
Setelah meeting dengan mister Jepang. Levin kembali ke cafe yg sudah di percayakan untuknya. Tak di sangka, papanya sudah menunggunya di sana. Papa mamanya menunggu di ruang kerjanya yg terdapat banyak plan plan selama sebulan ke depan. Rizal membaca sebuah berkas pembukaan cafe baru bersama investor dari Bali yg tak di ketahui oleh Rizal. Dan dari berkas itu terlihat perencanaan yg sudah matang dan hanya tinggal realisasi. Rizal bangga sih hanya tidak menyangka perkembangan putranya yg sangat cepat.
"Papa, mama. Kapan nyampek sini?" Tanya Levin kaget.
"Sepuluh menit yg lalu. Mama sama papa ke sini mau tanya masalah yg kamu mau ke Jepang." Rizal langsung ke pokok permasalahan.
"Kayanya itu di bahas di rumah saja lah pa. Biar semua gamblang dan gak menyudutkan siapa siapa." Jawab Levin
__ADS_1
"Gak perlu. Papa sama Mama cuma mau denger kejelasannya saja." Kata Cinta membuat Levin tak berani membantah lagi.
"Ma, pa. Mungkin mama sama papa gak tau. Tapi Levin mau mengaku kalau Levin saka Queen sudah saling mengakui perasaan sejak kelas 2 SMA. Dan Abang tau itu." Levin mulai bercerita.
"Terus kenapa kamu minta di tunangkan sama Ayu?" Tanya mama Cinta.
"Anak anakmu itu mas. Cinta gak mau ikut ikut." Kata Cinta yg sekilas teringat dengan rencana Rizal dulu.
__ADS_1
"Buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Tapi kenapa yg jelek jelek sih yg di ambil?" kata Rizal sambil mengacak rambut dengan kasar.
"Emangnya dulu papa juga mau kawin lari juga?" Tanya Levin
"Iya, dulu papa di jodohin sama Oma Ingrid. Papa gak suka, papa cintanya sama mama kamu. terus mama kamu juga membalas perasaan papa. Itu lah awal mula papa membangun cafe. Hanya untuk hidup bersama dengan mamamu. Papa gak mau mengajak mama mu sengsara. Jadi papa berusaha buat menjadi lebih pantas untuk mamamu. Sama kaya kalian, mencari cara untuk bahagia bersama pasangan masing masing." jawab Rizal.
"Papa gak marah kan sama Kliene dan Levin?" Kali ini Kliene angkat bicara yg entah sejak kapan putra bungsu Rizal ini berada di pintu ruangan kerja Levin.
__ADS_1
"Buat apa papa marah? Yg penting sekarang kalian harus memberikan kebahagiaan untuk mereka. Jangan sekali sekali kalian berani menyakiti hati istri kalian." Rizal menasehati putra putranya.