Sahabat?

Sahabat?
Season 2 Nikahi Aku


__ADS_3

Ketika semua sedang bekerja dengan serius, tiba - tiba Billa keluar kamar dengan terburu - buru. Revan yang menyadari itu langsung menghubungi Mario. Anak buah Mrio mengikuti Billa atas permintaan Revan.


Billa menemui Frizka tak jauh dari tempatnya tinggal sekarang. Billa merasa heran, dari mana dia tau di mana dirinya sekarang tinggal. Tanpa Billa ketahui, Frizka menyuruh seseorang untuk mengawasi gerak gerik dari seorang Billa.


Billa masih sangat emosi jika melihat wajah innocen Frizka. Begitu kejam otak yang ada di dalam kepala wanita cantik tinggi semampai layaknya model di depan Billa. Dengan memberi ruang bagi jin iprit untuk membangun pertahann di sana dengan menumbuhkan banyaknya ide jahat dalam otak itu.


“Lu mau nyerah atau mau melihat BIRMA hancur?” Ancaaman yang terlontar dengan senyuman itu membuat Billa sedikit ragu.


“Menyerah untuk apa?” Pertanyaan yang membuat Billa seperti orang bodoh di hadapan seorang Frizka.


Frizka menunjukkan sebuah Vidio dalam gawai yang di bawanya. Dalam Vidio itu terlihat seoarang laki - laki tua yang tengah meronta memanggil nama sang cucu kesayangan sebelum menggigil meminta maaf kepada almarhum kedua cucunya yang tengah meninggal secara tragis.


Lelaki tua yang terlihat bergetar hebat dan terus memohon kepada Frizka untuk memberikan sesuatu. Billa tak habis fikir akan permainan Frizka yang terlihat sangat berani bermain - main dengan orang setua Mbah Kung.


“Tua bangka ini akan mati mengenaskan jika tidak mendapatkan obat dariku. Dan asal lu tau, dia tidak memenjarakanku itu karena ini.” Senyuman sadis milik Frizka hanya di tanggapi dengan gelengan kepala.


“Lu mau apa?” Tanya Billa sarkas.


“Santai sayang. Lu sudah membuat Sandi dan Aris bertukar nyawa dengan alasan Cinta. Sekarang, gua mau lu bertukar obat Mbah Kung dengan Revan. Gua mau dia kembali menjadi suamiku.” Frizka menunjukkan seringainya.


“Ok, gua akan membujuk Revan untuk menikahi lu lagi. Dengan alasan yang sebenarnya.”


Billa kembali ke kantor langsung di sambut oleh Revan dan Vano. Billa langsung terduduk lemas di teras. Billa memikirkan semuanya sendiri di jalan menuju Villa.


Levin dan Rizal datang tak lama setelah Billa masuk ke dalam Villa. Rizal dan Levin mendapat kabar dari Billa tentang Mbah kung dalam keadaan sakau dan hampir kehilangan nyawa.


.


“Apa yang di minta Frizka sebagai tukaran Mbah Kungnya?” Tanya Levin setelah mendengar cerita dari Billa.


“Revan” jawaban singkat Billa membuat semua orang yang ada di Villa terkejut, termasuk karyawan yang lain.


“Gilla, apa dia tidak kapok menikah dengmu Boss?” Vano merasa ini sangat tidak bisa di terima oleh nalar.


“Ok” Jawaban Revan dengan memandang kearah Billa yang menatabnya dengan tatapan memohon.


Billa langsung memejamkan mata antara kecewa dan berterima kasih. Tak banyak yang bisa di lakukan Billa saat ini selain menyetujui permintaan Frizka.


Malam ini Billa ikut pulang ke rumah Rizal. Billa terlihat seperti orang yang hilang semangat hidup. Tatapan kosong dan sedikit penyesalan yang terlihat di wajahnya.


Cinta merasa kasian dengan masalah yang menimpa gadis kecilnya. Setelah kehilangan suaminya, dia malah harus merelakan kasusnya di tutup untuk mempertahankan ketiga perusahaan.  Ancaman Frizka sebenarnya tak begitu di dengarkan atau di hiraukan oleh seorang Billa, Hanya memikirkan nyawa Lelaki tua itu Billa menjadi goyah.

