
Baju baru memang tak harus di beli saat mau lebaran. Tapi membeli baju di saat mau lebaran, memiliki kebahagiaan tersendiri.
Seperti saat ini, Levin mengajak seluruh keluarganya ke Mall untuk membeli baju lebaran. Membahagiakan anak istri serta orang tua adalah impiannya. Tapi sayang, pada saat hari itu tiba. Rizal, sang Papa sudah berpulang pada Sang Kholik.
Cinta terlihat sedikit berbeda dari biasanya. Tahun lalu, Cinta lah yang paling antusias memilih baju. Memilih untuknya ataupun untuk para cucu dan menantu.
"Mama, bawa dompet dan tasku. Bayar semua belanjaan yang kami pilih. Ini kewajiban mu untuk kami." Levin memberikan tas yang dia bawa.
Di dalam tas tidak hanya ada kartu miliknya, tapi juga milik Kliene. Mereka berempat memberikan hak membayar hanya untuk ibunya, Cinta. Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, saat Rizal masih ada.
Rizal selalu berkata kepada dua anak kembarnya untuk memberikan kartu mereka. Memberikan pada Cinta untuk membayar sama dengan memberikan penghargaan tertinggi untuk seorang ibu membelikan baju raya.
"Sekarang, bukan tugas Mama lagi. Tapi tugas Queen dan Ayu. Jangan jadikan rumah memiliki dua ratu. Mama sekarang bukan ratu di antara kalian...."
Air mata Levin lebih dulu menetes mendengar apa yang di katakan oleh cinta. "Ma..."
__ADS_1
"Mama itu ibu suri, jadi harus di layani. Bukan ibu yang masih melayani kalian, mengerti?" apa yang di katakan Cinta justru membuat keempat orang dewasa itu menangis dan memeluknya.
Mereka semua memilih baju baru sesuai dengan keinginannya. Tak lupa mereka memilih satu baju yang sama dengan yang lainnya sebagai baju keluarga.
Setelah lelah memilih baju baru, mereka mencari tempat makan untuk menunggu buka yang kurang dari setengah jam. Agas dan Bagas tampaknya sudah tak tahan lagi untuk menyantap makanan yang ada di depannya.
Sedangkan Almas yang berusia setahun di bawah mereka bertiga. Melihat semangkuk es krim yang mungkin akan segera mencair.
"Mama, apa nanti aku akan berbuka dengan es krim cair? Itu tidak enak." Kata Almas menatap nanar es krimnya.
"Nanti Oma belikan lagi yang baru kalau mencair." Cinta membelai Almas yang ada di sampingnya.
"Baiklah, sini cucu-cucu Oma cium semua." Agas sudah besar, nggak mau. Ciuman Agas buat Almas saja." Tanpa di duga, Agas langsung mencium anak dari kembaran papanya di hadapan keluarga yang lain.
"Cie bang Agas... Gas terus bang."
__ADS_1
"Hus, anak piyik ini minta di gites emang. Mana boleh cium anak cewek." Ayu langsung memindahkan duduk Agas ke sampingnya. sedangkan Almas sudah menangis.
"Mama, ciuman pertamaku...." tangisan Almas membuka mata para orang tua.
"Ini anak-anak kenapa jadi begini?" kata Queen gemas.
"Kamu kali, yang. kalo masak ngasih micinnya kebanyakan." Levin malah menyalahkan istrinya.
"Enak aja, aku nggak pakek micin, yang. Aku kan cuma pakek masbojo." Jawab Queen tak mau di salahkan.
"Masbojo?" Ayu yang juga sering membantu di dapur merasa heran. Sejak kapan ada bumbu masakan masbojo?
"Iya, masbojo. Yang warna kuning itu, kalo yang warna merah itu royciyosi." jawab Queen yang mulai menyiapkan anaknya untuk berdoa buka puasa di hari terakhir.
Selama berdoa buka puasa, Ayu masih saja terus berpikir. Sejak kapan ada bumbu masakan masbojo sama royciyosi? Apa selama ini dia kurang baca. Atau gimana?
__ADS_1
"Ma... Mama, kita punya bumbu masbojo sama royciyosi? Memangnya masakannya bisa mateng dengan di terawang dan di cium?" Bisikan Ayu bukan bisikan biasa. Sampai satu meja besar itu bisa mendengar bisikannya.
"Omongan Queen jangan di pikirin, sekarang makan aja yang kenyang. Besok kita cari masbojo sama royciyosi."