapkan untuk kawin lari nantinya." Mendengar ucapan dari mama Rizal. Papa Cinta tiba tiba tersedak kopi yg masih panas membara.


"Benar itu Cinta?" Tanya papa Cinta yg hanya mendapat anggukan kecil dari sang putri.


Detik demi detik menit demi menit semakin mengikis waktu hingha angka 10. Cinta semakin tak tenang setelah mendapat kabar bahwa keluarga Rizal yg terdiri papa mama juga abangnya beserta tetangga 4 orang laki laki dan perempuan sebagai saksi nikah. Cinta mondar mandir seperti setrikaan yg sedang menggosok pakaian lusuh.


Saat Rizal terdengar tengah mengucapkan janji sucinya di hadapan pak penghulu. Detak jantung Cinta semakin berdegub kencang. Setelah mendengar kata sah Cinta baru menuruni anak tangga yg tadinya menunggu di dalam kamarnya bersama sang mama juga kakaknya Maemunah.


Setelah Cinta duduk di samping Rizal, pak penghulu menggoda Cinta yg merupakan guru ngaji Cinta dan Rizal waktu kecil. " Nak Cinta, bener laki laki ini yg kamu nikahi?"


"Kok Cinta yg nikahi? Bukannya Rizal yg nikahin Cinta?" Pernyataan itu sontak membuat tamu undangan juga keluarga tertawa lepas.


"hahaha Nak Cinta, itu sama saja. Pada dasarnya menyatuka dua yg terpisah. Menghalalkan yg haram untuk di sentuh di jamah bahkan di lihat. Kira kira sudah di sentuh, di jamah ato di lihat sama Rizal?" Pertanyaan menggoda dari pak penghulu membuat Cinta bingung karena tak tau maksdunya.


"Belum semuanya lah pak ustad, kalo liat matanya sih sudah kalo yg lain ya belum lah." Jawab Rizal yg tau maksud dari pak penghulu sekaligus guru ngajinya itu

__ADS_1


"Wah beneran anak muda bertanggung jawab. Bapak kira dulu kalian akan berubah setelah besar. Tapi tetep saja gak bisa di pisahin." Kata pak Penghulu sebelum membacakan doa untuk sang mempelai.


__ADS_2