Sahabat?

Sahabat?
Season 2 Hadiah?


__ADS_3

Seminggu sudah kejadian naas itu berlalu. Queen yg masih duduk di kursi roda pun selalu di temani salah satu keluarganya saat ke kampus. Jika Levin tidak bisa mengantar, biasanya Ayu atau Kliene yg bertugas mengantar jemput Queen. Seperti kali ini, Levin harus meeting di perusahaan kakeknya untuk mewakili kedua sodaranya.


Seharian Levin dan Queen tidak bertemu sampai kini malam menjelang. Saat makan malam Levin baru datang dan berkumpul dengan keluarga yg lainnya termasuk Queen istrinya. Levin menyadari kemarahan istriya dari perubahan raut wajahnya.


"Kenapa itu bibir di monyong monyongin? Minta di capit sama kepiting ini?" Kata Levin mengeluarkan bawaannya.


"Yeee kepiting. Kamu memang anak yg berbakti." Cinta menyambut bawaan dari sang anak.


"Kok mama doang yg di kasi oleh oleh? Akunya mana Vin?" Tanya Queen karena memang tidak menyukai kepiting. Kasian katanya.


"Ada dong, tapi itu bibir masih manyun mana mau lah aku ngasih oleh oleh. Suami datang itu harus di sambut. Cium tangannya cium pipinya kasi senyuman termanismu sebagai istri untuk menghilangkan rasa capek suami. Itu pahala lo. Kamu lupa kalo mencium tangan suami itu bagaikan mencium hajar aswat?" Tanya Levin membuat Queen tertunduk.


"Bener banget itu kata Levin. Ini untuk pelajaran kalian juga Ayu dan Kliene. Senyuman istri itu obat paling mujarap penghilang rasa capek. Rengekan seorang anak itu penghilang setres." Kata Rizal membuat Levin tersenyum getir memandang Queen.

__ADS_1


"Kenapa papa jadi nyindir gini sih? Kami sudah berusaha tapi ya kami menunggu kapan di kasih kepercayaan untuk menjaga titipan itu. Harapan papa sama mama itu akan kami usahakan. Percaya pa, kami anak anak mama sama papa akan berusaha untuk memberikan kebahagiaan untuk kalian." Kata Kliene memandang papanya.


"Kalian itu harapan papa sama mama. Jangan pernah kalian iri satu sama lain ya. papa sama mama gak pernah membedakan kalian." Ucapan Rizal membuat Levin dan Kliene memeluknya.


PASTI.


Levin mendorong kursi roda Queen memasuki kamarnya setelah makan malam bersama. Levin membersihkan diri di kamar mandi. Sedangkan Queen menyiapkan baju ganti untuk levin. Queen merapikan baju kotor Levin yg berserakan di atas tempat tidur. Saat mengambil sepatu di lantai, Queen berusaha untuk bangkit dari kursi rodanya.


Gubrak!!!


Teriakan Levin membuat Kliene dan Ayu yg berada di kamar berlari ke kamar Levin yg ada di depan kamarnya. Kliene mendapati Queen di angkat oleh Levin dan kursi roda Queen sudah terguling di lantai. Queen diam tertunduk, Takut untuk nangis ataupun bilang sakit.


"Kenapa Queen Vin? Jangan ceroboh lo ninggalin istri lo sendirian!!" Bentak Kliene yg tak mau Queen kenapa napa.

__ADS_1


"Gue mandi bang, gak tau. Maaf Gue gak bisa jaga Queen. Gue janji bakalan lebih hati hati lagi." Levin mengusap lembut kaki Queen yg tertindi kursi roda tadi. "Besok kita kontrol."


Kliene dan Ayu sudah kembali kekamarnya. Levin memakai bajunya yg di siapkan oleh Queen. Setelah itu Levin duduk di depan Queen yg sedari tadi terus menundukkan kepala. Levin meraihnya dan memeluk Queen membawanya lebih dekat lagi.


"Gue mau punya anak dari kamu sayang, Jangan menunda lagi. Ini bukan karena permintaan papa atau mama, tapi aku pengen memilikimu dan menguatkan cinta kita. Anak itu bisa buat kita lebih mencintai lagi. Aku benar benar gak mau kehilanganmu sampai kapanpun." Levin membelai lembut rambut berwarna putih milik Queen.


"Vin, Aku sayang sama kamu. Aku cinta sama kamu, meski di antara kita tidak ada anak." Kata Queen membuat Levin tersentuh.


"Memang seperti itu. Tapi apa salahnya kita untuk tidak menunda? Sayang, aku gak menuntut. Cuma aku gak mau pakai pengaman,Begitupun kamu. Aku gak mau kamu minum obat kontrasepsi lagi. Biar Allah yg menentukan kita cepat atau lambat. Jadi jangan menghalangi. dan jika di antara kita tidak ada seorang anak pun. Percayalah, aku selalu mencintaimu dan tidak akan pernah melepaskanmu. Atau pun menghadirkan yg lain." Kata Levin dengan air mata sudah menetas di pipinya.


"Sayang nangis? Jangan nangis dong." Queen menengadahkan wajah Levin yg dari tadi bersandar di lehernya.


"Kenapa?"

__ADS_1


"Singanya ilang." Goda Queen.


"Sialan!!!" Levin mencium Queen gemas


__ADS_2