
Satu jam sudah Billa dan Aris menunggu. Di depan mereka terdapat pazel yang berserakan di depan meja. Sepertinya orang yang memainkannya belum menyelesaikannya. Billa dan Vian saling pandang lalu mengambil kepingan pazel tadi dan di susun seperti tatanan. Namun Billa dan Vano harus terhenti ketika mendengar seseorang berdehem dari arah belakangnya.
"Ma.....af" Ucapan Billa seperti tertelan setelah melihat seseorang berbusana formal lengkap dengan dasi dan jam tangan mahalnya.
"Bukankan anda tadi seorang Officeboy?" Tanya Vano menundukkan kepala.
"Iya kenapa?" Tanya seorang yang mungkin umurnya baru memasuki angka 27 dengan nada angkuh.
"Maafkan kami pak sudah tidak sopan tadi." Jawab Billa menundukkan kepala.
"Siapa yang bilang? Saya asli Indonesia. Dan saya memerlukan kalian di samping saya. Untuk kepingan pazel terakhir itu ada pada saya. Sama seperti kunci keberhasilan kalian ada di tangan saya." Kewibawaan yang terbalut keangkuhan terasa sangat kuat terpancar dalam diri seorang boss besar di depan Billa dan Vano.
__ADS_1
"Maksud anda, kami di terima?" Jawab Vano dengan mata berbinar.
"Hahahaha ya, kalian berdua saya terima. Tapi bukan untuk team 4 dan 5 bagian pengembangan seperti yang kalian tau." Jawaban boss besar itu sedikit santai.
"Terus? Apa kami di terima sebagai officeboy dan officegirl menggantikan bapak tadi?" Jawaban gugup Billa membuat Revan Alibaba Sahid tertawa lepas.
"Hahaha duduk duduk, santai lah. Jangan berfikir terlalu jauh. Untuk officegirl masih buka tapi officeboy ku rasa sudah cukup." Kata Revan menggoda Billa.
"Ya lebih baik kamu pulang, minta pada Tuhan untuk menukar otak cerdasmu dengan ketrampilan bersih bersih." Candaan Revan terdengar serius.
"Baik lah pak saya mau pulang dan segera tidur." Jawaban Billa lesu membuat Revan tertawa lepas.
__ADS_1
"Hahahaha baiklah baiklah berikan otak cerdasmu untuk perusahaan ini sebagai sekertaris pribadiku. Kalian berdua harus ikut kemanapun aku pergi, bahkan jika kalian belum memiliki tempat tinggal maka tinggallah di rumahku." Keangkuhan yang di tunjukkan Revan tadi sirnah ketika berhadapan dengan celotehan Billa.
Revan Alibaba Sahid merupakan seorangang yang sangat di segani sekaligus di takuti karena kekuasaannya. Kabarnya Revan juga di kenal sebagai singanya bisnis. Revan tidak segan segan mengakuisisi perusahaan lawan jika perusahaan tersebut berani macam macam kepadanya.
"Wah, boleh juga itu pak tinggal di rumah bapak. Dari pada bayar apartemen setiap bulan. Lumayan itu bisa pakai tambah tambah uang jajan, iya gak Van?" Jawaban Billa kali ini di setujui oleh Vano.
"Baiklah, minggu depan kalian bisa pindah di rumah saya, ini alamatnya. Dan kalian bisa masuk kerja mulai besok. Sekarang kalian pulang dan istirahat, besok kalian kerja pakai pakaian formal. Untuk kaku Billa, bisa roknya pakai rok span? jangan pakak model A seperti itu. Sangat tidak cocok dengan ku." Jelas Revan mengomentari penampilan Billa.
"Siap pak, tapi saya tidak punya rok span pak." Jawaban polos Billa kembali mengundang tawa seorang Revan.
"Baiklah, kalian berdua ikut saya. Saya akan membelikan beberapa potong baju dan juga sepatu yang nyaman untuk kalian. Saya mau siapapun yang berjalan di samping kiri dan kanan saya adalah orang hebat yang berpenampilan menarik dan cantik pastinya." Jelas Revan melangkah mendahului Billa dan Vano
__ADS_1