
Ciuman gemas Levin berubah menjadi lumatan yg memabukkan. Perlahan ciuman levin turun ke leher Queen yg terpampang jelas setelah Levin menyibakkan rambut Queen. Tangan Queen yg tadinya memeluk pinggang Levin. Kini beralih meremas rambut Levin yg bersamaan dengan turunnya ciuman Levin di dada Queen.
Malam yg sama dengan rembulan yg sama, namun tidak sama dengan keadaan di kamar lain dalam rumah keluarga Rizal. Billa tiba tiba mendengar suara suara aneh dari kamar kedua abangnya. Billa yg akan menghadapi mid semester besok merasa terganggu waktu belajarnya. Gak punya perasaan banget sih kalian semua ke gue, Gerutu Billa dalam hati.
Kamar Billa tepat di samping kamar Levin dan Queen. Dengan seperti itu, Billa benar benar jengkel dengan kegiatan malam ini. Billa mengacuhkan suara jeritan malam karena trauma dengan peristiwa di Bali. Billa memejamkan mata sebisanya dengan bantuan musik yg ia dengarkan melalui handset tanpa kabel miliknya.
Pagi sudah menghampiri, semua sudah berkumpul di meja makan katika Billa keluar dari kamar. Billa terlihat sangat kacau hari ini. Dengan mata sedikit menghitam dan wajah layunya.
"Kamu kenapa sayang?" Tanya Cinta khawatir.
"Ma, bisa Billa pindah kamar ke kamar Queen di kamar depan?" Tanya Billa lemas.
"Memangnya kenapa?" Tanya Rizal yg focus pada majalah bisnisnya.
"Kamar Billa kalo malam brisik pa. Billa lagi ujian. Gak bisa konsentrasi belajar." Jawab Billa membuat Queen tersedak tiba tiba.
__ADS_1
"Hati hati sayang." Cinta membantunya memberi minum pada Queen.
"Maaf Billa." Itu lah kata Ayu dan Queen berbarengan.
"Hahahaha, ya sudah kamu pindah saja ke kamar depan. Lagian kamu itu jam berapa sih belajarnya sampek denger suara brisik?" Tanya Rizal dengan tawanya.
"Baru jam sepuluh pa. Memangnya papa sama mama gak denger?" Tanya Billa pensaran.
"Jam segitu mama sama papa udah tidur Bill." Jelas Cinta dengan membantu Queen mengambil makanan karena Levin masih di ruang kerja Rizal.
Rasa sayang Cinta dan Rizal yg begitu besar pada Queen. Tak membuat Cinta keberatan melayani menantunya itu. Itu karena Cinta dan Rizal sudah memanjakan menantunya itu dari bayi. Membesarkannya dengan kedua tangannya. Begitu beruntung Queen mendapat mertua berasa orang tua sendiri.
"Levin makan dulu, nanti kamu sakit." Kata Queen menyodorkan piring berisi makanan.
"Mama tinggal ya, apa mau mama bawakan sarapanmu juga Queen?" Tanya Cinta dengan membelai rambut Queen.
__ADS_1
"Gak usah ma, biar nanti Queen makan di meja makan." Jawab Queen lalu Cinta meninggalkan mereka berdua.
"Bisa suapin? Soalnya ini harus selesai sebelum jam 10." Levin sibuk dengan berkas berkas kantor kakeknya.
Queen menyuapi Levin hingga nasinya habis dan bertepatan dengan selesainya kerjaan Levin. Rizal melihat betapa kerasnya sang anak bekerja. Di sisi lain Rizal juga melihat ketulusan Queen mengurus putranya meski dengan keadaan yg terbatas. Sungguh beruntung aku mendapatkan menantu menantu yg sayang dengan anak anakku. Rizal mundur dari tempatnya dia berdiri. Rizal memilih berangkat kerja sendiri dari pada merusak kemesraan putra putrinya.
"Vin, lo ada mata kuliah gak?" Tanya Queen yg kini sudah berada di meja makan bersama Levin dan Cinta.
"Besok baru ada, kenapa?" Tanya Levin yg kini gantian menyuapi Queen sarapan.
"Temenin ke salon, mau ganti warna rambut." Jawab Queen dengan melihat lihat majalah kecantikan.
"Mau ganti warna apa lagi?" Tanya Levin jengah.
"Mau warna coklat metalik ungu. warna yg baru ini. Jadi kalo di lihat sekilas warnanya coklat, tapi kalau kena sinar matahari atau sorot lampu berubah ungu gelap." Jelas Queen.
__ADS_1
"Terserah deh, Tapi kita kontrol dulu." Kata Levin yg tak pernah menolak permintaan Queen dari dulu.