
Keadaan Rizal semakin membaik dan di perbolehkan untuk pulang. Namun Queen masih tetap tidak mau kembali ke keluarga Rizal. urusan pekerjaan sudah di ambil alih oleh Levin dan di bantu oleh Kliene. Kliene sudah mulai belajar masalah cafe dengan adiknya. Sepulang sekolah setelah mengantar Ayu pulang, Levin dan Kliene bekerja sampai tutup cafe.
Cafe yg saat ini sudah belasan yg berdiri. makanya Levin tidak bisa mengatasinya sendiri. Apalagi saat Fendi orang kepercayaan papanya itu libur. Sudah pasti Levin maupun Kliene akan keliling sendiri sendiri. Bulan bulan mendekati ujian kelulusan pun tiba. kliene maupun Levin mencuri waktu belajar sambil menjaga cafe. Sedangkan Queen dan Billa belajar bersama sebelum akhirnya Queen pulang ke rumah maminya yg lumayan jauh jaraknya dari rumah Rizal.
Rizal dan Cinta merasa sangat kasihan dengan nasip putrinya yang pertama. Sepertinya hidupnya sekarang berbanding terbalik dengan kehidupannya sebelumnya. Angel yg sudah di tipu mentah mentah oleh mantan suaminya. Dia memutuskan untuk menjanda dan tidak menikah lagi.
"Queen, sekarang hujan deras Lo sayang. tidur di sini ya, Mama mohon. Untuk malam ini saja." Cinta meminta pada Queen yg sudah mulai merapikan buku bukunya.
"Tapi ma, mami sendirian kasian. besok juga mami jualan ke pasar gak ada yg bantuin bawa dagangan." Jawab Queen membuat hati Cinta teriris melihat pengorbanan Queen untuk tetap hidup bersama maminya.
"Ya Allah nak, mama makin gak tega memberikanmu pada mbak Angel." Kini Cinta memeluk Queen.
"Kalo Queen di sini ma, Queen artinya melepas tanggung jawab Queen sama mami. Saat ini adalah saat dimana Queen bisa berbakti pada mami. Queen pengen berbakti pada orang tua mi. Sampai nanti waktunya Queen harus lebih berbakti pada suami Queen."
Deg
Ucapan Queen membuat jantung Cinta seakan menolak perkataan Queen. Queen benar, dia harus berbakti pada orang tuanya. sedangkan dia hanya orang tua angkat tapi sudah merasakan kebahagiaan selama 17 tahun hidup bersama dengan putrinya yg kini sudah menjadi gadis.
Levin datang dengan tubuh basahnya karena menaiki motor. Sedangkan Kliene menaiki mobil papanya. Karena mereka selalu berbeda jalur makanya mereka membawa 2 kendaraan.
"Queen mau kemana Lo ujan deras gini?" Tanya Levin saat bertemu dengan Queen di ruang tamu.
"Mau pulang Vin, kasian mami sendirian." tanpa pikir panjang Levin langsung mengambil kunci mobil di tangan abangnya.
"Gue anter."
"Tapi baju Lo basah Vin, gue naik taksi aja."
__ADS_1
Tanpa di minta, Billa sudah mengambilkan kaos dan jaket hangat untuk abangnya.
"sekarang sudah gak basah. gue anterin Lo balik."
"Gue naik taxi aja Vin, lagian ini juga masih jam 8. jangan terlalu posesif sama gue."
"Lo mau gue anterin balik ato Lo mau gue kurung di kamar?" Penyataan Levin membuat Queen mengalah untuk di anterin pulang.
Selama di perjalanan pulang. Levin maupun Queen tak ada yg membuka mulut sampai di depan rumah Queen. Queen sudah terbiasa dengan kediaman Levin setelah kejadian potong rambut itu. Sampai Queen masuk ke dalam rumah, Levin masih menunggu di dalam mobil. Levin melajukan mobinya setelah memastikan Queen berada di dalam rumah.
"Sayang, bagaimana keadaan rumah Queen sekarang?" tanya Cinta saat Levin datang.
"Biasalah ma rumah kontrakan di daerah kota. bagus tapi gak begitu besar. rumahnya juga adem." Kata Levin yg senernya hanya tau luarnya saja.
