Sahabat?

Sahabat?
Season 2 Pergilah


__ADS_3

Cukup dua hari Billa di rawat di rumah sakit, Sedangkan Frizka masih enggan untuk pulang ke Jakarta dengan alasan mau bersama dengan suaminya. Salah sendiri Revan gak menceraikanku, ya harus bisa, hidup adil dengan dua istri lah. Batin Frizka menjadi lebih berencana untuk mengikat Revan.


Billa sudah terlihat sangat suram ketika baru turun dari mobil langsung melihat Frizka. Dengan mengenakan dress selutut yang memperlihatkan kaki jenjangnya yang mulus. Billa melihat ke arah kakinya yang sedikit besar dan pendek. Dada tak sebesar milik Frizka membuat Billa minder saat Revan memapahnya masuk ke dalam kamar.


“Billa, kita damai ya. Sekarang kita harus berbagi suami, mau gak mau” Kata Frizka manis - manis di depan Revan.


“Dih ogah.” Billa merapatkan pelukannya di tangan Revan.


Revan dan Vano hanya menggeleng - gelengkan kepala. Sedangkan Yuga tersenyum malu melihat kelakuan adik dari sahabatnya. Reyhan menghampuri Billa dengan bermanja di pangkuan Billa.


“Reyhan kangen sama aunty ya?” Tanya Billa pada anak kecil yang lagi bermanja di pangkuannya.


“Om Revan juga kangen lo aunty, gak pengen gitu manjain omnya?” Goda Revan seakan tak ada siapa - siapa di ruangan itu.


“Situ enak ada dua, sini pada jomblo.” Gerutu Vano yang membuat Billa mendapat ide untuk membuat hati seorang Frizka panas.


“BOleh dong sayang, sini peluk peluk kan aku juga kangen.” Billa memeluk Revan dari samping.


“Silahkan di teruskan, sekarang gua mau bantu Yuga nyiapin makanan. Lu mau ikut apa mau jadi nyamuk di sini Friz?” Tanya Vano yang tank mendapat jawaban dari Frizka.


Frizka berniat memasak makanan kesukaan Revan. Setau Frizka, Revan menyukai ayam goreng bumbu rempah. Dalam segi masakan Frizka jauh di depan Billa, gimana gak di depan. Jangan kan memasak, masak air aja bisa buat panci Cinta gosong.


Revan keluar kamar dengan membawa Reyhan yang sudah tertidur. Yuga yang masih sibuk memasak menjadi kualahan melihat putranya ternyata tidur di pangkuan aunty nya. Vano mengambil alih Reyhan dari tangan pak boss yang melihat Yuga sedang kerepotan.


“Kamu bisa masak juga Friz? Entar kamu masukin sianida lagi di makananku” ucap Revan tanpa memikirkan perasaan Frizka.


“Ide bagus itu, atau mau aku buatin oseng - oseng pluru? Sepertinya itu bisa buat mulutmu lebih manis padaku.” Frizka mengambil saos lalu memencet dengan menggoda Revan.


“Kalo mau aku bermulut manis padamu, Stop buat menghancurkan perusahaan.” Revan memanfaatkan situasi dengan sebaik mungkin.


“Aku bisa memberikan perusahaan lelaki tua itu untukmu, dengan satu syarat.” Frizka juga tak menyia - nyiakan kesempatan yang ada.


“Apa itu?”


“Pertanyaan bagus Revan sayang. Beri aku satu keturunan laki laki maka aku akan memberikan semua kekayaan si Tua bangka itu.”


“Maaf, kecebongku terlalu berharga untuk bersarang di tempatmu.” Ucapan Revan membuat Yuga hanya mampu menahan tawa sampai telinganya memerah.


“Kasian anak ku nanti punya emak modelan kaya kamu gini. Bibit unggul bisa menjadi tak berguna jika di tanam di tanah yang tandus. Sirami dulu lahanmu dengan air wudhu sana, biar gak gersang.” Revan beranjak dari dudukya menunggui istri pertama sedang masak.


Yuga yang terus menahan senyum pun akhirnya menumpahkan di kamar saat memanggil Vano yang tengah tertidur memeluk bayi kecil Reyhan.


“Sttt, ada apa sih?” Tanya Vano penasaran setelah membungkam mulut Yuga yang tertawa sedikit kencang di samping Reyhan.


“Itu si istri pertama minta jatah malah di suruh belajar sholat.” Yuga masih dalam tawanya.


“Ajari aku menjadi imam yang baik.” Vano menghentikan tawa Yuga.


Yuga menatap Vano dalam, mencari di mana sorot mata bercandaan. Nihil, Vano mengatakan dengan keseriusan dan dalam kesadaran penuh. Apa artinya ini? Apa dia melamarku? Apa dia ingin menjadi mualaf untuk kekasihnya di luar sana?


