Sahabat?

Sahabat?
Season 2 Penyesalan Revan


__ADS_3

POV REVAN


Malam ini seharusnya aku nikmati bersama Billa, gadis manis yang memikat hatiku. Tapi kenyataannya aku harus menghabiskan malam ini dengan wanita ular ini. Lihat saja, bagaimana aku akan memperlakukanmu sudah memanfaatkan aku selama ini. Sial ini juga kebodohanku menyetujui apa keinginan ular ini. Aaaaagggggrrrr Sumpah aku tidak bisa terima dia menjadi istriku.


“Revan, mikir apa lu diem terus di situ?” itulah pertanyaan ular yang tak ingin aku jawab.


Ular itu mendekatiku dan meminta aku melepaskan resleting gaunnya. Dia kira aku akan nafsu dengan body dia yang meluber kemana-mana itu? Jangan mimpi. Bukan wanita ular sepertimu yang menjadi kriteriaku. Sial anganku masih bersama Billa, sedang apa kamu saat ini manisku? Tidakkah kau merindukanku? Kesetiaanmu menggodaku untuk memilikimu. Tuhan aku tidak pernah memiliki niat buruk terhadap Billaku. Aku hanya ingin menjaganya selama ini. Tuhan, ijinkan aku untuk sekali saja merasakan kasih sayangnya.


“Van, sini tidur. gue sudah mengantuk,” ucapan yang membuatku bena- benar muak. Ular ini sungguh ingin menguasaiku. Utuh  berada di bawah kendalinya. Jangan harap hai kau, wanita ular.


“Tidurlah dulu, aku masih ingin menikmati minumanku dulu,” ucapku menenggak cairan berwarna merah pekat dengan rasa pahit dan sedikit terasa memuai di dalam mulutku.


Minuman yang selalu aku hindari selama bersama kekasih hatiku, Salsabilla. Kini hampir aku nikmati setiap malam setelah ular ini sah menjadi istriku. Aku juga tidak menyangka jika dia seagresif wanita binal di pinggir jalan yang menjajakkan diri. Sangat menjijikan jika aku harus menggaulinya saat kesadaranku normal seratus persen. Benar-benar berbanding terbalik dengan Billa yang sangat menjaga kesuciannya. Memang dia bersetatus istriku namun aku merasa di perkosa oleh Ular ini setiap melakukannya.


AUTHOR POV


Malam itu berlalu dengan kesadaran Revan yang hanya tinggal separo. Revan tidur masih dengan menggunakan setelan baju pengantin lengkap dengan jasnya. Revan tidur di sofa di mana dia menenggak minuman haram itu semalam. Revan benar-benar sangat jijik pada istri yang sangat agresif seperti Frizka itu.


“Van bangun, lu kenapa gak mau pindah di kasur?” Tanya Frizka yang membangunkan Revan sang suami.


“Ck, ketiduran.” Jawab Revan malas.


Revan bangun dan melewati Frizka yang mematung di samping sofa tempat tidurnya tadi. Revan ke kamar mandi, berjalan dengan sempoyongan. Frizka hanya diam dan mencoba menguasai diri agar tidak tersulut api amarah pagi-pagi buta. Frizka memesan sarapan untunya juga untuk sang suami. Setalah tiga puluh menit Revan keluar kamar mandi yang sudah mengenakan baju kerja lengkap dengan jas dan dasi yang terpasang indah di dadanya.

__ADS_1


“Lu mau kemana?” Tanya Frizka dengan nada sedikit meninggi.


“Kerjaanku tidak bisa di tinggalkan terlalu lama. Dan Billa sudah memesankan aku tiket ke Jerman.” Jawab Dingin Revan dengan sedikit kebohongan.


Revan sebenarnya menggunakan privete  jet miliknya.Revan enggan untuk mengajak Frizka ke negara di mana dia di takuti oleh pesaingnya. Sekaligus menjadi negara penuh kenangan baginya juga Billa beberapa tahun ini..


Revan ternyata memang mencintai gadis berisik yang hanya bisa menggunakan bulpoinnya juga otaknya. Billa memang memiliki kecerdasan di atas rata-rata bila di bandingkan dengan wanita lain. Dan Billa juga bukan siapa-siapa jika di bandingkan dengan istri manapun. Itu karena Billa sama sekali tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Bahkan selama tinggal bersama, Revan lah yang menjadi koki bersama dengan Vano dan menjadi pembantu Billa untuk membersihkan rumah. Karena jika Billa yang membersihkan rumah, bukan bersih tapi makin berantakan.


Setibanya Revan di Rumah yang pernah di tinggalinya bersama Vano dan juga Billa. Revan seakan menapak tilas setiap sudut ruangan yang memberikan kenangan dirinya bersenda gurau dengan Salsabilla wanita yang mengikat hatinya. Revan menyesali kebodohanya telah menyepakati rencana licik seekor ular bernama Frizka.


