Sahabat?

Sahabat?
Season 2 Cafe


__ADS_3

Setelah pulang dari kompetisi, hari sudah gelap. Levin yg sedari tadi mengikuti sang istri kini beralih profesi, dari bodyguard kini jadi driver. Levin melajukan mobilnya dengan membawa ke 5 orang itu memasuki area masjid. Bertepatan dengan masuknya waktu sholat magrib, Levin mengajak teman temannya untuk istirahat sholat sejenak. Selesai sholat, Levin mengajak mereka makan di cafe milik keluarganya. Di cafe ini Levin kembali bertemu dengan Mario, orang kepercayaannya.


"Malem boss, boss mau makan?" Tanya Mario sopan.


"Mau makan, oh iya tolong layani meja yg di sana." Levin menunjuk meja lesehan yg berada di bale bengong depan.


Tanpa menyuruh staf yg lain, Mario sendiri lah yg melayani mereka. Meski jabatan dia di cafe ini sebagai supervisior. Mario tak segan segan melayani tamu agungnya. Mario bukanlah seorang yg gila pangkat maupun gila hormat. Dia sama seperti kakanya, Fendi yg selalu ramah dan baik pada bawahannya. Bahkan tak segan untuk membantu di manapun yg membutuhkan bantuannya. Tak jarang dia membantu di dapur dengan mencuci piring ataupun gelas. Rasa sigap sang spv pun kadang membuat karyawannya menjadi canggung dan sungkan.


Mario bukan lah orang yg di takuti meski berbadan tegap dan terkesan serem itu. Tapi Mario orang yg di segani karena sifat rendah hatinya. Tak jarang karyawatinya jatuh hati pada Mario saat tersenyum. Mario tetaplah Mario, seorang pemuda dengan segala ketampanan dan ke ramahannya. Tetapi dia takut sama yg namanya pacaran. Lebih tepatnya dia selalu canggung bila berdekatan dengan seorang cewek. Terlebih itu Alisyah, Seorang gadis cantik perawakan tinggi body bak model namun berjiwa preman. Ya Alisyah seorang gadis cantik namun tomboy. Dia memang tomboy tapi dia masih sering menggunakan dress maupun rok, Hanya jiwanya yg mungkin tertukar dengan kakak lelakinya yg lebih kemayu dan jago masak itu.


"Mario, lo masih belum berani buat ungkapin perasaan lo?" Tanya Levin saat berdua di dalam ruangan Mario.


"Gimana ngomongnya boss, tiap deket gemeteran dulu." Jawab Mario malu malu.


"Hahahaha, kalah cepet lo sama gue. Lo liat cewek yg rambut pirang sebahu yg jadi vocalis tadi? Itu yg lagi di depan makan." Jelas Levin.


"Iya inget boss. Itu pacarnya pak boss?" Tanya Mario yg mengingat gadis cantik yg telah membius lelaki saat manggung tadi.


"Bukan." Jawab Levin dengan masih membaca map di depannya.


"Terus? Apa maksdu pak boss kalah cepet?" Tanya Mario kebingungan.


"Dia istri gue." Jawab Levin yg kini sudah tersenyum di depan Mario yg duduk di sofa dekat pintu.


"Gilaaa, pantas saja boss dari tadi lihat dia terus. Bidadarinya ternyata." Goda Mario.


"Sialan lo, berani godain gue bonus lo akhir tahun ketahan gue gak tanggung jawab ya." Kata Levin sambil meninggalkan ruangan dan Mario yg hanya melonggo kaget.


Masih dalam ketidak percayaan, Mario mendengar petikan gitar nan syahdu. Terdengar samar samar suara yg mengalun indah yg membua dia penasaran. Saat dia keluar dan tak percaya dengan apa yg di lihatnya. Boss yg baru saja berbincang dengannya di ruangan yg baru saja di tinggalkan. Dengan seorang gadis cantik menurut boss nya itu menyanyikan lagu yg sangat lembut di rasa.


Teman cintaku.


Levin: Bahagianya diriku telah milikimu


Tak pernah ku meragu


Tak lagi ku mencari cinta selainmu


Takkan kutinggalkan kamu


Jika ku dapat menata jalanku


Kuingin kau selamanya denganku

__ADS_1


Engkau wanita tercantikku


Kuingin kau tahu


Maukah kau jadi teman cintaku?


