
Hari itu juga Friska dan Revan di ajak pulang ke Indonesia. Billa masih belum percaya dengan apa yang di katakan Friska. Billa terus mencoba untuk tidak menghubung-hubungkan kecelakaan Aris dengan Friska, Tapi semua itu gagal. Semua seperti behubungan saja, tapi wajah ayu dan pemikiran cerdas apa mampu untuk melakukan semua itu?
Sungguh tragis hidup Aris jika benar mati di tangan gadis cantik berhati iblis macam Friska. Batin Sandi benar benar sesak kali ini. Aris memang saingannya mendapatkan Billa, namun bukan dengan cara ini untuk melihat akhir dari hidup sepupunya.
“Aaaagggggrrrrhhhh, Ariiiisssss!!!” Teriak Sandi dalam kamar bersama Billa.
“Sabar, gue juga akan cari tau ada apa sebenernya. Dan gue akan cari tau tentang Revan.” Kata Billa penuh emosi.
“Jangan sayang, Bang Levin bisa melakukan jika itu yang kamu mau. Gua gak bakalan ngasih ijin lu balik ke Jerman lagi. Gua udah gak percaya lagi sama dia.” Sandi berapi api mengingat Billa lah yang menjadi sasaran sebenarnya.
“Bang Levin?” tanya ragu Billa.
“Lu punya singa sayang. Jangan lupa singa lu gak cuma satu tapi ada tiga dan macan ada tiga. Malaikat lu punya satu.” Bukan mengerti tapi Billa semakin bingung.
“Gue, Levin dan papa Rizal adalah singa lu. Ayu, Queen dan mama Cinta adalah macan yang kapan saja bisa menerkam musuhmu. Kliene adalah satu-satunya manusia tenang yang memiliki kewarasan di dalam keluargamu bisa menjadi malaikat bagi keluargamu.” Jelas Sandi memberi pengertian pada istrinya yang juga memiliki tingkat kebegokan yang sama dengan sang mama juga kedua iparnya.
“Gua bilangin lu sama Levin. Terutama mama kalo lu gibahin dia.” Kata BIlla yang hendak pergi keluar namun di tahan oleh Sandi.
“Sayaaaannngggg jangan lah.”Rengek Sandi dengan mata memelas membuat Billa ingin sekali mencubit kedua pipi suaminya.
__ADS_1
“Manyunin lagi bibirnya.” Perintah Billa yang muncul ide jahilnya.
Dengan polosnya Sandi mengikuti permintaan sang istri. Tanpa berpikir panjang Billa langsung menjepit bibir Sandi dengan jepit jemuran yang tergeleak di nakas samping tempat tidur.
“Billaaaaa Sakit begok.” Sandi mengejar Billa yang berlari keluar kamar sampai ke dapur.
“Kalian ini apa apan sih? Seperti anak kecil saja lari larian.” Ibu Maryam menegur Billa dan Sandi yang main kejar kejaran.
“Bunda, menantu tersayangmu itu bikin bibir sexyku jadi domble ini di cepit pakek penjepit jemuran.” Adu Sandi pada ibu Aris yang kini menjadi Ibu kedua bagi Sandi dengan sebutan Bunda.
“Uuuuhhhh kasiannya putra bunda, Billa jangan gitu dong. Itu atasnya kan ngiri minta di cepit juga.” Ucapan Sang Bunda membuat mama Sandi dan bibi yang mendengarkan ikut tertawa.
“Sini mama uleg bareng sama sambel kamu kalo masih ngomong yang enggak-enggak.” ucap Ismi Syafa mama dari Sandi sambil menunjukka pengulekannya.
“Ampun ma, Billa lu ngapa malah ketawa aja sih ngeliat laki lu di bully kaya gini????” Kata Sandi ketika melihat sang istri hanya tertawa melihat ke arahnya dengan memakan tempe anget yang baru saja di angkat dri penggorengan.
“Bodo amat ama elu ma, mama bunda Billa lapeeerr.” Belum sedetik Billa merengek minta makan, Terdengar sebuah lemparan benda pecah dari ruangan kerja kakek Joko.
“Kakek ada apa ini?” Tanya Sandi yang melihat sebuah vas bunga kesayanganya pecah di lempar oleh si Mbah.
__ADS_1
“Sekarang kalian jelaskan ada hubungan apa di antara kalian berempat.” Mbah Joko meninggikan suaranya karena terlalu emosi.
“Pak Revan adalah bos Billa di Jerman Mbah, dan Sandi juga tau itu namun belum pernah bertemu dengan pak Revan. Untuk yang masalah ke pesta menjadi pasangan pak Reva itu memang selalu mengakui saya pasanganya Mbah.” Jelas Billa membuat para orang tua yang ada di ruangan itu memandang ke arah Billa.
‘Sebenernya apa yang terjadi di Jerman?” Tanya Pak Husni.
“Saya bekerja di perusahaan pak Revan dan mendapat kesempatan untuk mengikuti kelas cepat dengan nilai yang memuaskan. Saya dengan teman saya namanya Vano bekerja selama dua tahun menjadi sekertaris pribadi pak Revan. Dan selama itu kami bertiga tinggal di rumah yang sama. Ya karena kami selalu bekerja sampai larut malam. Dan pagi pagi sekali kami berdua harus ikut seminar wajib untuk mendapatkan poin dan nilai bagus. Makanya Billa dan kelima temen Billa bisa lulus hanya dengan menempuh pendidikan dua tahun saja.” Jelas Billa.
“Yang kami tanyakan sekarang, bagaimana perasaan kamu pada Revan?” Tanya Mbah Kung yang sedikit melunak.
“Perasaan apa yang Mbah Kung tanyakan?” Tanya Billa yang sedikit merasa tidah enak.
“Apa kamu menyukai Revan? Karena dia mengaku menyukai bahkan mencintaimu.” Perkataan Mbah Kung membuat Billa menggeleng-gelengkan kepala tidak menyangka jika gurauan yang selama ini terlontar itu sebuah kenyataan.
“Selama ini Billa hanya menganggap pak Revan sebagai Boss Billa. Dan selama di sana memang sering sekali pak Revan bercanda untuk menjadikan saya sebagai Istri. Itu hanya lelucon bagi saya, karena dia juga tau jika saya Salsabilla terlalu mencintai Aris yang ternyata mati di tangan Iblis berwajah malaikat.” EmosiBilla tak mampu di tahan lagi karena rasa kecewanya terhadap sahabat yang sudah di anggapnya sebagai saudara itu.
“Sudah sayang, terlalu berharga air matamu untuk wanita iblis macam dia.” Sandi memeluk Billa menenangkan dan melontarkan pandangan tak suka terhadap Frizka.
Mandangan penuh dengan dendam yang membara. Husni melihat ke arah Friska yang mengetahui apa maksud dari perkataan menantu dan putranya. Sani mengajak Billa yang menangis ke dalam kamar. Ismi dan Maryam mengikuti Billa dan Sandi guna ingin mengetahui bagaimana bisa kematian Aris ada hubungannya dengan Friska.
__ADS_1