Revan merebahkan diri di atas tempat tidur dengan ukuran yang lumayan besar dan menoleh ke arah samping, membayangkan sesosok gadis pujaanya tidur di sana dan melontarkan senyuman manisnya. Begitu besar pengaruh Billa pada seorang Revano Alibaba Sahid. Melupakannya bagaikan menulis di atas air, sangat mustahil. Tanpa terasa butiran bening telah menetes melewati hidung dan berselancar melalui pelipis lelaki yang tengah rapuh sendirian dalam ruangan pengap tanpa pencahayaan.


Di Jerman Revan meratapi kebodohannya. Sedangkan di rumah Mbah Kung Frizka marah besar karena Revan meninggalkan dirinya begitu saja di hotel.


“Aaaaaaagggggggg” Teriakan Frizka mengagetkan seluruh penghuni yang ada di rumah Mbah Kung termasuk Billa dan Sandi yang lagi asik berduaan di kamar.


“Astaqfirulla!! Billa.” Panggil Sandi pada istrinya sambil membalikkan badanya.


Billa mendekati Frizka dengan membawa selimut untuk menutupi tubuhnya yang tak layak untuk di konsumsi banyak orang. Namun dengan wajah penuh amarah, Frizka mendorong kuat Billa menjauhinya hingga tersungkur ke lantai.


“Ini semua gara-gara elu Billa!!!” Teriak Frizka yang membuat Sandi tak perduli dengan tubuh Frizka yang masih belum tertutupinya.


“Jangan keterlaluan lu Friz.” Dengan penuh amarah Sandi menampar Frizka hingga terjatuh sama seperti istri tersayangnya.

__ADS_1


“Sandi, jangan pukul cucuku!!” Kali ini Mbah Kung datang dengan penuh amarah.


“OK saya akan keluar dari sini! Saya lebih memilih melindungi istri dari pada tinggal dengan seorang pembunuh.” Sandi langsung menarik Billa keluar dari kamar penuh dengan pecahan barang-barang di lantai.


Sandi mengemas barang-barang yang di rasa penting dan di bawa pergi dari kediaman Mbah Kung. Sandi berniat menempati rumahnya yang dulu di tempatinya sebelum pindah ke rumah besar bernuansa adat jawa yang sangat kental itu.


“San, ini di mana?” Tanya BIlla saat memasukin sebuah rumah yang sangat sederhana dengan halaman yang lumayan luas.


“Ini rumah ku sebelum pindah ke rumah kakek. Papa beli rumah ini sebelum pindah ke kota ini.” Sandi membukapintu yang nampak sedikit usang.


“Ini lumayan jauh loh San dari sekolahan kita dulu.” Billa mengenang sekolahan di mana tempat pertama kali Billa dan Sandi bertemu dengan Aris dan juga Frizka.


“Iya, setelah setahun papa beli rumah baru yang di deket restoran. Tapi gua gak mau pindah dari sisni.” Jawab Sandi sambil menggandeng tangan Billa menapaki lantai yang sangat berdebu tak terurus menuju kamar dimana dirinya dulu memejamkan mata saat lelah.


“San, kita panggil pelayan kebersehan aja ya, biar gue dah yang bayar pelayananya entar.” Kata Billa yang menyadari dirinya tidak akan bisa membersihkan rumah yang lumayan besar menurutnya.


Tiga kamar, dapur dan ruang makan serta ruang tamu itu sudah lumayan besar bagi Billa. Di tambah lantai dua yang tak bisa di bilang kecil meski cuma ada satu ruangan yang ternyata itu kamar Sandi yang lengkap dengan ruang tamu dan berhubungan langsung dengan balkon yang di desain seperti lesehan. Balkon itu tadinya kosong, semenjak adanya Friska balkon itu di sulap menjadi tempat yang nyaman dengan karpet dan meja lesehan. Kenapa bisa Friska? Karena rumah ini adalah tempat menenangkan Rara waktu itu, hanya saja Billa melupakan kejadian itu.


“Gua tau lu gak bisa. Lu diem di sini dan istirahatlah. Gue yang akan bersihin semuanya.” Sandi menyuruh Billa istirahat di kasur yang sudah di bersihkan dan di ganti sepreinya.


“Tapi kasia kamu sayang,” ucap BIlla dengan menangkup wajah Sandi dengan kedua tangannya.


“Ini gak gratis sayang” Sandi mengerlingkan matanya menggoda Billa.

__ADS_1


Sang istri yang mengerti apa maksud dari godaan suami genit itu hanya tersenyum dengan


menundukkan kepala.


__ADS_2