
Seminggu sudah berlalu, Rizal masih terlihat murung. Cinta yg lebih iklas untuk menerima kepergian calon bayinya merasa bersalah. Bersalah karena tidak bisa menjaga amanah yg sudah di berikan padanya.
Cinta mendekati Rizal yg sedang duduk di taman dekat kolam renang. Cinta merasa kasian melihat Rizal seperti itu. Cinta merasa sedih juga merasa jengkel karena tak bisa menjadi istri yg bisa menyenangkan suaminya.
Hujan mulai turun namun Rizal masih tak menunjukkan untuk beranjak dari duduknya. Cinta melihat itu merasa kesal juga jengkel. Cinta berjalan mendekati suaminya tanpa menggunakan payung. Dress warna kuningnya basah karena air hujan. Cinta duduk di samping Rizal yg sedang melamun.
"Mas Rizal?" Rizal hanya diam tak menjawab.
"Mas, mas marah sama Cinta? Cinta tau Cinta salah. Tapi apa gak bisa kamu itu hukum aku jangan kaya gini? Kamu pikir aku gak sedih mas? Aku gak kehilangan? Tapi aku memilih untuk melanjutkan hidup mas, bukan meratapi nasib. Inget mas Allah itu tidak akan merubah suatu kaumnya ketika dia sendiri tak mau berusaha. Mas, apa lagi yg mas inginkan? Semua sudah mas dapetin. Mas sudah punya penghasilan sendiri rumah sendiri juga mas sudah punya istri. Ya itu aku mas, yg mas bilang sangat mencintai aku. Tapi kenapa mas malah menelantarkan aku mas?" Ucapan Cinta membuat Rizal menoleh.
Air mata Cinta bersatu dengan air hujan yg membasahi wajahnya. Rizal memandang Cinta dalam dengan tatapan yg sulit di artikan. Rizal melihat cinta menangis dengan tanda mata memerah dan hidung juga memerah.
"Maafin aku Cin. Aku gak bisa jaga yg seharusnya kita dapatkan. Aku seorang suami yg gagal Cin. Aku terus membuatmu sengsara. membuatmu terluka, bukan sekali tapi dua kali. Aku yg menyebabkan semua ini teejadi. keegoisanku juga ketamakan ku akan duaniawi juga ambisiku yg membuat mu kehilangan anak kita." Rizal menumpahkan rasa kesal yg selama ini terpendam.
"Jangan menyalahkan sendiri Zal. Kita harus belajar dari kejadian ini. Aku bukannya gak merasa kehilangan ato sedih tapi aku hanya mau memperbaiki diri dan juga mempersiapkan diri ketika Allah mempercayai kita nantinya." Cinta memeluk Rizal dalam hujan.
"Iya Cin seandai...."
"Jangan pernah ada kata seandainya Zal. Karena itu sama dengan menyesali takdir yg Allah berikan. Inget aja Zal, rencana Allah jauh lebih indah untuk umatnya. Manusia hanya mampu berncana Zal, tetep Allah yg akan meberikan yg terbaik buat kita. Syukur syukur kalo rencana kita di ACC sama Allah. Maka kita akan bahagia, begitu pun sebaliknya. Kalo Allah masih belum me ACC rencana kita maka kita jangan sedih." Terang Cinta mengingatkan Rizal.
"Iya, jangan pernah pergi ninggalin aku ya Cin. Aku sayang sama kamu, aku gak tau apa jadinya aku tanpa kamu. Saat seperti ini aku butuhin kamu sebagai istri yg merangkao sebagai sahabat untuk keluh kesah ku." Cinta mengajak Rizal masuk kedalam kamar dan berendam bersama.
"Udah dong mas jangan lagi melo melo, gak ada yg gombalin aku jadinya. Nanti kalo aku yg gombalin cowok lain kan gak lucu mas."
__ADS_1
"Awas aja kalo kamu berani. Aku hajar di tempat laki laki itu." Jawab Rizal
"Kok laki lakinya yg mas ajar? Kan Cinta yg gombalin dia."
"Kalo kamu yg mas hajar kan mas juga yg rugi."
"Rugi?" Tanya Cinta masih belum mengerti apa maksud dari suaminya.
"Iya lah rugi, di samping mas harus merawat luka kamu akibat mas. Mas bisa saja kehilangan kamu. Kan rugi banda mas."
