Sahabat?

Sahabat?
Season 2 Bukan pelakor tapi menikahi suami orang


__ADS_3

Setelah makan malam bersama keluarga besar Billa. Revan mendapat siraman rohani dari kedua abang dan juga papa Billa. Kuping Revan sudah terlihat panas karena mendapat wejangan tanpa di sangka - sangka. Tapi Billa malah asik bermain di kamar si kembar tiga.


“Sekarang bagaimana dengan keputusan kamu? Yang jelas, untuk malam ini Billa akan tinggal di sini.” satu kalimat yang terlontar dari bibir manis mama mertua membuat Revan panas dingin.


“Lu laki Revan, tapi kok elu gak bisa tegas ya? Ganti pakai daster sana.” Celetukan Ayu sngguh sangat menyakiti telinga Revan.


“Sudah lah, jangan di perpanjang lagi. Ini masalah Billa dan Revan. Biar Billa yang memutuskan harus bagaimana.” Billa dengan tegas menghetikan keluarganya untuk memojokkan suaminya.


“Terus kamu maunya bagaimana Billa?” Tanya Levin


“Billa minta cerai dari Revan.” Dengan tegas Billa mengatakan di hadapan keluarganya.


“Kamu gilla Bill?” Revan sepertinya tidak terima dengan keputusan yang di ambil oleh Billa.


“Van, sekarang pikir, Wanita mana yang mau di sebut sebagai pelakor selamanya?” Jawaban Billa sungguh membuat kaget semua orang.


“Kamu bukan pelakor Billa.” Kini Revan mencoba menenangkan hati sang istri.


“Bukan plakor, hanya menikahi suami orang.”


Billa kali ini tak terlihat sedang bercanda. Levin sebagai kakak dan orang yang paling dekat dengan Salsabilla sang adik pun, tak bisa berkata banyak.


“Bill, aku menikahi mu dengan cinta dan dengan sepenuh hatiku. Ya meski sampek saat ini kamu masih belum bisa mencintai aku. Aku tidak pernah mempermasalahkan itu.” Revan memncoba mengambil hati istri tercintanya.


“Inget istri pertamamu.” Billa terus mengingatkan Frizka dalam setiap akhir perdebatannya dengan sang suami.


“Aku sudah menceraikannya dulu. Dan aku tidak mencintai dia sama sekali. Aku gak akan mau menceraikanmu sampai kapan pun.” Tegas Revan melawan Billa.


“Inget Billa, Agama tidk pernah menganggap kata cerai dari seorang istri dan saya sebagai suamimu merasa tidak pernah melanggar ajaran agama. Dan masalah poligami, saya tidak pernah merasakan hal itu saat ini. Hanya kamu satu satunya istri saya.” kata Revan lagi.


“saya sudah mendapatkan tanda tangan Frizka dan hanya tinggal menyerahkan ke pada pengadilan agama. Saya sudah menyerahkan semua pada pengacara.” Jelas Revan tanpa memberi kesempatan Billa untuk mengatakan apapun lagi.


“Gak ada namnya pelakor atau apa lah. kamu ya kamu, istri sah ku satu satunya.” Revan masuk ke dalam kamar Billa.


Billa yang terdiam di tempat hanya mampu memandang pada anggota keluarganya yang juga memandang ke arahnya.


“Billa harus apa sekarang pa?” Tanya Bila saat Rizal sudah memeluknya.


“Temui suamimu, dan mintalah maaf padanya. Anggap semua ini tidak pernah terjadi.” Rizal memberikan wejangan pada sang putri.


“Billa….” Ayu menggantung kan kalimatnya. “Semangat” sambung Ayu dengan menunjukkan kepalan tangan di bawah dagunya.


“Ck,” Billa hanya berdecak sebelum meninggalkan keluarganya di ruang keluarga.


“Mama, intip Billa yuk,” Ajak Ayu pada mamanya.


“Ayok,” jawab Cinta bersemangat.


“Kalian mau kemana? Diem di sini.” Rizal menghentikan istri dan menantunya.


“Iya pa,” Jawab Cinta dan Ayu bersamaan dan kembali duduk.


***


Di dalam kamar Billa melihat Revan tidur dengan menumpangkan tangan kanannya di atas kepalanya. Dengan sepatu masih menempel di kakinya. Billa melepas sepatu Revan lalu menyelimuti tubuh suamunya setelah melepas ikat pinggang dan membuka beberapa kancing kemejanya.