__ADS_1


***


Seminggu sudah Billa seperti ini. Hidup segan mati pun tak mau. Mungkin itulah pribahasa yang tepan untuk Billa. Keadaan yang sudah seperti mayat hidup itu membuat Cinta dan Rizal merasa takut, sedangkan kantor yang baru masih tetap beroprasi dalam kendali Revan demi mengunci saham BIRMA di perusahaan CORP.


Memang benar Revan menerima pernikahannya kembali bersama Frizka tiga hari lalu. Tapi selama itu, Revan tidak menemui Frizka setelah pernikahan. Mbah Joko sekarang juga sudah di jauhkan dari Frizka. Lebih tepatnya Mbah Joko sedang menjalani rehabilitasi yang di temani oleh putra putrinya.


Semua itu di lakukan Revan, Vano dan Yuga tanpa sepengetahuan Billa. Billa menjadi seperti Boneka yang hanya hidup jika di gerakkan. Billa seperti mayat hidup, pikirannya tertuju pada banyak hal. Billa terus berfikir jika semua ini bermula karena dendamnya.


Revan selalu mengunjungi Billa, melihatnya dari kejauhan. Levin ikut menyelesaikan apa yang adiknya mulai. Levin dan Revan ingin membuat senyum Billa kembali seperti sebelumnya.


“Sampai kapan kamu akan terus seperti ini? Memperhatikan dari jauh? Billa butuh kamu dan Vano terus berada di sisinya” ucapan Levin ada benarnya juga.


Dari pada seperti ini tak akan membuahkan hasil. Yang ada akan terus menyakiti Billa yang merasa tidak diperhatikan. Setelah menimbang - nimbang saran daripada Levin, Revan keluar dari mobil lalu berjalan ke arah wanita yang tengah duduk di bangku taman.


Billa melihat Revan mendekatinya, Billa berlari ke arah Revan lalu memeluknya. Rasa kangen ingin menumpahkan namun kembali dia teringat akan statusnya. Billa langsung melepaskan pelukannya.


“Kenapa?” Pertanyaan Revan yang hanya mendapat jawaban senyum dari wanita yang kini terlihat lebih rapuh daripada saat kehilangan suaminya.


“Kita kembali ke Villa ya, di sana lebih rame dan kamu bisa bermain dengan Reyhan. Kamu lah Bossnya sekarang.” Mendengar kata itu membuat Billa sedikit ada harapan yang di tunjukkan dengan senyuman yang melebihi tiga jari.


Billa ikut dengan Revan dan di kawal oleh Levin di belakang bersama dengan istri dan mamanya.


Sebelum ke Villa, Revan membelikan beberapa kantung plastik makanan kesukaan Billa. Levin yang memperhatikan Revan dari kejauhan hanya tersenyum, sedangkan Cinta dan Queen tak henti - hentinya untuk terus menggibah kedua orang yang ada di mobil depan mereka.


Cinta melihat betapa bahagianya Billa berada di tengah - tengah keluarganya yang baru. Bukannya tak bahagia hidup dengan Cinta dan Rizal terutama dengan ketiga keponakan gantengnya. Tapi Billa lebih nyaman di sini karena Billa terbiasa untuk bekerja.


“Billa, kami rindu denganmu.” Kata pertama yang di lontarkan oleh Yuga membuatnya merasa hidup kembali.


“Aku menciptakan banyak masalah untuk kalian semua, Ini semua terjadi karena keegoisanku.” Belum selesai Billa bicara, Vano langsung memeluk Billa.


“Kita itu satu team, gak ada yang namanya egois. Kita memiliki tujuan yang sama di sini, Menyingkirkan Frizka selama - lamanya.” Vano membisikkan kata itu dengan keteguhan hati mencoba membangun kembali asa yang telah putus.


“Bill, ada yang mau saya katakan. Tapi kita lebih baik ke kamar.” Revan menggandeng Billa dan juga Vano.


Mereka bertiga kini duduk di sofa yang ada di kamar Revan. Billa merasa ada sesuatu yang besar tengah terjadi. Apa itu dan seperti apa dampaknya. Itulah kata yang tersimpan di kepala Billa.


“Billa, Vano. Saya sudah kembali menikahi Frizka secara siri dan sudah mengambil Mbah Kung dari rumahnya. Sekarang Mbah Kung ada di rehab Bandung bersama putra putrinya. Levin tau, dia yang menyaksikan aku menikahi Frizka.” Vano hanya diam saja karena sudah tau dengan keputusan yang di ambil oleh Revan.


