Sahabat?

Sahabat?
Jin terikat, tapi iblis?


__ADS_3

Jam setengah sebelas, rumah Levin dan Queen sudah gelap gulita. Levin yang baru pulang dari rumah orang tuanya pun melihat ke kamar anaknya terlebih dulu. Memastikan Almas sudah tidur, Levin baru ke kamarnya sendiri.


Baru membuka pintu kamar, Levin kaget karena kondisi kamar gelap juga. "Nggak biasanya Kamu matiin lamp....."


Kaget yang sesungguhnya adalah ketika Levin menghidupkan lampunya. Queen masih belum tidur, dia mengenakan baju dinas warna merah menyala. Bahan broklat transparan membuat Levin mampu melihat isi di dalam baju itu.


Terlihat Queen hanya tiduran tak banyak bicara. Senyum mengembang seakan menyambut setiap langkah Levin yang semakin mendekatinya.


Semakin dekat posisi Levin, Queen sedikit demi sedikit membuka lebar kakinya. "Sudah menunggu lama?" Tanya Levin dengan senyum menggoda.


"Tidak, aku bahkan baru selesai mandi." Levin melihat rambut Queen sedikit basah, semakin tak tahan lagi.


***

__ADS_1


Sial, tengah malam di malam bulan ramadhan. Queen harus rela di mandikan Levin dengan air dingin. Ini juga kesalahannya sudah menggoda macan tidur Levin.


"Dingin, yang." Rengek Queen yang masih di bawah guyuran Levin.


"Biar otak kamu dingin. Perasaan jin di kurung pas bulan puasa. Tapi iblis penggoda dalam dirimu semakin menjadi." Kata Levin yang juga sudah selesai mandi sebelum Queen.


"Kan, Pahala sayang. Ini kewajiban, Memangnya kamu mau kalau aku beneran jadi iblis goda tetangga sebelah?" kata Queen ada benarnya, tapi tetangga sebelahnya kan lahan kosong. Terus di sebelahnya lagi, rumah orang tuanya. Dan di sana..... Ada Kliene, kakak kembarnya.


Bisa saja, bukan?


"Ampun.... Makanya aku godain kamu. Lagian, iman kamu cetek." Queen berusaha lepas dari Levin dan mengambil handuk karena kedinginan.


"Bukan iman yang cetek, tapi emang si junior aja yang nggak tahan pengen pulang ke sarangnya aja tiap liat kamu." Jawab jujur Levin malah membuat keduanya memerah.

__ADS_1


Queen segera mengganti baju dengan dasternya. Sedangkan Levin memakai baju dalam saja dan sarungnya. Mereka berdua segera menyiapkan makan sahur karena memang sudah hampir jam tiga subuh.


Lama juga iblis beraksinya, dari jam setengah sebelas sampai jam duaan malam. Bukannya lemas, keduanya malah terlihat semakin energik. Sungguh luar biasa stamina keduanya, tiada tandingannya.


"Yang, kapan kamu mau ngajakin beli baju baru? Masa iya aku nggak di beliin baju baru sih?" Queen menyiapkan makan sahur untuk dirinya dan keluarga kecilnya.


"Nanti siang aku nggak ada kerjaan. Sekalian ajak mama sama yang lainnya juga." Jawab Levin yang baru keluar dari kamar Almas sambil menggendong putri tercintanya.


"Mbak Ayu bilang besok mau beli baju barunya. Kenapa nggak bareng? Lagian nanti siang itu kapan? Sekarang sudah...."


"Sudah ganti hari, sayang. Yang di maksud besok itu ya nanti. Ya sudah kalau begitu kita bareng-bareng aja. Minum dulu sayang, baru makan berat." Levin membantu Almas sahur.


"Mama sama papa kenapa mandi? Keramas lagi, memangnya udah mau berangkat beli baju? Almas nggak di ajak? Kok tega sama anak sendiri sih?" Setengah sadar, mata Almas yang masih belum terbuka sempurna malah ngoceh tak karuan.

__ADS_1


"Sudah, makan makananmu sebelum imsak." Levin menyodorkan makanan untuk putrinya. Karena dia dan sang istri tidak tau harus menjawab apa.


Anak kecil sekarang, suka kepo.


__ADS_2