Batin Yuga terus bertanya tanpa mendapat jawaban yang jelas dari lelaki yang ini juga menatapnya. Yuga larut dalam pandangan Vano semakin mendalam. Tanpa terasa bibir keduanya telah bersentuhan. Yang tadinya hanya menempel, kini sudah berubah menjadi sebuah lumatan yang memburu dan menuntut balasan.


Yuga menikmati apa yang di dapat dari seorang Vano tanpa menyadari bahwa bos mereka sudah berada di samping mereka. Yuga dan Vano terlalu larut dalam ciuman mereka, sehingga tak mendengarkan Revan memanggil manggil mereka berdua dari pintu. Hingga akhirnya mereka melepaskan ciuman karena kehabisan nafas. Betapa kagetnya Vano juga Yura mendapati bosnya di samping mereka.

__ADS_1


“Buruan halalin. “ Itu lah kata yang terlontar oleh Revan sebelum meninggalkan mereka berdua.


Dangan rasa malu, Yuga dan Vano keluar kamar dan duduk terpisah di ruang makan. Revan hanyan memperhatikan kedua orang yang kini tengah menunduk seperti seorang maling ayam yang kepergok warga.


Meraka berampat makan bersama, Frizka melayani makan Revan. Yuga dan Vano mengambil sendiri sendiri. Revan tak mau ambil pusing lagi dengan apa yang terjadi barusan. Revan selesai makan langsung kembali kekamar yang di tampatinya bersama Billa.


“Revan, malam ini aku mau bermalam denganmu. Ini hak aku, kamu harus adil.”Revan lupa akan kewajibannya untuk adil pada kedua istrinya.


“Ya sudah, nanti aku akan ke kamar mu. Nunggu Billa tidur dulu.” Revan membuat Frizka kegirangan lalu pergi bersiap di kamarnya yang ada di samping kamar Billa.


Billa memang sudah tertidur saat Frizka mencari Revan untuk meminta hak nya. Tapi Billa merasa ada yang menyentuk lengannya pun terbangun. Billa menangis dalam diam, dia lupa jika dia bukanlah satu - satunya istri Revan. Dan ini adalah hal yang wajar untuk suami istri.


Dengan hanya menutup mata, Billa cukup memberikan kesempatan bagi pasutri yang sudah terpisah selama hampir sebulan. Sakit, memang sakit. Tapi Revan memang harus bisa memberi hak sang istri pertama.


Revan menyadari pundak Billa naik turun, Menandakan Billa tidak sedang tidur. Tetapi Billa sedang menangis dalam diam. Sepeninggalan Frizka, Revan membangunkan Billa dan meminta ijinnya selaku istri sahnya.


“Pergila, dia juga istrimu.” itulah jawaban Billa ketika Revan meminta ijinnya.


Revan memeluk Billa dengan penuh kasih sayang. Berbisik kata maaf, maaf untuk membagi dirinya bukan cintanya.


“Maafkan aku, aku bisa menolak jika kamu mau.” Revan mencium pundak Billa yang memunggunginya.


“Ini sudah menjadi risiko ku menjadi istri seseorang yang sudah beristri.” Jawab Billa dengan bibir bergetar.


“Aku bisa pastikan, Cintaku hanya untukmu. Maafkan aku.” Revan kembali mencium pundak Billa yang masih naik turun.


“Aku akan berdosa jika terus menahanmu seperti ini. Dengan memintamu menikahiku, aku juga harus sadar jika kamu itu harus berbagi.” Billa sedikit mendorong Revan untuk pergi.


Revan masuk ke kamar Frizka dan melihat pemilik kamar tengah mempersiapkan penyambutan yang terbilang sangat romantis. Tapi bagi Revan menganggap ini semua sebuah kelebaian atau hal yang sangat sia - sia.


Frizka mulai mendekati Revan yang masih di depan pintu. Kain tipis bermodel dres warna merah tak sanggup menutupi apa yang seharusnya tertutupi. Warna kulit yang sangat kontras dengan warna merah cabe membuat seorang lelaki tergoda. Namun Revan malah harus berusaha lebih keras untuk menghidupkan sesuatu karena hatinya tak menginginkan.


Tanpa menunggu lama lagi, ketika sudah mode on. Revan menunaikan kewajibannya. Entah bagaimana rasanya melakukan hubungan tanpa cinta. Revan membiarkan Frizka memegang kendali, dengan menutup mata dan bahkan meneteskan air mata. Revan merasa dirinya berhianat terhadap Billa. Bahkan sampai saat ini pun wanita yang telah di nikahi secara sah itu, belum pernah di sentuhnya.