Billa ikut merebahkan diri di samping lelaki yang tak mau melepaskan dirinya bebas menjanda lagi.

__ADS_1


“Secinta itu kah kamu Revan?” pertanyaan Billa yang langsung di jawab Revan


“Iya,” ternyata Revan belum tidur sepenuhnya.


“Kenapa kamu memilih aku?” pertanyaan yang tak seharusnya di pertanyakan lagi.


“Gak ada alasan buat aku jatuh cinta. Ya karena cinta itu memang tidak pernah memberikan alasa apapun.” Ucapan Revan berhasil membuat seorang Billa luluh hatinya, namun masih memunafikkan hati.


“Revan, aku hanya ingin bahagia yang tak terbagi,” ucap Billa dengan membelai wajah yang telah menikmati keindahan milikya.


“Kamu ingin bahagia? Maka bahagia lah. Karena aku tidak pernah membagi dengan siapapun. Kamu yang menyuruhku dan berniat meninggalkanku,” ucap Revan yang mengingat kejadian dimana Billa meminta dirinya menggilir Frizka.


“Aku jahat.” Billa berbisik dengan masih membelai wajah tampan di depan matanya.


“Dan aku egois.” Revan melanjutkan ucapan Billa.


"Kita perbaiki bersama ya, jangan sampai ada orang ketiga masuk dalam hubungan kita lagi. Aku ingin memiliki anak dari mu. Seperti bang Levin dan Kliene.” Revan membelai rambut Billa dengan mesrah.


Billa hanya membalas dengan senyuman, harapan hanya sebuah harapan. Revan tak bisa berkata apa lagi. terutama  memaksa Billa untuk mengatakan cinta padanya.


Pagi menyapa, tak lupa Billa menjalankan kewajibannya. Menmbuatkan jus buat Revan sebelum membangunkan sang suami untuk sholat subuh berjamaah berdua.


“Billa, aku kepengen melihatmu mengenakan hijab. Aku yakin kamu pasti tambah cantik,” Revan menutup kepala dengan selembar kerudung yang entah dari mana Revan mendapatkan kerudung itu.


Billa yang mengenakan kemeja biru di tambah dengan celana kain panjang warna hitam senada dengan blazer lengan panjang miliknya. Billa mengenakan hijab pemberian sang suami dengan senang hati.


Aku terlanjur cinta kepadamu


Dan t’lah ku berikan seluruh atiku


Dua baris lagu Rossa dan Ungu pun mampu membuat Salsabilla tertunduk malu.


 Billa mencoba melanjutkan lirik dari lagu Rossa dan Unggu, namun kembali di sahut oleh Revan


Apa yang ku genggam tak mudah untuk aku lepaskan.


Aku terlanjur cinta kepadamu


Dan t’lah ku berikan seluruh hatiku,


Kembali Billa menunduk menahan rasa malu. Revan melihat Billa menjadi semakin gemas dan tak segan mencubit pipi Billa.


Billa dan Revan keluar kamar. Mereka berdua berhasil mengejutkan seisi rumah dengan penampilan barunya. Billa memang terbilang wanita yang manis, tetapi hijabnya menambah kadar kecantikannya naik beberapa level.


Mulia indah cantik berseri


Kulit putih bersih mereh di pipimu


Dia Aisyah putri Abu Bakar


Istri Rosullullah


Goda Ayu dari dapur dengan membawa centong sayur.


“Apan coba, gak nyambung lagi mbak.” ketus Billa menanggapi nyanyian fales Ayu.


“Sumpah lu cantik banget.” goda Ayu lagi yang terpanah dengan kecantikan Billa.

__ADS_1


Revan tersenyum melihat wajah merah istrinya yang tengah menahan malu. Rasa gemes harus di tahan oleh Revan hingga dia berangkat kerja mungkin. Billa sungguh cantik yang menyejukkan hati Revan.


Setelah begitu banyak godaan dan pujian untuk putri satu satunya keluarga Rizal. Billa dan Revan berangkat kerja bersama.


Hanya membutuhkan waktu tiga puluh menit. Revan dan Billa sampai di gedung yang terdapat dua puluh lima karyawan itu. Billa langsung melihat pemandangan yang menyakitkan mata.