"Is kamh ini, Emang seberapa besar cinta mas buatku?" Tanya Cinta dengan menaik turunkan alisnya.
"Seujung kuku yang. Biar setiap hari di potong pasti akan tumbuh lagi." Jawab Rizal.
"Masak si?"
"Iya mas, Cinta sebel sama mas. Gara gara mas Cinta gak bisa buka hati Cinta buat Rico. Dulu rasanya tu anak gantengnya gak ketulungan. Tapi setelah beneran jalan sama Rico dan denger mas tunangan sama Michel buat hatiku kacau mas. Jalan sama Rico rasanya kaya jalan sama gedebong pisang. Hambar mas. Yg ada di fikiranku dulu cuma bayangin kamu lagi berduaan sama Michel." Terang Cinta yg membuat Rizal tersenyum.
"Emang mas gitu ya? Yang ada mas itu tiap berduaan sama Michel bawaanya jengkel terus. Sama ma kamu, bayangan mas itu kamu lagi mesra mesraan sama Rico. Nyesek yang. Sampek pas mas tunangan dengan Michel. Mas cuma ngasi cincin itu abis masangin mas pulang terus nunggu di kamarmu saat mas tanya sama mama Erna kamu keluar sama Rico. Sumpah mas gak terima. Pengen mas hamilin kamu saat itu tapi mas takut dosa." Ucapan Rizal terhenti ketika Cinta mencium pipi suaminya.
"Udah kita buka lembaran baru jangan lagi melihat kebelakang. Jadikan sejarah itu sebagai pelajaran bukan untuk di ratapi. Inget aku ada di sampingmu sekarang karena kamu yg mau. Jangan biarkan penyesalan membuatku meninggalkanmu." Ucap Cinta.
"Iya aku ngerti."
__ADS_1
"Jangan lagi kamu kaya gitu lagi. Sepi tanpa cintamu Zal."
Rizal tersenyum mendengar Cinta merindukan cintanya yg seminggu ini ia abaikan. Rizal mengambil air wudlu untuk sholat ashar berjamaah dengan Cinta. Selesai sholat Rizal mencium Istrinya seperti kebiasaan lamanya. Cinta sangat senang melihat Rizal kembali bersemangat menjalani hidup.
Cinta sibuk menyiapkan makan malam. Rizal kembali ke rutinitas awaal, mengurus Cafe cafenya. Berkas berkas yg terus menumpuk karena selama seminggu di telantarkan. Cinta melihat wajah serius Rizal dengan sigap membuatkan teh hangat tanpa gula.
"Seneng liat kalian seperti ini lagi." Kata Papa Rizal dari ruang tamu.
"Papa, ngagetin aja. Mama mana pa?" Tanya Rizal
"Mama di rumah, papa pulang kerja langsung ke sini mau nengokin anak papa." Papa Rizal duduk di samping Rizal sambil mengambil perkedel yg tertata di piring depan Rizal.
"Kirain mama gak mau jengukin Rizal lagi." Rizal masih focus ke layar laptopnya.
"Ya enggak lah. Mamamu jam segini ya masak lah. Enak perkedel jagungnya Cin, pinter kamu masak ya." Puji papa Rizal pada menantu tersayangnya.
"Istri pilihan Rizal pa, gak mungkin mengecewakan. Michel belum tentu bisa masak, di suruh bikinin teh aja gak bisa. Gitu mama ngotot sekali jodohin Rizal sama Michel." Rizal menyombongkan diri.
"Jangan takabur mas, siapa tau Michel lebih jago masak dari Cinta." kata Cinta sambil menata piring berisi lauk pauk di depan Rizal dan papanya.
"Ya papa minta maaf, kan mama sama papa gak tau waktu itu kalo kamu naksir Cinta. Jadi bukan salah mama sama papa to." Kata papa Rizal sambil mengambil tahu yg di cocol ke sambel pete kesukaannya.
"Gak ada yg salah pa, emang dulu gak ada yg tau perasaan masing masih. Seharusnya Cinta dan Rizal yg berterimakasih ke mama sama papa yg sudah menyadarkan kami. Juga Cinta mau bilang terimakasih ke papa sudah mau menerima Cinta sebagai menantu papa."
__ADS_1