Hampir satu jam akhirnya pergulatan batin dan pergulatan bersama istri pertamanya itu mencapai puncak. Revan memilih membuang aset yang di tunggu - tunggu semua wanita sebagai bibit unggul. Revan berjanji dalam diri jika dia tidak akan menghamili siapapun selain Billa.


Revan menggunakan pengaman dengan alasan bahwa dia sering melakukan hubungan dengan banyak wanita selama di Jerman. Revan segera meraih handuk dan pergi dari kamar Frizka dngan terburu - buru. Frizka yang tertidur karena lemas pun tak menghiraukan Revan lagi.


Di kamar Billa, Revan langsung mandi, menggosok seluruh badannya dengan semua sabun yang ada di dalam kamar mandinya. Bahkan Revan menggunakan sabun milik Billa yang beraroma melati. Setelah mesarakan aroma Billa yang melekat di tubuhnya, Revan menyudahi mandinya.


Revan mengambil baju tidurnya dan memakai parfun Billa untuk menghilangkan aroma wanita yang di nikahinya secara siri. Revan memeluk Billa yang tengah tidur memeluk guling. Billa terbangun karena merasakan dinginya tangan Revan dan rambut basa yang menempel di tengkuknya.


“Kenapa kamu balik ke sini?” Pertanyaan yang tak ingin di jawab oleh Revan.


“Biarkan aku tidur di pelukanmu, biarkan aku hanya merasakan tubuhmu.” Revan masih memeluk Billa dari belakang.


Pagi sudah menyapa, Billa tak bisa melepaskan pelukan Revan. Dari setelah sholat subuh, Billa dan Revan memang tidak tidur lagi. Melainkan menikmati pemandangan di luar kamar Billa dengan Revan mendudukkan Billa di pembatas teras lalu memeluknya.


Revan memeluk Billa dengan menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Billa. Tanpa melakukan apapun atau sekedar berbicara. Dalam diam, Billa dan Revan seperti dua orang yang tengan melakukan kesalahan.


Revan sama sekali tak melepaskan pelukannya, Posisi berdiri di hadapan Billa dengan bersandar pada Billa.


“Kuat sekali lu berdiri kaya gini Van, Ini sudah hampir dua jam lo kamu berdiri kayak gini,” ucap Billa mengelus rambut belakang revan.

__ADS_1


Tanpa mengatakan apapun Revan mengambil kursi plastik di samping kamar mandi. Revan duduk di hadapan Billa dan kembali memeluk Billa. Menenggelamkan wajahnya di perut rata milik istri sahnya.


Billa membiarkan saja kelakuan suaminya hingga revan sendiri yang mendengar suara perut Billa. Merasa malu, Billa hanya menutup mukanya dan membuat Revan semakin gemas.


“Maafkan aku sudah membuatmu menangis. Aku gak bisa membuatmu bahagia dengan menikahimu. Hukumlah aku jika itu membuatmu puas.”


“Bisa menjauhi aku sebulan?” Revan menggeleng dalam perut Billa


“Seminggu?” Revan masih menggeleng.


“Sehari?” Billa ikutan menggeleng seperti Revan


Mendengar Billa menghelana nafas berat. Revan langsung menatap Billa dengan tatapan penuh harapan.


“Jangankan sebulan, seminggu atau bahkan sehari. Sedetikpun aku gak mau menjauhimu. Lebih baik bunuh aku, Sudah cukup kau membunuh hatiku dengan menikahi Sandi.” Ucapan Bucin Revan membuat Billa merasa geli.


“Sini ambilin pisaunya.” Billa menggoda Revan yang masih menatap dirinya dengan sedikit senyuman pilu.


“Serius?” Itulah pertanyaan gtak percaya Revan untuk Billa pertama kali


“Iya, mau di tusuk di sebelah mana?” Billa sedikit membulatkan mata sipit khas orang Indonesia yang terinspirasi dari mata Rizal.


Biar sipit mata itu mampu membunuh siapapun yang bersalah padanya. Mata sipit yang mampu membuat lelaki luluh karena tatapan polosnya. Sumpah polos, sampai ingin memolosi pemilik matanya.


 


 


 


 


IKLAN


 


Cinta: ooooohhhhh baru ketauan sekarang siapa yang gosongin panci ku.


Billa: maaf Maaaa


Cinta: gantiiiii!!!!


Billa: minta Revan sana ma.


Cinta: Minta apa sama Revan? minta Cucu?


Billa: isss mama, Billa lagi sakit hati maaaa.


 


huuuuuaaaaaaaaa author jahaaaaatttt


penulis: tidur Bill ngantuk gua.

__ADS_1


__ADS_2