Frizka sudah di depan pintu masuk dengan beberapa orang di sampingnya. Revan mendekati frizka dengan beberapa orang di depan pintu.


“Maaf, ada apa ini ya?” Tanya Revan dengan sopan.


“Apa benar bapak menceraikan clian kami tanpa persetujuan?” Tanya salah satu lelaki bertubuh buncit di samping Frizka.


“Benar, karena saya sudah mengajukan dari beberapa tahun yang lalu. Tapi ternyata tidak di proses juga. Dan sekarang saya menceraikan dia secara resmi. Dan saya juga sudah mendapat suratnya pagi ini.” Jawab Revan dengan tegas.


“Gak bisa gitu dong Revan, aku gak mau cerai dari kamu. Dan aku masih istri pertama kamu.” Kini Frizka menentang Revan dengan kekeh mempertahankan statusnya.


“Aku tidak mau, Istri saya hanya Salsabilla. Satu satunya dan tak akan aku duakan lagi. Dan kamu silahkan pergi, biar kamu gak setuju dengan keputusan saya ya terserah. Yang terpenting sekarang, aku sudah tak ada hubungan apapun lagi dengan kamu.” Revan menggandeng Billa masuk ke dalam kantor.


Frizka menatap Billa tidak terima, dengan perlakuan yang di terimanya. Revan ternyata memang hanya mencintai Billa, itulah kata yang terdengar dari beberapa karyawan kantor.


Dengan bangga Revan membawa Billa masuk ke dalam ruangannya.


“Jangan pergi dari sini, aku membutuhkan mu saat ini Billa.” Revan menundukkan kepalanya bertumpu di pundah Billa yang duduk di meja kerja Revan.


Aku gak akan pernah meninggalkan mu lagi, suamiku. Hati Billa terus mengatakan sumpah dan janji yang membuat dirinya tersenyum geli sendiri. Billa memanjakan Revan seharian penuh. Billa tak di ijinkan keluar ruangan sama sekali jika tidak dengan dirinya.


Revan merasa mendapatkan kehidupannya kembali. Rasa lega setelah melepaskan Frizka pun di rasakan Billa dan Revan. Tanpa kata, tanpa perlakuan yang special. Billa dan Revan betah berlama lama di dalam ruangan.


Bahkan Billa dan Revan melewatkan jam makan siang. Vano dan Yuga hanya menggeleng - gelengkan kepala mereka melihat kelakuan boss dan tmannya ini.


“Bagaimana lu bisa cepet hamil Bill jika kalian selalu menyibukkan diri. Inget umur kalian itu sudah waktunya memiliki anak. Jangan terlalu gilla kerja. Mengerti.” Yuga menesehati boss dan adik dari sahabatnya yang gilla kerja.


“Kan mumpung belum punya anak juga,” ucap Revan dengan santainya mengambil bungkusan yang di bawa oleh Yuga dan Vano.


“Ngawur ih bapak, Kalo kecapek an, gimana bapak ma Billa bisa punya anak?” Omel Yuga pada boss nya.


“Emang ngaruh?”tanya Billa


“Kalo kalia capek terus, itu kecebong nye kkagak ada yang punya ekor. Lu mau gak punya baby sampek tua? Kerja aja terus.”  Yuga mulai gemas dengan pertanyaan - pertanyaan Billa yang tak percaya.


"Mendingan lu Tanya aja deh sama kakak juga mama lu. Kan mereka dokter, mereka lebih tau.” Usul Vano yang di setujui oleh Yuga.


Mereka berempat lunch di jam tiga sore, di dalam ruangan kerja pula.


Sore menjelang, Billa dan Revan memutuskan untuk pulang ke rumah orang tua Billa. Selain mereka mau menanyakan tentang kehamillan. Billa juga masih kangen dengan suasana di rumahnya.


 


 


 


Ada yang setuju kalau Billa di buat Hamil????


Kalau Yuga juga hamil gimana?


Bantu penulis dengan vote, like dan juga koment yan. Unuk penambah semangat dalam menulis. Percayalah, satu like dari kalian. Sama dengan satu obat penghilang rasa apek. dan satu sapaan dalam komentar, sama dengan satu inspirasi untuk penulis.

__ADS_1


Terima kasih


Siti Aisyah


__ADS_2