Sahabat?

Sahabat?
Bab 45


__ADS_3

"Cinta boleh aku minta sesuatu sama kamu?" Tanya Rizal saat berada di ruang tengah setelah makan siang.


"Minta apa? Gunung? Lautan? Atau rembulan? bisa aku kasi buat kamu. Asal jangan minta aku ninggalin kamu. Berasa mati hidupku." Jawab Cinta membuat Rizal diam diam tersenyum.


"Enggak kok, aku cuma mau minta kamu jadi miliku selamanya. Terus bersamaku meski kita sudah tua. juga berada di sampingku saat kita menghadapi masalah." Rizal mendekati Cinta yg mencuci piring bekas makan siangnya.


"Sayangku ke kamu udah kaya air ini Zal." Cinta menunjuk ke arah kran yg masih mengalirkan air meski ember tempat menampunya sudah kepenuhan.


"Mau ngomong apa lagi aku? Dari mana sih kamu belajar gombal gitu?" tanya Rizal dan Cinta menghentikan aktifitasnya.


"Dari keadaan yg mengharuskan aku memiliki kamu seutuhnya." Jawab Cinta sambil memeluk Rizal dengan tangan masih basah.


"Baper Cin" Rizal membalas pelukan istrinya sebelum papa Cinta berdehem melihat putri dan menantunya berpelukan.


"Teletubies juga gak gitu gitu amat kok." Suara papa Cinta mengagetkan Rizal dan Cinta.


"Papa, dari tadi di situ pa?" Tanya Cinta yg langsung melepaskan pelukannya.


"Dari kalian saling balas gombal. dari pada kalian kebablasan ya cukup pelukan aja lah papa liat." Jelas papa Cinta.


"Cinta malu pa." Cicit Cinta sambil mendekati papanya.

__ADS_1


"Kenapa harus malu? Papa seneng kalian akur kayak gini. Gak berantem gak marahan gak ilang. Kasian Rizal, selalu dia yg mengalah. Selama ini papa selalu perhatiin kalian. Dan Rizal selalu mengalah untuk kamu Cinta. Papa minta kamu juga harus mengerti apa yg Rizal mau." Kata papa Cinta yg di ikuti anggukan dari sang putri.


"Mau Rizal Cuma 1 pa, melihat Cinta bahagia hidup dengan Rizal itu sudah lebih dari cukup. Dengan Cinta bersedia menemani Rizal kemanapun Rizal pergi itu sebuah hadiah terindah bagi hidup Rizal." Kini Rizal duduk di samping mertuanya.


"Dengerin itu suamimu. Berbakti sama suami itu sebuah kewajiban. Kini suamimu adalah yg terpenting, setelah ibu kamu." Jelas papa Cinta.


"Iya pa."


"Papa ke sini ada apa?" Tanya Cinta.


"Papa cuma mau ngecek kalian aja, Terutama kamu. Apa sudah baikan atau masih harus di gendong kemana mana sama Rizal." Goda papa Cinta.


"Ah papa. Papa sudah makan? Tadi Cinta masak kepiting saos padang sama sambel goreng kentang kesukaan papa."


"Ngantuk yang ayok bobok dulu." Ajak Rizal.


"Zal. Kenapa kamu gak mau jawab pertanyaanku tentang dari mana kamu dapat modal cafe it?" tanya Cinta.


Rizal kembali duduk di sofa samping Cinta. Rizal mangambil tangan Cinta dan mencium punggungnya sesekali.


"Cinta, Bisa kamu janji untuk gak marah sama aku?" Cinta mengangguk pelan.

__ADS_1


"Pertama sebelum ada niatan buka cafe. Aku kumpulin uang yg di kasi papa. Jatah jajan ku aku tabung, aku ambil untuk bekel seperlunya aja. Terus sering bibi samping rumah itu minta anaknya di ajari. sebulan aku di kasi 200rb."


