
Ke esokan pagi Rizal kebangun jam 3 subuh. Rizal mengambil handuk lalu berjalan ke kamar mandi dan membersihkan diri. Rizal mengambil catatan yg ia sembunyikan di bawah tumpukan handuk. Catatan dari sang papa. Doa untuk mandi besar atau yg biasa di sebut junub. Setelah Rizal membaca doa tersebut barulah Rizal mengambil air wudhu sebelum mandi besar.
Selesai Mandi Rizal membangunkan Cinta untuk membersihkan diri. Rizal mengambil catatan lalu memberikan pada Cinta. Rizal sholat malam sebelum sholat subuh sejam lagi.
"Zal." Panggil Cinta di tengah pintu kamar mandi.
"Kenapa?" Tanya Rizal melepas sarung dan kopyahnya.
"Perih pakek jalan." kata Cinta membuat Rizal takut.
"Apanya yg perih?" Tanya Rizal gugup.
"Telfonin mama Zal. gue takut." Kini Cinta malah nangis.
Rizal menggendong Cinta ke ranjang. Saat membuka selimut yg ingin menidurkan Cinta. Rizal melihat bercak darah di sepreinya. Rizal langsung mengganti sepreinya dengan yg baru.
Rizal menempelkan punggung tanganya di kening Cinta. Rizal makin hawatir ketikan ia merasakan panas di kening Cinta.
"Cin ganti baju dulu ya gue bantuin. Entar gue suruh mama kesini dah biar jagain lo pas gue tinggal sekolah." Kata Rizal mengambil baju Cinta di lemarinya.
"Mama Erna aja Zal jangan mama Inggrit. Malu gue kalo harus nyuruh mama inggrit." Kata Cinyta yg di angguki oleh Rizal.
__ADS_1
"Udah lo tidur lagi sekarang masih tengah malem. Gue jagain lo di sini." Setelah mengganti baju Cinta. Rizal ke dapur mengambil es untuk mengompres Cinta.
"Rizal kenapa pagi pagi kesini?" Tanya mama Erna
"Ma, Rizal mau minta tolong temenin Cinta. Badannya panas ma, Rizal gak tega ninggalin Cinta sendirian." Terang Rizal.
Mama Erna ke rumah Cinta sebelum Rizal berangkat sekolah. Rizal mencium Cinta ketika mama Erna keluar kamar. Rizal berangkat sekolah dan Cinta sarapan di suapin mamanya.
"Kamu masuk angin? Sini mama kerokin biar cepet sembuh." Kata mama Cinta ketika mendengar putrinya bersendawa sedikit bersuara.
"Enggak ma, Cinta gerah pengen mandi."
"Jangan sayang, mama lap aja ya biar gak makin panas nanti mama di salahin sama Rizal." Cinta hanya mengangguk.
"Sayang itu sepreinya kenapa di tumpuk di bawah wastafel?" Tanya mama Cinta dengan membawa baskom berisi air.
"Oh gak tau Rizal ma, katanya dia yg mau nyuci sendiri. Kena darah katanya tapi aku gak mens. Mungkin Rizal kena pisau cukur makanya ada darahnya." Jelas Cinta yg membuat mamanya mengerti namun tak di mengerti oleh Cinta.
"emmm apa itu kamu perih atau sakit?" Tanya mama Cinta ragu ragu.
"Kok mama tau? Kan Cinta gak bilang apa apa. kata Rizal, Cinta gak di kasi bilang ke mama. Nanti mama sama papa marahin Rizal. Kasian Rizalnya ma, jangan di marahin ya. Jangan bilang papa juga." Cinta mulai berkaca kaca ketakutan.
__ADS_1
"Ngapain di marahin? Gimana semalem? Enak gak?" Tanya mama Cinta sedikit menggoda putrinya.
"Enak apanya ma? Cinta belum sempet makan di ajak tidur sama Rizal. Bangun bangun udah jam 3Subuh terus perih di tambah badan Cinta panas. Gak di kasi keluar kamar ma Rizal. Mau pipis aja di gendong ke kakamar mandi." Sungut Cinta.
"Bukan kepiting yg mama tanyain. hmmm" Mama Cinta menghela nafal kesal.
"Terus apa ma kok enak?" Tanya Cinta
"Itu kamu di ituin sama Rizal. Enak gak? Gimana rasanya?" goda mama Cinta.
"Oh yg itu." Cinta diam sebentar lalu melanjutkannya. "Sakit pertamanya ma, terus geli." Lanjut Cinta malu malu.
"Geli? Apanya?" Jiwa kepo mama Cinta bangkit setelah mendengar pengakuan polos sang putri.
"Habisnya Rizal cium cium leher Cinta kadang niup nuip telinga kan geli ma."
"Rizal pegang pegang kamu gak?" Mama Cinta semakin semangat menanyai putrinya.
"Pegang apa ma?"
"Ya pegang apa kek yg buat kamu lebih geli." Pancing mama Cinta.
__ADS_1
"Oh iya Rizal pegang perut Cinta rasanya geli sekali ma. Pas mau teriak Rizal mencium bibir Cinta jadi gak bisa teriak." Cerita Cinta.
"Ya sudah mama sudah ngelap kamu. Sekarang kamu minum obat ini abis itu tidur ya. Mama ke dapur buatin kamu bubur dulu." Mama Cinta pun pergi meninggalkan Cinta yg mulai memejamkan mata setelah minum obat dari mamanya.