Billa seakan tak terima malah menangis sejadinya. Billa merasa sangat lemah saat ini. Berasa tak memiliki tulang lagi, Bila duduk lemas di samping Vano. Entah apa yang membuat Billa seperti tak rela jika ada orang yang kembali mengorbankan diri demi dirinya.


“Kenapa gak mau tanya sama gua? Apa pendapat gua udah gak guna lagi buat lu?” Billa mengangguk - anggukkan kepalanya kecewa.

__ADS_1


“Bukan begitu Billa, saya tidak mau melihat kamu seperti ini terus. Aku mau kamu kembali ceria seperti dulu. Bergairah untuk bekerja, bukan kaya mayat hidup seperti ini.” Revan seakan kehabisan kata - kata lagi menghadapi kekerasan kepala Billa.


“Nikahi aku.” Kata yang membuat Revan dan Vano tersentak.


“Nikahi aku secara SAH. Jadikan aku istri utamamu.” kembali Billa mengulang permintaan yang membuat Revan dan Vano kembali kesadaranya.


“Bill, Berkas semua ada di Jerman. Itu sangat mustahil kalau dalam waktu dekat kita menikah SAH, Beda jika kita menikah di Jerman. Itu bisa di urus dalam waktu kurang dari seminggu.” Revan sedikit tak percaya dengan permintaan Blla yang terkesan terburu - buru.


“Ok, kita sekarang ke Jerman.” Billa meninggalkan Kamar membiarkan Revan dan Vano melongo tak percaya.


“Van, kamu tau apa yang di pikirkan Billa?” Tanya Revan masih memandang pintu yang sudah tertutup kembali setelah wanita yang mengajaknya menikah itu pergi.


“Apa bapak memiliki pemikiran yang sama dengan saya?” Bukannya menjawab Vano malah menanyakan apa yang ada di otaknya.


“Mungkin, jika kamu memikirkan dia mengalahkan Frizka dengan mengikatku dengan statusnya yang sah.” Jawab Revan dengan PDnya.


“Seratus untuk anda pak. Dan bisa di pastikan kalau Frizka gak akan pernah mendapat giliran dari bapak,” ucapan Vano membuat Revan membelalakkan mata kearahnya.


“Bisa begitu ya Van?” Tanya Revan berasa seperti anak kecil yang tak tau apa - apa.


“Bisa dong, secara Billa yang memiliki hak mutlak atas bapak. Kan dia yang sah di mata hukum dan agama. Sedangkan Frizka meski dia yang pertama, tapi dis tidak punya hak mutlak atas bapak. Karena Frizka gak punya surat - surat yang sah.” Vano jadi tersenyum sendiri memikirkan kembali ucapannya.


“Gilla pak ya, kaya pernah nikah aja saya hahahah. Padahal baru tunangan udah gagal, di tendang saya pak.” cengiran Vano di tanggapi dengan keplakan di kepala dari Revan.


“Curhat kamu?” Revan meninggalkan Vano yang tersenyum geli.


“Carikan saya ngapa pak, yang sama kaya saya. Biar gak ribet.” Vano berlari menyusul Reva dan Billa ke kantor yang berada di lantai dua.


 


 


IKLAN


pembaca: jahatnya lu thoooorrrr..... panten kemaren lu minta maaf. tau gini gak bakal gua maafin lu thooooorrrrr


penulis: apa salah gua sih?


pembaca: gua sumpahin lu begok beneran lu thoooorrr. Ngapa lu bikin frizka nikah lagi sama Revaaaaannnn????


penulis: lah, yang nikah mereka ini. ngapa gua yang di salahin sih?

__ADS_1


pembaca: pan elu yang bikin ceritanye Isaaaaaaahhhhh Aisyaaaahhhh Masya Allah dah ah ini. udah mendekati bulan puasa, lu malah bikin emosi gua gak stabil. Dosa lu Isaaaahhhhh.


Penulis: Ya Tuhan, maap ye. jangankan elu, gua yang nulis juga berasa naek turun emosinye. hmmm sebar poin dan entar ya sepuluh biji aje hahahaha


__ADS_2