Sahabat?

Sahabat?
Season 2 Stevano Abigil


__ADS_3

Frizka Sandi datang terlambat saat mengantarkan kepergian Billa ke Jerman. Keluarga Billa semua ikut mengantar hingga ke bandara. Tanpa Aris Billa melangkah kedepan meraih cita citanya. Billa mau membuktikan bahwa Cinta dan sayang tidak akan pernah menghalangi seseorang untuk mewujudkan mimpinya. Di dalam pesawat, Billa memandangi layar handphone yang menampilkan gambar dirinya dengan sang pencuri hati dengan gaya bebek merem. Buliran air mata Billa lolos dalam senyuman.


"Gue benci sama lu Riz, lu bener bener gak bisa di hubungi. Entar kalo lu ngambeknya lama gue bisa cari bule lo." Gumam Billa dalam tangisannya.


Di bandara Frizka menangis sejadi jadinya. Kepergian Billa membuatnya terpukul dan mengalami drop dan segera di larikan ke rumah sakit. Kondisi Frizka kritis karena penurunan daya tahan tubuh. Biasanya hal ini terjadi karena tidak adanya semangat hidup dari pasien itu sendiri. Sandi memutuskan untuk membawa Frizka berobat ke Singapur. Tak banyak yang bisa di lakukan Sandi maupun keluarga jika pasien sendiri sudah tidak memiliki semangat untuk hidup. Tapi Sandi ingin mempertahankan hidup Frizka dengan memberikan pengobatan sebaik mungkin.


Billa akhirnya tiba di negara yang menjadi tempat tinggal Presiden ke 3, ** Habibie. Billa memasuki sebuah apartemen yang di belikan oleh Levin karena merasa tidak cocok dengan asrama putri di kampus yang di tuju Billa. Billa mengawali hidupnya dengan belajar dan berusaha untuk bertahan hidup di negri orang. Billa belajar bahasa orang setempat agak bisa berkomunikasih dengan masyarakat sekeliling.


Billa tidak membuka hp sama sekali hingga kini sudah seminggu. Billa fokus belajar dan bekerja paruh waktu untuk makan sehari hari di sebuah restoran yang tak jauh dari tempat dia tinggal maupun menuntut ilmu.


Billa mendapatkan seorang teman asal Indonesia, tepatnya orang Bandung yang juga menuntut ilmu di kampus Billa. Stevano Abigil adalah nama teman baru Billa. Stevano blasteran Italia Bandung beragama Kristen yang untungnya mampu memberi toleransi pada Billa yang seorang muslim.


"Bill lu tau gak minggu depan itu memasuki musim panas? Dan kita dapat libur musim panas. Lu mau pulang atau kerja? Kita boleh kok balik lagi kerja setelah pulang kampung."

__ADS_1


"Sorry sorry to say ya Van, gue gak punya kampung. Gue lahir asli kota." Sombong Billa pada Vano panggilan mesrah Billa jika semua teman teman memanggil nama Stevan.


"Anjirrrr songong juga lu jadi orang kota." Kata Vano yang tak trima perkataan Billa.


"Gue ngomong kenyataan Van, emang lu mau pulang ke Bandung?" Tanya Billa sambil memakan sarapannya.


Setiap hari Billa memang sarapan bersama dengan Vano yang tinggal tepat di samping apartemen Billa. Ingetkan Billa bukan orang yang bisa menyentuh alat alat dapur? Bahkan saat pertama masuk kerja, Billa di suruh cuci piring sebanyak 5 biji yang pecah adalah 6 biji. Bossnya sempat marah dan bertekad memecat Billa tanpa pesangon. Namun karena Billa jago merayu akhirnya kini dia masih kerja di restoran itu namun dengan janatan tinggi yaitu kasir. Billa yang pandai, menunjukkan kemampuannya dalam berhitung untuk mendapatkan pekerjaan. Bahkan untuk merekab pendapatan atau semua yang berbau menghitung di serahkan pada Billa. Dengan gaji double tentunya.


"Gue mau ke Itali, kerumah Papa. Lu mau ikut?" Tanya Vano mengambil piring kotor milik Billa.


"Boleh lah, tapi tiket tanggung sendiri." Jawab canda Vano.


"Jangan kaya orang susah deh lu Van. Lu tau gue di kirim keseni dengan modal pas pasan, masak lu yg nawarin gue ikut malah nyuruh gue beli tiket sendiri sih?" Kata Billa merajuk.

__ADS_1


"Ya kan gue cuma manis manis di bibir doang Billa. Mana cukup duit gue bayarin lu." Kata Vano sambil tertawa saat mencuci piring Billa dan dirinya makan barusan.


"Jahatnya dirimu Van, gak usah di manis manisin tu bibir juga udah keliatan manis kayaknya." Kata Billa ambigu.


"Lu mau nyoba?" Vano mendekati Billa yang duduk di ruang makannya.


"Ogah mulut lo bau trasi, barusan lu makan sambel trasi." Jawab Billa asal.


"Menghina lu ya. Sini cobain dulu, wangi kali bukan kaya mulut lu bau naga." Giliran Vano mengejek Billa.


"Udah tau bau naga, masih aja nawarin." Jawan Billa kesel sambil melenggang pergi.


"Mau kemana woi?" Teriak Vano karena Billa sudah di balik pintu.

__ADS_1


"Pulang, ngantuk gue." Jawab Billa dengan teriakan pak ang tak kalah kenceng dari Vano.


__ADS_2