Queen: Tak akan ku mencari cinta selainmu


Takkan kutinggalkan kamu


Jika ku dapat menata jalanku


Kuingin kau selamanya denganku


Engkau lelaki terbaikku


Kuingin kau tahu


Kuingin kau jadi teman cintaku


Jangan pergi dari hidupku


Tetap disini temaniku


Jangan tak setia padaku


Kau hanya untukku


Levin: Engkau wanita tercantikku


Kuingin kau tahu


Kau merubah warna hidupku


Queen: Engkau lelaki terbaikku


Kuingin kau tau


Kau merubah warna hidupku


Levin: Dan aku jatuh cinta kepadamu (kepadamu)


Tanpa batas waktu

__ADS_1


Maukah kamu jadi teman cintaku?


Mario terkejut setelah mendengar suara boss nya yg terlihat garang. Tatapan yg biasanya tajam bak pedang yg selalu ingin menancap di setiap orang. Mario tak percaya bahwa tatapan itu berubah sendu ketika memandang gadisnya tersenyum padanya.


Tepuk tangan yg menyambut di akhir penampilan mereka membuat Levin mengucapkan terima kasih. Levin dan Queen kembali ke meja dan bergabung dengan teman teman nya.


"Gak nyangka gue, anak bisnis ada yg memiliki suara emas. Selama ini kemana aja?" Tanya Ruli kagum.


"Ada di cafe setiap hari. secara kerjaan gue gak bisa di tinggal." Jawab Levin santai sambil meminum air mineral yg di pesan tadi.


"Percaya, pak boss gak punya waktu." Kata Ruli menjeda sebentar. "Tapi ni ya, gue jadi kepo ni, lo kan sibuk banget ya. Kok lo sempet sih nemenin kita di Bandung?" Tanya Ruli lagi.


"Demi orang terkasih apa sih yg enggak." Jawab Levin sambil melirik Queen yg sudah menunduk malu.


"Hebat lo Queen, Bisa gitu nundukin singa gila kerja." Kata Sonia sambil menepuk nepuk pundak Queen yg saat ini duduk di sebelahnya.


"Bisa aja, yg ada gue beruntung dia yg jadi laki gue. Terus di jagain 24 jam kaya gini buat gue ngerasa seorang istri tau. Kalo di Jakarta, setiap minggu yg ada gue tidur sendiri." Jawab Queen cemberut setelah mengembangkan senyumnya.


"Maksud lo. Kalian sudah menikah?" Tanya sonia lagi.


"Iya, baru juga dua minggu nikah." Jawab Queen senyum senyum.


"Terus kalo minggu emang laki lo kemana? gilir ke istri muda?" pertanyaan sonia kali ini mendapat pukulan dari Queen.


"Sialan lo, amit amit jabang bayi deh kaya gitu. mulut lo gak pernah makan pekek bismilah ya? Jelek amat yg keluar." Kata Queen jengkel.


"Gue nge DJ. jangan suuzon dulu lah." Jawab Levin sambil mengusap rambut istrinya.


"Ya maap, gue kira lo punya yg lain. Abis ambigu sekali omongan istri lo." Jawab Sonia polos.


"Hahaha, Sudah ah ayo ke hotel ngantuk gue." Ajak Ayub yg memang tidak tahan jika berlama lama meninggalkan kasur.


"Dasar kebo gitu dah. Abis makan tidur, besok lebaran qurban jadi incaran lo." Gerutu Robby yg sedari tadi.


"hahaha betul betul betul." Jawab Ruli menirukan ucapan upin dan ipin.


Semuanya beranjak dari duduknya dan berniat untuk membayar ke kasir.


"Maaf mas, makanan mas mas sama mbaknya gratis." Perkataan sopan dari sang kasir membuat Ruli kaget.


"Gratis? Kata siapa mbak? Jangan bercanda mbak." Kata Ruli tak percaya.


"Itu boss kami yg bilang makanan di meja mas gratis." Kasir cantik itu menunjuk ke arah Levin yg sedang berbincang dengan Mario.

__ADS_1


"Oh ya sudah mbak terima kasih."


__ADS_2