"Berapa uang bulanan mu Zal? Kan kamu sering itu ngajak makan bareng." Tanya Cinta memotong kalimat Rizal.


"Papa ngasih seminggu sejuta. Aku gak tau papa ngasih itu pada aku ma bang Rama mama tau apa enggak. Soalnya mama ngasih juga seminggu 700. Nah jadi punya papa aku tabungin sampek akhirnya itu aku di ajakin buat buka cafe. Tabunganku yg terkumpul baru 35juta terus aku di ajak buat liat liat ruko dulu. Nah aku naksir ruko yg ini. pertama sewa setahun 25jt, sisa kan masih 10 juta. Habis itu cari mesin kopinya ternyata harganya lumayan juga. waktu itu sekitar 25jt itu yg ukuran 6 liter. Sedangkan masih perlu modal besar juga. Belum kopi sama beli meja kursi cafe gitu dan dekorasi yg lain."


"Terus dari mana kamu dapet uang itu Zal? Perjuanganmu bener bener gak cukup sampek di situ aja." Tanya Cinta sambil memeluk Rizal.


"Kamar yuk, takut ada yg denger kalo di sini."


"Emang kamu dari mana dapetin uang itu? Kamu beneran cari thante thante sampek kamu gak mau ada yg denger?" Tanya Cinta Rizal hanya menggeleng kepala.


Cinta mengalah untuk ikut kekamar untuk mendapatkan apa yg dia ingin tahu. Setelah sampai di kamar, Rizal duduk di ranjang bersandar di kepala ranjang dengan Cinta menyandarkan kepala di dada Rizal.


"Pertama aku melihat lihat dulu harga kopi di sebuah toko yg kisaran antara 30 sampai 160 yg paling bagus. Nah aku belum tau jenis jenis kopi, mau Robusta Arabika Liberika Jamaika Jawa Gayo Excelen Kolombia Toraja Sumatra Kopi Lanang kopi Kintamani dan masih banyak jenis kopi lainnya. Aku bener bener belajar dari sana. Pertama aku mencoba untuk diskusi dengan papa, tapi papa seakan menyepelekanku. Akhirnya aku mencoba mencari investor di kalangan pebisnis. Tapi mereka sama seperti papa, karena belum bisa memastikan keuntungan yg pasti untuk mereka. Terpaksa ambil surat rumah papa dan aku gadaikan di bank. Aku pinjam sebesar 100jt. Baru aku berani beli mesin barista itu dan belanja yg lain. Sebesar 50juta sudah terpakai. Sebelum openingan aku menyebar selebaran di kampus bang Rama."


"Kamu ketauan gak sama bang Rama?" Rizal menggeleng.


"Pas itu bang Rama gak ngampus kayaknya. sampai saat opening tiba begitu banyak yg sudah mendatangi cafe. Karyawan ku semua itu pecinta kopi temen temen bang Arya. Aku mengadakan konser dadakan ternyata banyak yg tertarik dan tak sedikit yg menyumbang lagu. Sebulan di tambah uang sisa itu aku bisa mengambil sertifikat rumah papa dan mengembalikan ketempatnya. Bulan ke dua investor mulai berdatangan dan di bulan ke tiga opening cabang pertama dan di bulan ke 6 opening cabang ke 2. Dari ketiga cafe itu aku mendapat keuntungan yg lumayan, tapi aku harus berterimakasih dulu pada bang Arya. Aku membelikan rumah impiannya di kampungya seharga 200juta juga memberikan fasilitas rumah untuk teman temannya bang Arya yg sudah menemaniku mencapai titik ini. Dan tujuan utamaku ya itu kamu."


"Kamu menomer sekiankan aku dong." Pandangan Cinta menerawang.

__ADS_1


"Bukan menomor sekiankan kamu. Tapi aku harus bisa berterimakasih dulu pada orang orang yg sudah membantuku. Baru aku bisa memikirkan diriku sendiri."


__ADS_2