"Ma Levin mau ngomong sesuatu sama mama." kata Levin yg kini sudah di dalam kamar bersama mamanya.
"Ma, Levin suka sama cewek. dan Levin yakin kalo dia juga menyukai Levin. Niatnya Levin gak mau main main sama cewek ini. Bisa mama meminta dia untuk Levin?" Kata Levin serius pada mamanya.
"Iya ma. Ayu Anggia Pradipta. dia anak dari seorang pebisnis yg terkenal dikota ini. Anaknya baik santun juga pintar ma." Levin mengenalkan Ayu sekilas pada mamanya.
"Putri siapa dia?" Cinta merasa senang juga sedikit sedih.
"Pak Prabowo Hadinata. pemilik perusahaan furniture terbesar di kota ini." Jawab Levin.
"Mama mau memintanya untukmu tapi tunggu abangmu saat kau mau menikahinya." Kata Cinta menyetujui permintaan putranya.
"Iya ma, dia juga mau kuliah dulu katanya."
__ADS_1
Cinta meninggalkan Levin dan beralih ke kamar Kliene putra pertamanya. Di sana Kliene sedang belajar untuk menghadapi ujian yg akan di laksanakan 2 hari lagi.
"Bang, mama boleh masuk?" Tanya Cinta
"Masuk ma. ada apa mama tumben formal sekali." Tanya Kliene
"Gini Kliene, adikmu meminta mama sama papa untuk melamar Ayu." Mendengar itu Kliene tiba tiba mematung seperti ada yg tak ingin di kerjakan tapi pasti harus di lakukan olehnya.
"Terus ma? Kan bagus dia bisa lebih bertanggung jawab nantinya." jawab Kliene.
"Tapi papamu kepingin salah satu dari kalian untuk menikahi Queen." Perkataan mamanya membuat perasaannya terjawab.
"Tadinya Levin lah yg di pingin papamu untuk membawa Queen kembali ke keluarga ini. Tapi Levin ternyata punya pilihan lain. Jadi kamu harapan papa dan mama yg terakhir. Kliene Queen itu salah satu kekuatan papamu. ibarat kursi kalian berempat lah kaki yg menyanggah kursi papamu duduk. sedangkan mama hanya sandaran yg memberikan kenyamanan di saat papamu lelah dengan semua ini. Kalau salah satu kaki kursi itu hilang maka papamu akan terjatuh sayang. bahkan kita semua juga pasti akan patah karena jatuhnya papa." terang Cinta pada anaknya.
Levin yg tak sengaja mendengar pun merasa bersalah sudah mengatakan perasaannya pada mamanya. Levin merasa tak bisa berbakti demi keinginannya sendiri.
"Iya ma, Kliene akan menikahi wanita pilihan mama sama papa. Kliene menerima Queen tapi Kliene masih bisa kuliah kan?" Tanya Kliene yg terlihat lebih bahagian.
"Apa kamu cinta sama Queen?" Dengan malu malu Kliene mengangguk dan tersenyum.
"Hey, benarkah anak mama sudah kenal cinta semua?" Goda Cinta pada putra sulungnya.
pyarr
Gelas yg di bawa oleh Levin jatuh karena kaget mendengar pengakuan abangnya. Entah apa yg di rasakan oleh Levin. Levin meninggalkan gelas pecah itu di lantai depan kamar abangnya. Levin lebih memilih untuk kembali ke kamarnya.
"Kenapa harus Abang? Kenapa mama tidak mengatakan apa-apa dulu sebelumnya padaku." Kini Levin memecahkan kaca yg ada di depannya.
__ADS_1
Levin marah marah sendiri tanpa tau apa penyebabnya. Pikirannya tak mampu dia kendalikan sekarang. Levin duduk di lantai sambil memeluk kakinya dan bersandar di tempat tidurnya.
Mendengar benda benda dalam kamar Levin pecah. Kliene menggedor gedor pintu kamar Levin. Levin tak menjawab dan hanya membiarkan teriakan abangnya. Levin memilih untuk tidur setelah puas meluapkan amarahnya.